Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga, dengan kebajikan yang tidak terperikan, berilah agar kami selalu mengikuti teladan Keluarga-Mu yang suci, AMIN.
“Berilah…”
Sesudah menyapa Tuhan Yesus Kristus, mengenangkan karya-Nya yang telah menyucikan kehidupan rumah tangga, dan merenungkan kebajikan Keluarga Kudus yang tak terperikan, doa harian KKS berlanjut dengan sebuah seruan yang sangat sederhana: “Berilah…” Satu kata pendek, tetapi bagi kami mengandung makna yang dalam. “Berilah” adalah sebuah seruan permohonan yang ditujukan kepada Allah.
Namun, mengapa kita berani meminta kepada-Nya? Karena kita percaya. Kita percaya bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu. Dialah yang menjadikan segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari-Nya dan berada dalam penyelenggaraan-Nya. Pada-Nya ada segala yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan dan panggilan kita. Karena itu, ketika kita berkata, “Berilah…”, sesungguhnya kita sedang mengungkapkan iman.
Kita meminta karena percaya bahwa Allah memiliki apa yang dibutuhkan. Kita meminta karena percaya bahwa Dia sanggup memberikannya.Kita meminta karena percaya kepada kebaikan dan penyelenggaraan-Nya yang tak terbatas. Keberanian untuk meminta ini bukan tanpa dasar. Yesus sendiri mengajarkan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Mat. 7:7)
Betapa indahnya sabda ini bila ditempatkan berdampingan dengan kata “Berilah…” dalam doa harian KKS. Ternyata keberanian kita untuk meminta bersumber pada Sabda Kristus sendiri. Dia yang mengundang kita untuk meminta. Dia yang mengajar kita untuk mencari. Dia pula yang menyuruh kita mengetuk. Maka, “Berilah…” bukan sekadar permohonan. “Berilah” adalah ungkapan iman. Iman yang hidup. Iman yang percaya. Iman yang berani datang kepada Tuhan dengan tangan terbuka karena yakin bahwa Dia adalah Bapa yang baik.
Namun, ada pertanyaan berikutnya yang perlu direnungkan: Apa yang sebenarnya kita mohon agar diberikan oleh Tuhan? Jawabannya terdapat dalam kelanjutan doa itu sendiri: “Berilah, agar kami selalu mengikuti teladan Keluarga-Mu yang Suci.” Ternyata yang kita mohonkan bukan pertama-tama keberhasilan, kenyamanan, kesehatan, kemudahan hidup, ataupun keberhasilan dalam karya. Kita memohon sesuatu yang jauh lebih dalam. Kita memohon rahmat. Rahmat untuk mengikuti teladan Keluarga Kudus.
Mengagumi Keluarga Kudus mungkin mudah. Kita dapat membaca tentang mereka, mengenal kehidupan mereka, merenungkan kebajikan mereka, bahkan berbicara panjang tentang Nazaret. Namun, menghidupi apa yang dihidupi Keluarga Kudus membutuhkan rahmat. Kita membutuhkan rahmat untuk tetap percaya ketika tidak memahami jalan Tuhan. Rahmat untuk tetap berdoa ketika hati terasa kering. Rahmat untuk hidup sederhana ketika begitu banyak hal menarik hati kita. Rahmat untuk taat ketika kehendak Tuhan tidak sama dengan kehendak kita. Rahmat untuk siap melayani ketika diri sendiri lelah. Rahmat untuk tetap rela berkorban ketika kesetiaan menuntut sesuatu dari diri kita.
Semakin direnungkan, semakin kusadari bahwa di balik satu kata “Berilah…” tersimpan pengakuan yang sangat mendalam: aku membutuhkan Tuhan. Aku tidak dapat mengandalkan kekuatanku sendiri untuk menghidupi panggilan. Aku tidak dapat membentuk diriku sendiri menjadi serupa dengan Keluarga Kudus. Aku sangat membutuhkan rahmat-Nya. Dan justru karena percaya kepada-Nya, aku berani meminta. Di sinilah iman dan rahmat bertemu. Iman membuat kita berani meminta; rahmat yang kita terima memampukan kita untuk mengikuti.
Mungkin selama ini kata “Berilah…” begitu cepat terucap dalam doa harian kita sehingga kita tidak sempat berhenti di sana. Padahal satu kata itu mengajarkan sikap dasar seorang beriman: datang kepada Allah dengan penuh iman kepercayaan, bersimpuh, membuka tangan di hadapan-Nya, dan membiarkan Dia memberikan rahmat yang kita perlukan. “Berilah…” karena kita percaya: segala rahmat yang kita perlukan untuk menjalani panggilan yang telah selalu dan akan tetap diberikan-Nya kepada kita.
“Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu. Karena Engkau sendiri mengajarkanku untuk meminta, aku datang dengan tangan terbuka: berilah aku rahmat yang kuperlukan agar hidupku semakin mampu mengikuti teladan Keluarga-Mu yang Suci.”
Recent Comments