Pernah aku mengeluh kepada Tuhan bahwa Ia telah menarik pertolongan-Nya dariku dan bahwa aku akan sendirian lagi dan tidak akan mengetahui apa yang harus kukerjakan. Ketika itu juga aku mendengar kata-kata ini, Jangan takut. Aku senantiasa menyertai engkau.
Sesudah mendengar kata-kata ini, suatu damai yang mendalam sekali lagi menyusup ke dalam jiwaku. Kehadiran-Nya meresapi diriku sepenuhnya dengan cara yang dapat aku rasakan. Rohku dibanjiri dengan sinar dan tubuh juga ikut merasakannya.• BHF 627
Pernah aku mengeluh kepada Tuhan bahwa Ia telah menarik pertolongan-Nya dariku.* Faustina merasa akan sendirian lagi dan tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Aku dapat memahami perasaan seperti itu. Betapa mudahnya merasa sendirian ketika tidak ada orang lain di dekat kita, terlebih ketika sedang menghadapi sesuatu yang membuat hati cemas dan tidak tenang. Padahal, ada saat-saat tertentu ketika aku memang perlu sendiri, untuk mengalami bahwa aku membutuhkan Tuhan.
Tuhan selalu ada dan senantiasa menyertai. Hanya saja, aku yang sering kurang nyaman dengan kesendirian dan kurang sungguh-sungguh yakin akan kehadiran serta penyertaan-Nya. Karena itu, Tuhan kembali meneguhkan Faustina: “Jangan takut. Aku senantiasa menyertai engkau.” Seakan Tuhan perlu mengulanginya agar Faustina sungguh percaya. Cukup mengetahui bahwa Dia ada dan menyertai; semuanya akan beres pada waktunya.
Dua hari berturut-turut aku diajak melihat kebaikan Tuhan yang begitu baik dan begitu peduli. Ia mengerti keadaan dan kecemasan Faustina. Dalam hidupku pun demikian. Ada hal-hal yang membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang sebelum aku sungguh merasa yakin. Ada pula yang perlahan-lahan menjadi lebih baik. Tuhan tidak selalu memberikan pertolongan dengan cara dan waktu yang kuharapkan, tetapi Ia tetap menyertai.
Bagiku, kata-kata Yesus, “Jangan takut, Aku senantiasa menyertai engkau,” menjadi semacam ungkapan lain dari “Akulah andalanmu.” Hanya Tuhan yang pantas kuandalkan, karena Dia ada, hadir, dan berkarya sepanjang waktu, dalam situasi apa pun. Kesadaran ini terutama kuperlukan ketika aku merasa kehilangan sesuatu atau seseorang yang selama ini kuandalkan, atau ketika aku tidak lagi merasakan pertolongan seperti yang kuharapkan.
Mungkin pada saat itulah aku perlu selalu menyadari bahwa kehadiran-Nya sendiri sudah merupakan pertolongan. Rasa aman, tenang, dan damai yang tumbuh ketika aku menyadari bahwa Tuhan ada bersamaku adalah pertolongan yang luar biasa. Bukan Tuhan yang membutuhkan aku untuk mengandalkan-Nya. Akulah yang membutuhkan Tuhan dan mengandalkan-Nya senantiasa. Keluhan yang mungkin ada kiranya karena takut kehilangan Tuhan. Akulah yang membutuhkan kehadiran-Nya, penyertaan-Nya, dan keyakinan bahwa di tangan-Nya aku tidak pernah benar-benar sendirian. Selalu ada Tuhan yang mencintaiku sehabis-habisnya. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments