Sesudah komuni kudus, sekali lagi jiwaku dilimpahi kasih Allah. Aku memulai dalam keagungan-Nya. Di situ aku melihat dengan jelas kehendak-Nya yang harus kulaksanakan, dan sekaligus kelemahan serta kepapaanku sendiri; aku melihat betapa aku tidak dapat melakukan suatu pun tanpa bantuan-Nya. •BHF 493
Aku melihat betapa aku tidak dapat melakukan suatu pun tanpa bantuan-Nya.” Benar adanya. Pengalaman yang disadari oleh Faustina bahwa tanpa bantuan Tuhan, aku tidak dapat melakukan apa-apa. Jangankan hal-hal besar yang barangkali dikehendaki Allah, setengahnya dan membentuk apa pun tidak dapat aku lakukan. Di hadapan Tuhan, aku tak berani mengklaim bahwa aku bisa melakukan sesuatu dari diriku sendiri. Aku sadar betul, setiap hari aku seperti “mati”. Ya… saat tidur nyenyak di malam hari, aku tidak sadar akan apa pun yang aku sudah terjaga dan bisa bangun di pagi hari dalam keadaan sehat dan perasaan yang baik harus bangun… bukan. Aku sangat sadar, bahkan untuk terjaga saja aku tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya Tuhanlah yang punya kekuatan, dan atas kebaikan serta kemurahan-Nya aku selalu diberi kesempatan lagi.
Ini baru satu hal sederhana, tetapi sungguh-sungguh menunjukkan bahwa tanpa pertolongan Tuhan aku tidak bisa apa-apa. Jika aku mau mengisahkan semuanya, rasanya tak akan pernah cukup. Aku hanya bisa mengatakan: sungguh ajaib segala yang Tuhan lakukan dengan kebaikan dan kemurahan-Nya dalam hidup. Tak ada satu pun yang tidak termasuk karya tangan dan rahmat-Nya. Maka sudah pasti, aku sebenarnya tidak bisa apa-apa dari diriku sendiri, semua… semua… dan segala-galanya berasal dari Tuhan.
Membaca dan memikirkan BHF 493, saya merasa seperti sedang berada dalam satu sesi retret: siapakah aku di hadapan Tuhan? Tentang pertolongan Tuhan yang begitu nyata, ajaib, tetap, dan abadi untuk selamanya. Kadang-kadang saya tidak memahami bagaimana mungkin ada orang yang merasa semua adalah usahanya sendiri, tanpa menjelaskan peran Tuhan di dalamnya. Kadang-kadang aku pun merasa puas ketika tanpa sadar terlalu senang atau bangga dengan sedikit pencapaian dari usaha dan perjuanganku. Aku lupa bagaimana aku bisa melewati proses perjuangan dan pergumulan hingga sampai pada titik ini.
Ya Tuhan… betapa karya tangan-Mu tak pernah gagal. Engkau berkarya dengan penuh kuasa, penuh kasih, bahkan begitu detail, tanpa mengharapkan balasan apa pun. Tuhanku sungguh-sungguh Tuhan. Aku merasakan kasih sayang dan pertolongan-Nya sepanjang hidupku. Kesadaran dan keyakinan ini menjadi penguat harapanku akan hari esok yang tak aku ketahui. Apa pun yang akan terjadi, aku percaya penuh: kalau dulu, kemarin, dan hari ini Tuhan adalah satu-satunya Penolongku, maka aku harus tetap berjalan, tetap berjuang, tetap percaya, dan tetap berharap, bahwa sungguh Tuhan tetap akan membantuku seterusnya dsn selamanya.
Inilah dasar memikirkan untuk tetap mempercayai Tuhan, karena tidak ada yang lain yang layak untuk diandalkan. Meski semua ada barangkali kesehatan, pengetahuan, keterampilan, materi, waktu, uang, keluarga, orang-orang yang kucintai, berbagai sarana. Semua itu baik-baik saja, dsn sangat perlu tetapi bisa jadi ada saatnya seolah-olah tampak tidak berguna. Aku teringat keyakinan pemazmur: kuda tidak berguna untuk memberi kemenangan, betapa pun kuat dan tangkasnya, jika bukan Tuhan yang memberi kemenangan. Ya…semua karena Tuhan.
Hatiku tersentuh dan terangkat ke permukaan kesadaran iman siang ini saat memikirkan pengalaman Faustina. Dan dalam hal ini, bolehlah aku berkata: jiwaku dilimpahi kasih Allah dan aku berjanji dalam keagungan-Nya. Seperti Faustina falam Komuni Kudus?? Aku menjawab “ya”.
Dalam seluruh perjalanan hidup? Aku harus —juga menjawab ” Ya”. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Akulah yang harus membuka pintu hatiku, pintu kesadaran imanku utk sadar, sesadar – sadarnya, utk melihat, menyaksikan, merasakan, mensyukuri mengucapkan kasih Tuhan Sang penolong dalam seluruh hidupku. Apakah karrna aku layak?? Bukan! Aku tahu, aku papa, rapuh, patah, berdosa dan mudah.. Apakah aku layak ditolong? Tanpa aku mau pun Tuhan tetap.akan selalu DNA selamanya membantu aku. Inilah yang merupakan rahmat bagi yamg tak terbatas.
Kelimpahan rahmat Tuhan ini mengalir dalam jiwaku—dulu, sekarang, dan selama-lamanya. Pertolongan-Nya nyata, datang pada waktu-Nya, tidak tergantung kapan saya meminta. Sungguh ajaib karya-Mu, ya Tuhan, ak terbatas kasih kerahiman-Mu. Jiwaku bersyukur, berserah dan mengagungkan-Mu. Terpujilah Engkau, Allah pelimpah segala rahmat dan anugerah. Jika aku menuliskannya, tak akan pernah cukup… Aku sudah di sini sambil bersyukur. Sungguh Engkau, Allahku, Penolongku yang setia. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments