Melalui Baptis kudus, kita masuk dalam kesatuan dengan jiwa-jiwa lain. Kematian mempererat ikatan kasih. Aku harus selalu siap menolong orang-orang lain. Kalau aku ini seorang biarawati yang baik, aku akan bermanfaat bukan hanya bagi kongregasi, tetapi juga bagi seluruh Tanah Air. BHF 391
Ada kalimat yang menyentuh hatiku hari ini: “Aku harus selalu siap menolong orang-orang lain.” Inilah wujud paling nyata dari kesatuan antarjiwa—bahwa hidupku tidak pernah berdiri sendiri. Melalui Baptis Kudus, Tuhan mengikatku dalam satu tubuh kasih bersama banyak jiwa lain. Dan bahkan ketika kematian datang, ikatan kasih itu tidak putus; justru dipererat, dimurnikan, dan disempurnakan.
Merenungkan kesatuan antarjiwa membuatku teringat pada 7 karya kerahiman ilahi jasmani ( beri makan yg lapar, beri minum kpd yg haus, beri pakaian kpd yg telanjang, beri tumpangan, kunjung org di penjara, menguburkan org meninggal) dan 7 karya kerahiman ilahi rohani ( nasihat org yg bimbang, ajar org yg tdk tahu, tegur oeg berdosa, hibur org yg susah, ampuni kesalahan org, sabar menanggung kelemahan org lain, mendoakan oeg hidup dab tg mati). Sebab kesatuan itu bukan hanya perasaan lembut di dalam hati, dan kesadaran atau keprihaninan sema, tetapi harus menjadi nyata dalam perbuatan, dalam perkataan, dan dalam doa.
Saat kerahiman diwujudkan hari demi hari dengan setia, sederhana, dan tulus maka kesatuan itu menjadi semakin erat. Kasih menjadi nyata. Iman menjadi hidup. Pernyataan Faustina ini begitu indah sekaligus meneguhkan panggilanku: “Kalau aku ini seorang biarawati yang baik, aku akan bermanfaat bukan hanya bagi kongregasi, tetapi juga bagi seluruh Tanah Air.” Kalimat ini mengingatkanku kembali pada hakikat panggilan yakni dipanggil, dipilih, dan diutus. Bukan hanya untuk lingkup yang kecil, bukan hanya untuk komunitas dan kongregasiku sendiri, tetapi untuk lingkup yang lebih luas yakni untuk menolong keluarga umat manusia. Aku merasa diteguhkan bahwa Tuhan tidak pernah memanggil seseorang hanya untuk dirinya sendiri.
Tuhan selalu mengutus untuk orang lain. Untuk jiwa-jiwa , untuk dunia. Untuk kehidupan yang lebih luas. Untuk luka-luka yang perlu disentuh oleh kasih.
Aku sadar panggilan ini sejatinya berlaku juga bagi setiap keluarga. Keluarga bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk ikut menjadi berkat bagi sesama. Lingkup terdekatnya adalah masyarakat sekitar dan dalam cakrawala yang lebih luas adalah tanah air.
Sebab ketika tanah air aman dan damai, damailah juga hidup ini.
Ketika tanah air bertumbuh dalam ketentraman, kemakmuran, dan kesejahteraan, banyak jiwa akan memiliki ruang untuk hidup lebih manusiawidan lebih dekat kepada Tuhan.
Maka hari ini aku mau meneguhkan satu niat sederhana yakni aku mau selalu siap menolong. Dengan apa yang bisa kulakukan. Dengan kasih yang kumiliki. Dengan doa yang kupanjatkan. Sebab kesatuan antarjiwa bukan teori rohani melainkan panggilan untuk hidup dalam kerahiman. Tuhan, jadikanlah aku pribadi yang bermanfaat dan berdampak baik bagi kongregasiku, bagi Gereja, dan juga bagi tanah airku.Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments