Syering pada Pesta Santa Faustina
Awalnya aku hanya mengenal namamu: Faustina, Rasul Kerahiman Ilahi. Aku tahu bahwa doa Koronka Kerahiman Ilahi mengajarkan Tuhan Yesus kepadamu. Hanya sebatas itu. Namun entah kenapa, sejak sekitar tahun 1990-an, doa Koronka begitu menarik perhatianku. Aku menyukai dan senang mendoakannya, meskipun saat itu aku belum sungguh-sungguh mengenal Faustina.
Perlahan-lahan muncul rasa ingin tahu. Siapakah sebenarnya perempuan sederhana yang kepada Tuhan mempercayakan pesan tentang Kerahiman-Nya ini? Saya mulai mencari dan membaca melalui internet. Aku menemukan tulisan-tulisan tentang Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku . Semakin kubaca, semakin tumbuh keinginan untuk mengenal Faustina dan pesan Kerahiman Ilahi lebih dalam.
Tahun 2016, ketika Gereja merayakan Yubileum Luar Biasa Kerahiman, menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan itu. Saya semakin serius membaca berbagai artikel tentang Faustina dan Kerahiman Ilahi. Dari sanalah akhirnya aku mengetahui bahwa pengalaman rohaninya tertuang dalam Buku Harian Santa Faustina. Aku ingin memilikinya. Namun pada saat itu, harga buku tersebut terasa cukup mahal bagiku. Keinginan itu kusimpan sampai akhirnya pada 27 Mei 2018, aku dapat memperolehnya. Aku mulai membaca lembar demi lembar. Perlahan-lahan aku mengenal Faustina bukan lagi sekadar sebagai sebuah nama atau seorang kudus yang disebut Rasul Kerahiman Ilahi, tetapi melalui pergulatan hidup, doa, penderitaan, ketaatan, cinta, dan kepercayaannya tanpa batas kepada Yesus.
Kemudian tahun 2020. saat Pandemi Covid-19 melanda, membuat banyak aktivitas terhenti, namun justru memberi lebih banyak waktu bagiku untuk membaca. Bersama beberapa teman, saya diajak membaca Buku Harian Faustina dalam grup WhatsApp. Kami membaca dan merenungkan nomor demi nomor. Dari situlah perjalananku bersama Faustina menjadi semakin dekat. Sejak saat itu, kecintaanku pada spiritualitas Kerahiman Ilahi semakin bertumbuh. Sampai hari ini saya masih bergabung dalam beberapa grup yang bersama-sama membaca dan merenungkan Kerahiman Ilahi. Semakin lama aku menyadari sesuatu: ternyata Tuhan memakai Faustina untuk membawaku semakin dekat ke misteri kerahiman-Nya.
Oleh karena itu, pada pestamu hari ini, Faustina, ada satu kalimat sederhana yang ingin kukatakan: “Mengenalmu adalah keberuntungan bagiku.” Melaluimu aku semakin mengenal Dia. Aku semakin mengenal Allah yang Maharahim, Allah yang tidak pernah lelah mencintai manusia, Allah yang mencari orang-orang berdosa, yang mengampuni, menyembuhkan, mengangkat kembali, dan mengajak manusia untuk percaya kepada-Nya. Aku pun semakin memahami bahwa Kerahiman Ilahi bukanlah sesuatu yang baru dimulai bersama Faustina. Kerahiman adalah karya agung Allah yang mengalir sejak awal sejarah keselamatan. Melalui Faustina, kebenaran yang telah hidup dalam Kitab Suci dan iman Gereja itu kembali diserukan dengan kuat kepada dunia: Allah adalah kasih dan kerahiman.
Hari ini aku bersyukur dan akan belajar untuk selalu bersyukur. Dari sebuah nama yang dahulu hanya kukenal sekilas, dari doa Koronka yang entah mengapa begitu menarik hatiku, Tuhan perlahan-lahan membawaku lebih jauh. Semakin aku mengenal Faustina, semakin aku ingin mengenal Kerahiman-Nya. Semakin aku mengenal Kerahiman-Nya, semakin aku belajar mempercayakan hidup kepada-Nya. Santa Faustina, terima kasih telah menjadi jalan kecil yang menuntunku semakin dekat kepada Kerahiman Allah. Mengenalmu adalah satu yang terindah, karena melaluimu, aku semakin mengenal Dia.
Pada hari yang penuh kegembiraan ini, aku ingin bertanya kepada diriku sendiri, dan mungkin juga bertanya kepadamu Faustina tercinta: apa kiranya yang Tuhan inginkan dariku dalam perjalanan ini? Mengapa Ia membawaku begitu jauh untuk mengenalmu dan mendalami Kerahiman-Nya? Mungkin Anda mengetahui sesuatu yang belum kupahami. Oleh karena itu, tuntunlah aku kepada jalan yang telah Tuhan tentukan bagiku. Bantulah aku dengna doa-doamu, agar menemukan apa yang harus kulakukan untuk mewartakan kasih dan Kerahiman Allah melalui kehidupanku sehari-hari. Aku tidak tahu ke mana Tuhan akan membawaku. Namun aku ingin tetap berjalan bersama-Nya, mengikuti jalan yang ditunjukkan-Nya, dan bersamamu terus berkata: “Yesus, Engkau Andalanku.”
Recent Comments