Kasih-Mu yang paling murni
Y.M.Y. Vilnius, 4 Februari 1935. Retret Delapan Hari

Yesus, Raja Kerahiman, sekali lagi tiba saatnya aku akan sendirian bersama-Mu. Oleh karena itu, aku mohon kepada-Mu, demi segala kasih yang membakar Hati-Mu, untuk menghancurkan sama sekali cinta diri yang masih ada dalam diriku dan di lain pihak untuk menyalakan dalam hatiku kasih yang paling murni.

Kasih inilah yang kutemukan, kualami, kurasakan sepanjang hidupku teristimewa dalam tahun ini, hari demi hari sampai penghujung tahun ini. Sungguh, kasih murni dari dari Allah, saja dan kasih inilah yang memungkinkan dan menjamin seluruh hidupku. Karena itu, apa pun suka dukaku, apa saja kelemahan dan kerapuhanku, kepapaanku, kasih Tuhan yang murni yang selalu merengkuh dan menenangkanku untuk berani melangkah di setiap hari baru sampai hari ini.

Aku tahu dan sadar sedari dulu, juga tiap-tiap hari sadar, betapa cinta diri yang bercokol dalam diriku tak pernah hilang, kadang dia seolah tertidur, atau berjaga atau sedang berkobar-kobar sehingga melemahkan cinta kasihku yang kuperjuangkan saat demi saat. Tidak mudah untuk mendiamkan aksi cinta diri atau menjinakkannya meski aku tahu caranya. Benar, kata Faustina, cinta diri harus diletakkan di tempat paling rendah. Meski demikian selalu saja dia menampakkan diri. Saya harus mengakui bahwa cinta diri itu adalah diriku yang kubawa sampai mati.

Terpujilah Tuhan Allahku yang maha rahim, yang tidak melihat di mana aku tempatkan cinta diriku itu, tetapi yang selalu saja menebar pesona kasih-Mu yang paling murni dan asli. Aku berjuang menujukkan pandanganku pada kasih-Nya yang murni yang menarik aku dengan kuat ke arah-Nya dan memapah aku penuh kasih saat aku jatuh agar aku kembali.

Aku dimurnikan dengan kasih-Nya yang murni. Aku dapat bertahan karena kasih-Nya yang murni. Ketika aku belajar menatap kasih-Nya yang murni pada saat yang sama aku lupa cinta diri itu. Aku berjuang mengisi WAKTU dalam hari-hariku, terutama SAAT INI yang sangat berharga untuk mematikan cinta diri dan mengembangkan kasih pada Allah.
Karena aku tahu, semua itu bergerak dalam waktu dan hanya mungkin terjadi semuanya dalam waktu yang adalah anugerah Allah.

Di detik-detik menunggu waktu kelender baru 2026 , sesudah adorasi tutup tahun beberapa saat lalu, dalam nuansa syukur yang tak terhingga akan kasih murni Tuhanku, aku tiba-tiba merasakan begitu terharu dan bersukacita. Teranglah dalam jiwaku yang sadar dan terjaga  bahwa misteri Kerahiman Ilahi yang kita renungkan hari demi hari ini merupakan sebuah jalan kecil, jalan harapan untuk menghanguskan cinta diri dan belajar menabur cinta dan menebar kasih dengan selalu memberi dan berbagi, seraya melepas dari genggaman apa saja yang menghalangi rahmat Tuhan bekerja dengan leluasa dalam jiwaku.
Sadarlah aku sesadar-sadarnya bahwa Kerahiman Ilahi justru ada, hadir untuk memurnikan kasihku yang terkontaminasi dengan kecenderungan tak teratur karena cinta diri. Kerahiman Ilahi justru hadir untuk menghangatkan dan membakar kasihku yang dingin dan suam-suam kuku, agar selalu berkobar-kobar untuk mengasihi Allah.
Semuanya sangat mungkin jika berjalan bersama Allah, selalu terbuka dan rendah hati mengakui, rela taat dan tidak berhenti berjuang.
Selama masih ada napasku, akan selalu kulambungkan kemuliaan bagi Kerahiman Ilahi yang dari-Nya lahirlah kasih yang murni untuk menghancurkan cinta diri dalam diriku.

Aku bersyukur, bersyukur dan bersyukur atas semua cinta Allah yang tak terkatakan, tak terlukiskan. Aku berani melangkah maju di hari baru, tahun baru bersama Santa Maria Bunda Allah dengan hati damai di hari awal tahun baru 2026 ini yang adalah Hari Perdamaian Sedunia.
Bukan karena aku layak hidup tapi sungguh melulu karena kasih-Nya yang murni, yang selalu tetap sama mengasihi dan menuntunku di hari-hari yang akan datang.

Aku tidak takut melangkah meski masih juga memikul cinta diri yang melekat erat, bukan karena aku baik atau suci, tetapi karena aku sungguh percaya bahwa  dalam genggaman kuasa Kristus Tuhanku,  Allah yang Maha rahim, semuanya dipulihkan. Dia Tuhan dan Juruselamatku. Selamanya aku akan tetap selalu mengandalkan kasih-Nya yang murni. Yesus Engkau andalanku. Memasuki Tahun 2026, aku tetap.memilih-Mu Sang Raja Kerahiman Ilahi sebagai pelindung dan penopangku dan memilih st Faustina sebagai teman seperjalanan yang mendoakanku dan SKR ini sebagai tempat aku belajar. Semuanya kuserahkan kepada-Mu. Berkati kami semua di SKR ini supay aboleh jadi berkat di dalam keluarga dan komunitas kerja kami masing-masing. Yesus Engkau andalanku. Persatukan hatiku dengan hati-Mu.Amin. Happy New Year sahabat SKR. * hm