Dua kali aku ditegur untuk membuat diriku siap menghadapi pendertaan-penderitaan yang menantikan aku di Warsawa. Peringatan pertama diberikan kepadaku secara batin oleh suara yang aku dengar, dan yang kedua terjadi dalam misa kudus. Sebelum Hosti diangkat, aku melihat Tuhan Yesus di salib dan Ia berkata kepadaku, Bersiaplah untuk menderita! Aku bersyukur kepada Tuhan atas rahmat peringatan ini dan aku berkata kepada-Nya, „Sudah pasti penderitaanku tidak akan lebih berat daripada penderitaan-Mu, ya Juru Selamatku.” Tetapi, aku menyimpan ini dalam hatiku dan terus menguatkan diriku lewat doa serta penderitaan-penderitaan kecil supaya ketika penderitaan yang lebih besar datang, aku mampu menanggungnya.  BHF 488

Aku menyimpan ini dalam hatiku dan terus menguatkan diriku lewat doa serta penderitaan-penderitaan kecil, supaya ketika penderitaan yang lebih besar datang, aku mampu menanggungnya.
Indah sekali kalimat ini, yang bagiku merupakan sebuah aksi nyata Faustina untuk siap menjalani penderitaan. Rasanya tidak ada cara lain untuk mampu menderita selain belajar menderita dalam hal-hal kecil.

Pengorbanan kecil, belajar tidak mengeluh, belajar sabar, sedikit bertahan dalam rasa sakit, bersiap mendengarkan hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin juga belajar untuk rela menanggung kesepian, sendiri, melakukan sesuatu seorang diri. Yang istimewa adalah sering merenungkan sengsara Tuhan, mengunjungi orang sakit, mendoakan mereka. Sebab dari mereka kita belajar banyak hal. Ketika kita sendiri menderita, kita sudah memiliki banyak pengalaman batin yang secara manusiawi, menguatkan kita untuk bertahan. Bagiku, hidup bersama orang-orang yang menderita, sakit lama, sakit tua, sakit yang tak tersembuhkan, melayani mereka, yang mungkin juga diabaikan, justru memberikan banyak kekuatan dan penghiburan. Ketika sendiri mengalami sedikit ketidaknyamanan, muncul sosok-sosok yang begitu kuat bertahan dalam derita, dan akhirnya kita pun menjadi kuat.

Saya sangat beruntung sejak masa muda tinggal dalam komunitas yang majemuk, melihat sekaligus ikut melayani saudari yang menderita tetapi tetap tekun dan kuat. Ada yang diam-diam berjuang, ada yang begitu gigih, tekun dalam doa, melawan pwnyakit dan berbagai ketidaknyamanan, ada yang pasrah, ads juga yang sulit, penuh pergumulan. Ketika saya alami godaan saat menderita untuk menghindar, saya teringat mereka yang lebih menderita tetapi masih mampu bertahan, berkorban bahkan setia dan tekun.

Ini tentang sakit fisik, yang berkaitan dengan penyakit, kelemahan, dan kemunduran. Namun saya kira, bagi Faustina, pesan Yesus untuk bersiap menderita tidak hanya tentang sakit fisik, tetapi juga penderitaan batin, penderitaan karena iman akan Kristus, dan siap menderita karena misi Kristus. Misi untuk keselamatan jiwa-jiwa. Penderitaan besar bukan hanya dari luar diri, tetapi terutama bagaimana menyangkal diri, merendahkan diri, melepaskan kehendak sendiri untuk memuliakan Tuhan dan mengikuti kehendak-Nya, meskipun tahu risikonya besar, bahkan sampai mempertaruhkan hidup sendiri. Ini sebuah penderitaan yang sungguh nyata.

Bukan kebetulan tepat pula kisah pertobatan Saulus yang direnungkan dalam bacaan hari ini. Yesus berkata kepada Ananias tentang Saulus: “Aku akan menunjukkan kepadanya betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung karena nama-Ku.” Ya, setiap orang yang dipilih Tuhan, yang dijadikan alat pilihan-Nya, seperti Faustina dan banyak orang kudus lainnya, memang harus menderita. Yesus sendiri menderita, para rasul menderita demikian juga semua pengikutNya. Mengapa demikian? Karena memang syarat utama ikut Yesus adalah sangkal diri, pikul salib, ikut Yesus tiap-tiap hari. Bukan sesekali atau kalau sedang senang hati. Jalan penderitaan adalah jalan yang dipilih Allah untuk keselamatan. Kita telah memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat yang telah lebih dahulu mengalami penderitaan yang luar biasa. Maka siapa pun yang ikut serta dalam karya keselamatan-Nya, pasti akan mengalami penderitaan. Penderitaan yang indah karena memiliki makna yang mulia, sebuah persembahan hidup dan pengorbanan diri. Tidak seorang pun yang menderita ditinggalkan oleh Tuhan. Justru semakin menderita, ia tidak hanya sedang berada satu perjalanan dengan Tuhan, tetapi juga digendong oleh Tuhan, berada dalam dekapan hati-Nya dan sangat dicintai Tuhan.

Apakah aku berani menderita untuk Tuhan dan jiwa-jiwa??? Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu aku mencintai-Mu. Engkau juga tahu bahwa kadang aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menderita demi Engkau. Tapi aku percaya akan kasih karunia-Mu yang melimoah untukku. Aku mau menderita dan belajar bersiap-siap. Pegang tanganku erat-erat dsn bimbing aku berjalan bersama-Mu, agar aku terus belajar menderita bersama-Mu dan selalu mengandalkan-Mu,
Yesus, Engkau andalanku.