KAMIS, PEKAN BIASA XXVI, PESTA ST. THERESIA DARI KANAK-KANAK YESUS, PERAWAN DAN PELINDUNG MISI,
Yes. 66:10-14b atau 1 Kor. 12:31-13:13; Mzm. 131:1,2,3; Mat. 18:1-5.

Hari ini kita merayakan pesta St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, seorang santa muda yang dikenal dengan “jalan kecil” – jalan kesederhanaan, kasih, dan penyerahan diri total kepada Allah. Bacaan liturgi menegaskan bahwa kerendahan hati, kasih, dan sikap seperti anak kecil adalah jalan menuju Kerajaan Allah.
Nabi Yesaya menggambarkan Yerusalem yang makmur sebagai ibu segala bangsa. Dari kegersangan hidup, Yerusalem diubah oleh Allah sebagai kota yang penuh suka cita. Semuanya itu dilakukan oleh Allah karena belas kasih-Nya kepada umat-Nya.
Yesus menunjunkkan anak kecil sebagai model pertobatan yang harus dibangun oleh setiap orang beriman untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mengapa demikian? Setiap orang beriman dituntut untuk bersikap dan bertindak dalam kesadaran iman seperti anak kecil yang tulus, polos, sederhana, dan realistis. Anak kecil menggantungkan diri sepenuhnya pada orang tuanya.

Maria Francoise Therese Martin adalah puteri bungsu dari keluarga saleh, Louis Martin dan Azelie Guerin. Kematian ibunya menimbulkan shock besar baginya. Ia sangat perasa, cepat tersinggung, dan cepat menangis. Ketika kakaknya Pauline yang setia merawatnya masuk biara Karmel, ia jatuh sakit. Namun ia disembuhkan secara ajaib oleh Bunda Maria. Ia ingin menjadi Suster dan memiliki kerinduan yang amat mendalam untuk bersatu dengan Kanak-kanak Yesus. Kerinduan itu terungkap dalam salah satu doanya kepada Kanak-kanak Yesus ketika ia berumur 7 tahun: “ Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainan-Mu!…”

Pada usia 15 tahun atas izin khusus dari Paus ia diperboleh kan masuk biara Sustser-suster Karmelit di Lisieux mengikuti kedua kakaknya yang sudah ada di biara itu. Ia melakoni hari hidupnya sebagai seorang Suster dalam rentang waktu yang amat pendek, yaitu 9 tahun. Dalam rentang waktu yang pendek itu ia memilih “jalan sederhana” berdasarkan ajaran Kitab Suci: hidup selaku seorang anak kecil, penuh cinta dan iman-kepercayaan akan Allah dan penyerahan diri yang total dengan perasaan gembira. Ia melakukan hal-hal kecil dan kewajiban sehari-hari dengan penuh tanggung jawab karena cinta kasihnya yang besar kepada Allah Bapa di Surga. Theresia menderita sakit paru-paru yang parah. Dalam usia yang sangat muda, 24 tahun ia meninggal dunia.

Ia juga tidak pernah melangkahkan kakinya ke luar biara untuk tugas misi. Namun ia diangkat oleh Gereja sebagai pelindung misi. Mengapa demikian? Ia memberikan kesuburan bagi hidup iman karena cinta kasihnya yang amat besar dalam segala hal yang sangat sederhana. Ia hanya melakukan pekerjaan rutin yang sederhana. Hidup berimannya diwujudkannya dalam doa yang tulus, sederhana namun nyata. Ia bahkan menyuburkan hidup imannya itu di dalam derita yang ia alami. Sebagai anak, ia sadar bahwa jalannya lamban. Namun, justru dalam kenyataan itulah ia mampu berserah diri seutuhnya kepada Allah sebagai Bapa. Penyerahan diri yang tulus dalam kesederhanaan itulah daya yang amat dahsyat mengubah imannya dan menyuburkan iman Gereja. Ia kemudan dikenal dengan sebutan Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan Theresia dari Lisieux.

Apakah aku sungguh menyadari jalan hidupku? Apa dasar, arah dan tujuan hidupku saat ini? Sejauh mana aku telah berpasarah seutuhnya pada rencana dan kehendak Allah Bapaku? Apakah aku menyadari bahwa kesucian hidup dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa orang itu?
Pesta St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengingatkan kita bahwa jalan kecil – kesederhanaan, kasih, dan penyerahan diri – adalah jalan menuju kekudusan. Mari kita meneladaninya: hidup sederhana, penuh kasih, dan mendukung misi Gereja dengan doa dan kesetiaan. Mari belajar mewujudkan hidup iman kita dalam JALAN KECIL seperti St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus.
Tuhan memberkati. *RD AMT