Ketika aku masuk ke kapel, sekali lagi keagungan Allah menyelumuti aku. Aku merasakan bahwa aku tenggelam di dalam Allah, sepenuhnya terbenam dalam Dia dan diresapi oleh-Nya, pada saat itu aku menyadari betapa Bapa surgawi sangat mengasihi kami. Oh, betapa besar kebahagiaan yang memenuhi hatiku karena mengenal Allah dan kehidupan ilahi!

Adalah keinginanku untuk membagikan kebahagiaan ini dengan semua orang. Aku tidak dapat menahan kebahagiaan ini terkurung di dalam hatiku sendiri saja karena nyala-Nya membakar aku dan membuat dadaku serta isi perutku terbakar habis. Aku ingin pergi ke seluruh dunia dan berbicara kepada jiwa-jiwa tentang kerahiman Allah yang besar. Para imam, tolonglah aku dalam menghadapi masalah ini: gunakan kata-kata yang paling kuat untuk memaklumkan kerahiman-Nya karena tidak ada kata yang sungguh memadai untuk mengungkapkan betapa rahimnya Dia. BHF 491

“Oh, betapa besar kebahagiaan yang memenuhi hatiku karena mengenal Allah dan kehidupan ilahi. Adalah keinginanku untuk membagikan kebahagiaan itu kepada semua orang. Aku tidak dapat menahan kebahagiaan itu terkurung di dalam hatiku sendiri saja.” Membaca dan merenungkan pengalaman Faustina dalam BHF 491, saya membayangkan sukacita yang memenuhi dirinya karena karunia ilahi: mengenal Allah yang penuh kasih, kebaikan, dan kemurahan hati. Pengenalan akan Allah ini, bagi saya, adalah kasih karunia yang luar biasa bagi Faustina. Ini bukan sekadar mengenal Allah secara biasa melalui pengetahuan akal budi, perkiraan, atau perasaan semata. Namun, Allah sendiri yang menariknya masuk dalam persekutuan ilahi itu, sehingga ia mengalami kehadiran dan kasih Allah—diselimuti, tenggelam, dan terbenam dalam samudra kasih-Nya.

Ini bukan lagi soal mengerti siapa itu Allah, tetapi mengalami Allah dan kuat kuasa kasih-Nya bekerja di dalam dirinya. Pengalaman inilah yang memancarkan sukacita dan kebahagiaan sejati, yang tidak semua orang dengan serta-merta dapat mengalaminya. Namun, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Jika Faustina yang sederhana dan merasa dirinya papa bisa mengalami hal demikian, bukankah semua jiwa pun mungkin mengalami hal yang sama? Maka, Faustina begitu rindu agar kebahagiaan ini menjangkau banyak jiwa. Ia tidak mampu menahan hasrat dan kerinduannya untuk diam saja. Sebab, jiwa yang sungguh hidup dalam persekutuan dengan Allah pasti rindu membagikannya kepada orang lain.

Saya teringat masa formasi dasar dulu—sebagai aspiran, postulan, novis—kami diingatkan untuk sungguh-sungguh belajar mengenal Allah. Banyak pembelajaran diberikan untuk membantu mengenal kebenaran iman, menghayati, dan menghidupinya. Kami diajak untuk intens berelasi dengan Allah melalui doa, membaca dan merenungkan Sabda-Nya, menghayati sakramen-sakramen, examen, dan diskresi. Intinya, mengolah diri dan menata batin dengan serius agar sungguh mengenal dan mengalami sendiri siapa Allah bagiku. Sebab, seindah apa pun kebenaran iman yang diwartakan, semuanya harus berakar pada pengalaman pribadi yang mengubah hidup dan mendorong untuk bermisi. Kami sering diingatkan: bagaimana mungkin mengasihi dengan sungguh-sungguh jika diri sendiri belum sungguh sadar atau belum mengalami kasih Allah secara personal? Tidak ada sukacita atau kebahagiaan yang melebihi pengalaman pribadi akan kasih Allah. Justru pengalaman pribadi itulah yang mendorong seseorang dengan kuat untuk bertindak dan mewartakan.

Sejak membaca dan mendalami BHF, merenungkan, menerima dengan hati, dan meyakini misteri Kerahiman Ilahi, serta ambil bagian dalam SKR, saya semakin merasakan bahwa selama seseorang belum “terjamah” oleh Tuhan—belum sungguh mengalami kasih kerahiman-Nya—akan sulit untuk mewartakan Kerahiman Ilahi dengan penuh daya. Bahkan hal ini pun bisa terjadi pada para imam. Namun, para imam yang sungguh mengalami jamahan kasih Kerahiman Ilahi, pasti akan mewartakannya dengan hidup dan penuh kuasa, karena melalui merekalah Kerahiman itu nyata dalam sakramen tobat dan Ekaristi dan perayaan sakramental lainnya dan tugas kegembalaan.

Saya berdoa kepada Allah dan Faustina agar semakin banyak jiwa dijamah oleh kasih-Nya dan bergegas mewartakannya melalui perbuatan, perkataan, dan doa. Saya pun mengambil bagian dan berjuang melakukan apa yang dipercayakan kepadaku, sesuai dengan perkenanan Tuhan. Ikut serta melayani dna berbagi. Saya yakin setiap anggota SKR pun mengambil bagian dengan caranya masing-masing. Ya,.. Tuhan berkarya dalam kesunyian dan secara sangat personal, seperti yang dialami Faustina. Siapa yang dapat menduga bahwa pengalaman yang dulu begitu tersembunyi itu, pada waktunya menyebar ke seluruh dunia dan menjangkau begitu banyak jiwa? Saya percaya, karya Kerahiman Ilahi adalah karya Allah sendiri. Maka, mengenal Allah dan kehidupan ilahi-Nya adalah hal yang mutlak bagi jiwa-jiwa yang rindu menjadi pewarta Kerahiman Ilahi. Mengenal, mengalami Allah dan mewartakannya.
Yesus, Engkau andalanku.