HARI PENGAKUAN. Sejak pagi buta,gejolak dalam jiwaku lebih keras daripada yang pernah aku alani sebelumnya. Aku merasa sama sekali ditinggalkan oleh Allah; aku merasakan bahwa aku sungguh lemah. Beragam pikiran berkecamuk dalam diriku: mengapa aku harus meninggalkan biara ini; di sini aku dikasihi oleh para suster dan para superior; di sini kehidupan sedemikian tenang; di sini aku mengikat diri dengan kaul kekal dan melaksanakan tugas-tugasku tanpa kesulitan; mengapa aku harus mendengarkan suara hatiku; mengapa aku harus mengikuti suatu ilham yang tak kuketahui dari mana datangnya; tidakkah lebih baik melanjutkan hidupku seperti semua suster yang lain?

Barangkali kata-kata Yesus dapat diabaikan. tidak diperhatikan; barangkali Allah tidak menuntut suatu pertanggungjawaban atasnya pada hari pebghakiman. Ke mana suara batin ini akan menuntun aku? Kalau aku mengikutinya, betapa besarnya kesulitan-kesulitan, kesusahan, dan penderitaan yang menghadang aku. Aku takut akan masa depan dan sekarang ini aku sangat menderita.

Sepanjang seluruh hari penderitaan ini tidak berkurang sedikit pun. Pada petang hari ketika aku kembali untuk mengaku dosa, aku tidak dapat menjalani pengakuan dosa secara lengkap, meskipun aku sudah mempersiapkan diri dalam waktu yang lama. Aku menerima absolusi dan pergi, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi padaku. Ketika aku pergi tidur, penderitaan bahkan nenjadi semakin berat; atau lebih tepat, penderitaan itu berubah menjadi suatu api yang membakar seluruh kemanpuan jiwaju seperti sambaran halilintar yang menembus sampai ke sumsum, dan sampai ke relung hatiku yang paling rahasia. (BHF 496a)

“Barangkali kata-kata Yesus dapat diabaikan, tidak diperhatikan; barangkali Allah tidak menuntut suatu pertanggungjawaban atasnya pada hari penghakiman. Ke mana suara batin ini akan menuntun aku? Kalau aku mengikutinya, betapa besarnya kesulitan-kesulitan, kesusahan, dan penderitaan yang menghadang aku. Aku takut akan masa depan dan sekarang ini aku sangat menderita.”

Semua teks ini sungguh indah. Faustina sangat jujur dengan dirinya sendiri, dengan perasaan hatinya, dan dengan realitas batin serta imannya di hadapan Tuhan. Barangkali ini seperti sebuah malam gelap jiwa. Jiwanya merasa ditinggalkan Allah, sendirian, ragu, dan bingung. Ada pergumulan batin antara kenyamanan dan panggilan. Ada godaan untuk meragukan kehendak Allah. Takut akan masa depan yang penuh risiko dan ketidakpastian membuat batinnya sangat menderita dan penderitaan itu tidak hanya sesaat, tetapi sepanjang hari, tanpa terhibur. Bahkan dalam pengakuan dosa pun, Faustina merasa tidak mampu mengungkapkan semuanya. Ia bukan hanya tidak berdaya, tetapi sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam dirinya.

Dari semua ini, aku menangkap satu hal yang sangat berharga untuk direnungkan dan diresapkan dalam jiwaku: bahwa manusia memang terbatas di hadapan misteri keagungan kasih Allah. Keterbatasan ini memungkinkan segala sesuatu terjadi. Dan di sinilah tampak pertempuran rohani yang sangat berat, pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang panggilan Tuhan dan makna hidupnya. Semua ini berawal dari pikiran. Ya, kita tahu, pikiran adalah pintu masuk segala sesuatu. Pikiran yang menghadirkan berbagai pertanyaan tentang kehidupan jiwa. Karena ini menyangkut jiwa, maka ketika pikiran dipenuhi kegelisahan, jiwa pun bisa menjadi kacau. Faustina menyadari penderitaan itu, pikiran yang berkecamuk membuatnya takut akan masa depan dan kehilangan kejelasan arah hidup.

Aku senang merenungkan ini, meskipun tidak mudah menuliskannya di sini. Satu hal yang jelas bagiku, bahwa betapa lemahnya kita sebagai manusia, sehingga segala sesuatu bisa terjadi kapan saja. Betapa mudahnya pikiran-pikiran masuk dan tinggal dalam diri kita, jika kita mengizinkannya. Ketika pikiran mulai masuk dan berdiam, perasaan akan mengikutinya, dan sering kali yang muncul adalah ketakutan. Jika rasa takut menguasai, jiwa bisa kehilangan kendali atas hidupnya. Ini adalah pertempuran yang sangat berat—karena jiwa sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Namun aku yakin, sungguh yakin, bahwa pada saat seperti itu Allah tidak pergi, tidak menjauh, apalagi meninggalkan. Bukan! Hanya saja, ada sesuatu yang menghalangi mata jiwa sehingga tidak mampu melihat kehadiran Allah.

Dalam perjalanan rohani, tampaknya hal seperti ini diizinkan Tuhan, yg bisa kita temukan dalam kisah hiduo orang kudus, agar jiwa semakin sadar siapa yang seharusnya diandalkan. Kepapaan jiwa bukan hanya sekadar kelemahan biasa, tetapi bisa sampai pada titik terdalam yakni ketidakberdayaan total. Aku teringat bagaimana Saulus mengalami kebutaan selama tiga hari ketika dijamah Tuhan menuju pertobatan radikalnya. Dalam kegelapan itu, apa yang bisa dilakukan selain menanti dan merindukan terang? Justru dalam kegelapan yang paling pekat, jiwa merindukan terang yang paling cemerlang dengan kerinduan yang paling besar. Sama seperti saat sangat tidak bersaya kita sungguh merindukan kekuatan yang mendayai hidup kita.

Aku tidak berani mengatakan bahwa jiwa harus dicobai. Tetapi sering kali memang demikian yang terjadi yakni suatu penderitaan batin yang dalam karena merasa ditinggalkan Allah. Dan justru di situlah mata jiwa mulai terbuka, bahwa hidup tanpa Allah sungguh menyakitkan, merana dan hampa. Sesudah itu, jiwa dimampukan untuk mengambil keputusan secara sadar untuk tetap bersama Allah, tetap mengandalkan-Nya, dan rela melakukan kehendak-Nya. Karena ia telah merasakan betapa merananya hidup tanpa kehadiran Allah.

Mungkin kita pun pernah mengalami “malam gelap jiwa” dalam kadar kecil atau sederhana dibandingkan Faustina. Bisa juga ada yang cukup berat namun semuanya ada dalam kebijaksanaan kasih Allah. Sepekat apa pun malam itu, waktu akan terus berjalan dan fajar pasti akan datang. Pegangan satu-satunya adalah iman bahwa Allah tetap hadir, harapan bahwa semua akan berlalu, dan cinta yang terus merindukan Allah.
Syukur kepada Allah. Terima kasih, Faustina, untuk pengalaman iman yang begitu dalam ini.
Yesus, Engkau andalanku.