Ketika membaca dan merenungkan Injil hari ini, tentang Yohanes Pembaptis yang berkata dengan jujur, “Bukan aku,”
saya merasa diteguhkan sekaligus ditegur. Saya menyadari bahwa sering kali saya berhenti pada pengakuan tentang diri saya sendiri:
mengakui kelemahan,  mengakui keterbatasan, mengakui ketidakberdayaan, mengakui bahwa saya tidak selalu mampu.

Pengakuan itu penting dan perlu. Namun saat merenungkannya lebih dalam, saya merasa Injil hari ini mengajak saya melangkah lebih jauh.
Bukan hanya berhenti pada pengakuan diri, tetapi berani menunjuk kepada Tuhan sebagai pusat hidup.

Dalam permenungan itu, pikiran saya tertuju pada Keluarga Kudus di Nazaret. Maria dan Yosef adalah pribadi-pribadi yang sangat manusiawi.
Maria dengan jujur mengakui dirinya hanya seorang hamba. Yosef pun tidak digambarkan sebagai sosok yang selalu kuat dan pasti.
Mereka tahu bahwa mereka lemah, terbatas, dan tidak memegang kendali penuh. Namun saya merenung bahwa mereka tidak berhenti di sana.
Mereka tidak tenggelam dalam rasa tidak mampu. Mereka terus mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang sungguh hadir di tengah hidup mereka,
yakni Yesus Kristus.Saya merasa di situlah letak kekuatan Keluarga Kudus. Bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup keluarga mereka.

Dalam hidup saya sendiri—dan juga dalam hidup keluarga-keluarga yang saya jumpai— sering kali kita sudah jujur mengakui kepapaan diri,
tetapi belum sepenuhnya berani menyerahkan pusat hidup kepada Tuhan. Kita masih ingin mengendalikan segalanya, masih ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencana kita. Melalui kisah Keluarga Kudus ini, saya belajar bahwa iman tidak berhenti pada kesadaran akan kelemahan,
tetapi bertumbuh ketika kita berani berkata: Tuhan, Engkaulah yang utama. Engkaulah pusat hidup kami. Yesus, Engkau andalanku.

Saya menyadari bahwa ketika Tuhan sungguh menjadi pusat, hidup tidak harus menjadi sempurna. Keluarga tidak harus bebas dari masalah.
Yang dibutuhkan adalah hati yang mau percaya, setia, dan terus memandang Tuhan di tengah segala keterbatasan. Renungan ini mengajak saya—
dan mungkin juga mengajak kita semua— untuk tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dengan rendah hati menunjuk kepada Tuhan, mata yang senantiasa tertuju pada TUhan. Hati yang tetap terarah kepada Tuhan yang sungguh hadir dan berkarya di tengah hidup kita.* hm