Allah yang kekal, Sang Kebaikan, kerahiman-Mu sungguh tak terselami oleh setiap akal budi, entah akal budi manusia, entah akal budi malaikat. Tolonglah aku, anak-Mu yang lemah untuk melaksanakan kehendak kudus-Mu seperti yang Kauberitahukan
kepadaku. Aku tidak menginginkan suatu pun kecuali memenuhi keinginan Allah. Tuhan, inilah jiwa dan ragaku, budi dan kehendakku, hati dan seluruh kasihku. Perintahlah aku menurut rencana-rencana-Mu yang kekal. BHF 492
Tuhan, inilah jiwa dan ragaku, budi dan kehendakku, hati dan seluruh kasihku. Perintahlah aku menurut rencana-rencana-Mu yang kekal… Membaca doa Faustina dalam BHF 492, bagiku inilah doa penyerahan, doa persembahan diri yang diawali dengan pengakuan iman akan Allah Sang Kasih, kebaikan, dan kerahiman. Doa yang mengakui kepapaan diri sebagai pendosa, tetapi yang memiliki kerinduan besar untuk melaksanakan kehendak Allah. Inilah iman… doa iman yang tulus hati. Faustina juga berdoa memohon pertolongan Tuhan, sebab yakin akan kemahakuasaan dan jangkauan Tuhan yang tak terbatas, yang pasti akan menolongnya. Apalagi yang diminta adalah agar ia mampu melaksanakan kehendak Allah.
Faustina menyatakan niatnya bahwa tidak ada keinginan lain lagi selain memenuhi keinginan Allah. Dan ia menutupnya dengan doa penyerahan diri ini. Tentang doa penyerahan diri ini, saya langsung teringat akan doa indah yang sering kita nyanyikan dalam Puji Syukur 377: “Kami unjukkan, kami serahkan kebebasan dan kemerdekaan… ingatan, budi, kehendak hati, kami serahkan pada-Mu, Tuhan…” Sebuah syair indah yang sangat kusukai dengan alunan yang indah dan sangat menyentuh hati. Doa Faustina begitu lengkap. Doa yang lahir dari hati, doa yang lahir dari iman, dari dialog yang tiada henti dengan Allah. Doa yang lahir dari pengalaman memusatkan seluruh hidup dan keterarahan kepada Allah sepanjang waktu. Indah dan layak ditiru.
Doa ini pastilah menyenangkan hati Tuhan karena bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah pengalaman iman, bahkan sebuah tindakan cinta kepada Tuhan. Ya… sebelum mencintai yang diwujudkan dalam tindakan, doa adalah tindakan cinta. Doa Faustina ini adalah sebuah tindakan cinta yang sejati kepada Tuhan. Aku rindu doa-doaku juga kiranya selalu merupakan tindakan cinta kepada Allah yang begitu amat sangat baik dan mencintaiku. Namun, aku perlu selalu untuk belajar berdoa tiada henti..sebab doa pada hakekatnya bukanlah usahaku semata, tetapi anugerah Allah. Bahkan Paulus berani menyatakan bahwa bukan kita yang berdoa tetapi Roh Kuduslah yang berdoa untuk.kita dengan keluhan yang tak terucapkan. Tuhan, ajarilah aku berdoa sebagaimana Faustina berdoa kepada-Mu. Jangan biarkan bibirku memuliakan Dikau tapi hatiku jauh dari-Mu.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments