RABU, PEKAN BIASA XXVII, PERINGATAN WAJIB SANTA PERAWAN MARIA, RATU ROSARIO
Gal 2:1-2.7-14; Mzm 117:1.2; Luk 11:1-4.

Hari ini kita merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Bacaan liturgi menuntun kita pada tiga hal: pengalaman Paulus yang berjuang menjaga kemurnian Injil (Gal 2:1-2.7-14), pengakuan Mazmur bahwa kasih setia Tuhan kekal (Mzm 117), dan ajaran Yesus tentang doa Bapa Kami (Luk 11:1-4). Semuanya berpadu indah dengan devosi Rosario, doa sederhana namun mendalam yang mengantar kita masuk ke misteri hidup Kristus bersama Maria.

Paulus sadar bahwa tugas perutusannya berasal dari Kristus. Namun, ia juga menyadari bahwa kesatuan dengan para rasul yang lain merupakan hal yang sangat penting demi keutuhan pewartaan. Maka, ia menjalin kesatuan itu dengan para rasul. Lalu terjadilah pemahaman bersama yang menjadi dasar pewartaan. Dalam semangat itulah Paulus dapat menegur dan mengoreksi kesalahan Petrus.

Melalui rumusan doa yang sangat singkat Yesus menyadarkan inti setiap doa. Doa, terutama dan pertama-tama adalah memuliakan Allah, kepenuhan kehendak-Nya, memohon terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, pengampunan dosa, dan pembebasan dari kejahatan. Melalui hal ini terwujudlah intensitas hubungan yang amat pribadi dengan Allah sebagai sumber, arah, dan tujuan hidup manusia.

Tanggal 7 Oktober ditetapkan oleh Gereja sebagai hari peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Penetapan ini terjadi berdasarkan pengalaman iman. Dikisahkan bahwa pada tanggal 7 Oktober 1571 terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Laut Tengah, dekat pantai Yunani. Tempat itu disebut Lepanto. Turki memiliki angkatan laut yang paling kuat di bawah pimpinan Halifasha. Sebelum pertempuran ini, Turki telah menyerang semua pelabuhan Katolik di Eropa. Berhadapan dengan itu, Paus Pius V menyerukan supaya semua orang Katolik di Eropa bersatu dan bertahan terhadap serangan armada Halifasha. Kemudian Paus menunjuk Don Yuan dari Austria menjadi komandan armada gabungan Eropa yang akan menghadapi armada Turki. Don Yuan terkenal memiliki devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria. Ketika tentara Katolik naik ke kapal untuk diberangkatkan ke medan perang, mereka masing-masing diberi rosario di tangan kanan, sementara tangan kiri mereka memegang senjata. Paus yang menyadari armada ini tidak ada artinya dibandingkan dengan armada Turki yang jumlahnya tiga kali lipat, meminta agar seluruh penduduk Eropa berdoa rosario. Di mana-mana orang berdoa rosario selama 24 jam terus-menerus.
Tgl. 7 Oktober 1571 pukul 11.30 kedua armada itu mulai bertempur dengan dahsyat hingga baru berakhir keesokan harinya pukul 5.30 sore. Mukjizat terjadi di sana. Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit, tiba-tiba angin berubah arah sehingga menguntungkan pihak armada Katolik. Armada Turki berhasil dikalahkan. Halifasha mati terbunuh. Karena kemenangan rosario ini, maka tanggal 7 Oktober ditetapkan sebagai Hari Raya Rosario.
* Sejauh mana kesatuan dengan Tuhan dan sesama telah aku bina secara erat dan intim dalam kehidupanku sehari-hari? Bagaimana kesatuan itu menjadi dasar dan daya pewartaan dalam hidupku?
Mari kita merayakan Maria, Ratu Rosario, dengan memperbarui semangat doa kita. Rosario bukan sekadar untaian doa, melainkan jalan menuju Kristus. Dengan Rosario, kita menjaga kemurnian Injil, merasakan kasih setia Tuhan, dan belajar berdoa seperti Yesus. Semoga hidup kita menjadi kebun anggur yang berbuah doa dan kasih. Mari membina kesatuan erat dengan Allah dan sesama. Mari membangun kesatuan itu sebagai dasar dan daya pewartaan dan hidup kita.
Tuhan memberkati.