RABU, PEKAN BIASA XXV, PERINGATAN WAJIB ST. PADRE PIO DARI PIETRELCINA, IMAM
Ams 30:5-9; Mzm 119:29.72.89.101.104.163; Luk 9:1-6;

Hari ini kita mengenang St. Padre Pio, imam yang terkenal dengan kesederhanaan, doa, pengakuan dosa, dan stigmata yang ia alami sebagai tanda persatuan dengan Kristus. Bacaan liturgi menegaskan bahwa hidup beriman harus berakar pada firman Allah, bebas dari tipu daya, dan berani diutus untuk mewartakan Injil.

Penulis kitab Kebijaksanaan mengingatkan kita tentang dua hal yang bisa membuat hubungan kita dengan Allah terputus, yaitu kemiskinan dan kekayaan. Keduanya itu adalah situasi ekstrem kehidupan manusia. Maka, bijaksanaan mengarahkan kita pada nilai, sikap, dan tindakan yang tepat yaitu kebijaksanaan Allah. Sebab, hanya dalam kebijaksanaan Allah setiap orang dapat menimbang rasa dan memilih sikap serta tindakan yang tepat bagi hidup.

Perutusan ke-12 murid oleh Yesus dengan segala dasar dan tuntutannya menyadarkan kita akan prioritas sesungguhnya yaitu pada Allah dan kerajaan-Nya. Para murid diajak untuk mengandalkan Allah sepenuhnya dan mewartakan kerajaan Allah, bukan segala sarana atau fasilitas yang ada. Sebab, Allah dan kerajaan-Nya adalah jaminan sesungguhnya bagi kehidupan manusia.
Padre Pio adalah seorang imam dan mistik OFMCap. Ia mendapatkan stigmata hampir seluruh hidupnya. Walau demikian ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Berbagai rintangan hidup dihadapinya dalam kesabaran iman. Ia menyerahkan diri sepenuhnya pada Alah yang Mahakuasa. Ia wafat pada tanggal 23 September 1968.

Apa yang menjadi jaminan dan andalan hidupku? Bagaimana Allah dan kerajaan-Nya telah menjadi prioritas andalan dan jaminan hidupku?
Peringatan St. Padre Pio mengingatkan kita bahwa kesederhanaan, doa, dan kesetiaan pada sabda Allah adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Mari kita meneladaninya: hidup rendah hati, setia pada doa, dan berani diutus untuk mewartakan Injil. Mari menjadikan Allah dan kerajaan-Nya sebagai jaminan dan andalam kehidupan kita.
Tuhan memberkati. *RD AMT