MINGGU BIASA XXVIII
Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Flp. 4:12-14,19-20; Mat. 22:1-14 (panjang) atau Mat. 22:1-10 (singkat).

Bacaan Minggu Biasa XXVIII hari ini menghadirkan gambaran indah tentang perjamuan Allah. Nabi Yesaya (Yes. 25:6-10a) menubuatkan pesta besar di gunung Tuhan, di mana air mata dihapus dan maut ditelan. Mazmur 23 menegaskan bahwa Tuhan adalah Gembala yang menuntun kita ke padang hijau dan menyediakan hidangan di hadapan musuh. Paulus (Flp. 4:12-14,19-20) mengingatkan bahwa Allah mencukupkan segala kebutuhan kita. Injil Matius (Mat. 22:1-14) menampilkan perumpamaan tentang undangan ke pesta perkawinan, di mana banyak yang menolak, tetapi Tuhan tetap mengundang semua orang.

Kerajaan Allah sering kali digambarkan seperti pesta meriah, penuh kegembiraan dan damai sejahtera. Setiap orang diundang untuk ikut serta di dalam kegembiraan dan damai sejahtera itu. Di dalam Kerajaan-Nya, Allah akan menyingkirkan segala kepedihan dan derita serta setiap ancaman yang mengancam manusia, bahkan ancaman maut sekalipun. Dengan tegas, nabi Yesaya mengumandangkan sukacita keyakinan itu: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua, yang disaring endapannya. Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya”.

Dalam pewartaan-Nya, Yesus kembali menandaskan warta sukacita Kerajaan Allah itu. Undangan untuk ikut serta di dalam kegembiraan dan damai sejahtera itu ditujukan kepada semua orang. Namun, sayangnya bahwa tidak semua orang mau menanggapi undangan itu dengan hati terbuka. Melalui perumpamaan tentang undangan perjamuan nikah, Yesus menyadarkan setiap orang tentang siapa yang akhirnya masuk ke dalam Kerajaan Surga dan bagaimana mereka bisa sampai ke sana. Ada orang-orang yang sebenarnya sejak awal sudah beruntung karena “diundang ke perjamuan” secara istimewa, tapi mereka malah meremehkan undangan itu. Karena itu keberuntungan istimewa yang sebenarnya dapat mereka nikmati beralih kepada orang-orang lain yang tadinya tidak masuk hitungan. Pertnyaan menarik adalah mengapa Yesus memakai perumpaan penjamuan nikah? Lalu, apa arti penolakan undangan itu bagi kehidupan iman kita saat ini? Bagi orang Yahudi, “undangan ke perjamuan nikah” bukan hanya sekadar ajakan untuk hadir dalam resepsi, melainkan mengikuti upacara religius dan berbagi hikmatnya serta mendekatkan setiap orang dalam sukacita. Sebab, bagi orang Yahudi upara dan perjamuan nikah mendekatkan setiap orang pada kemanusiaan dan keilahian sekaligus. Oleh karena itu menolak undangan untuk ikut serta dalam upacara dan perjamuan nikah berarti menolak kedekatan orang yang diundang itu kepada sesama manusia dan kepada Allah sekaligus. Itu berarti mereka yang menolak akan kehilangan dua hal ini. Pertama, rusaknya hubungan dengan Allah yang adalah sumber, jaminan, dan perlindungan bagi hidup setiap orang. Kedua, kehilangan kesempatan ikut pesta nikah yang meriah yang memiliki arti khusus tadi. Dengan demikian setiap orang yang menolak undangan itu akan semakin menjauhkan diri dari kesempatan yang bakal membuat hidup mereka berarti. Mereka menjauh dari kebahagian/sukacita bersama sesama manusia dan kebahagiaan/sukacita bersama Allah. Mereka menjauh dari Kerajaan Surga!

Sebagai rasul, Paulus mengatakan syukurnya atas perhatian jemaat Filipi yang telah memberikan bantuan baginya yang sedang berada dalam penjara. Kenyataan ini dipahami oleh Paulus sebagai kesempatan untuk mengenali misteri kebaikan Kristus yang terwujud dalam bentuk dukungan dan cinta jemaat di Filipi. Pada Kristus dan melalui dukungan penuh cinta jemaat Filipi, Paulus menemukan segala daya hidup dan kerasulannya. Paulus menemukan sukacitanya sebagai rasul Kristus.

Apakah aku sungguh-sungguh mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya sumber, jaminan, dan perlindungan bagi hidupku? Bagaimana sikapku berhadapan dengan undangan penuh kasih dari Allah bagi diriku? Apakah aku selalu bersyukur atas segala bentuk cinta kasih Allah yang ditawarkan kepadaku melalui sesamaku? Apakah aku juga rela berbagi cinta kasih Allah kepada sesamaku? Apa wujudnyatanya?
Kita semua diundang ke pesta kasih Allah. Mari kita jangan menolak undangan itu, melainkan mengenakan pakaian pesta: hidup yang berakar dalam doa, berbuah dalam kasih, dan setia pada Injil. Dengan demikian, kita sungguh menikmati perjamuan keselamatan yang disediakan Tuhan.
Mari membuka hati seutuhnya bagi tawaran cinta kasih Allah dan rela berbagi seutuhnya cinta kasih Allah kepada sesama kita.
Tuhan memberkati.*RD AMT