Pada petang hari, dalam kebaktian kepada Sakramen Maha Kudus selama beberapa waktu, jiwaku berada dalam persekutuan dengan Allah Bapa.

Aku merasakan bahwa aku berada di tangan-Nya seperti seorang anak kecil, dan aku mendengar kata-kata ini dalam jiwaku, Jangan takut akan suatu pun, Putri-Ku. Semua lawan akan hancur di kaki-Ku. Mendengar kata-kata ini, suatu damai yang mendalam dan ketenangan batin yang luar biasa menyelimuti jiwaku. • BHF 626

Faustina menjadi begitu tenang, damai, dan yakin karena sungguh mengalami dirinya seperti seorang anak kecil di tangan-Nya. Apalagi ada peneguhan yang begitu kuat: “Jangan takut akan suatu pun, Putri-Ku. Semua lawan akan hancur di kaki-Ku.” Aku sangat yakin, ketenangan Faustina bukan karena tidak ada masalah atau tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya takut. Ia telah menemukan tempat untuk menautkan hatinya ketika sedang galau, tempat untuk meletakkan segala ketakutan dan kekhawatirannya: di tangan Tuhan. Ia mengalami sendiri jaminan keselamatan hidupnya, bahkan ketika ada musuh yang mengancam, karena percaya bahwa semuanya akan hancur di kaki Tuhan.

Betapa begitu baiknya Tuhan bagi Faustina. Aku yakin bahwa bukan sekadar karena Faustina begitu taat dan mau melaksanakan kehendak Allah dalam panggilannya menjadi rasul Kerahiman Ilahi. Bagiku, pengalaman Faustina merupakan gambaran nyata tentang Allah Bapa yang sedemikian penuh kasih : yang menjaga, memelihara, melindungi dan memberikan rasa aman kepada setiap anak-Nya.

Aku bertanya kepada diriku sendiri: apa yang sebenarnya kualami dalam doa-doaku terutama.adorasi harian 1 jam? Apakah aku sungguh mengalami suatu perjumpaan dengan Allah, atau aku hanya datang membawa daftar kebutuhan dan berharap semuanya dipenuhi? Memang tidak mudah untuk duduk diam, hening, dan menikmati kehadiran Allah; tinggal dalam hadirat-Nya dan membiarkan diri mengalami kuasa kasih dan cinta-Nya. Apalagi saat sedang mengalami problem. Kadang yang lebih menonjol hadir dalam doa-doa bukan Tuhan masalah-masalah yang berseliweran dalam benak. Tuhan sungguh hadir tapi pikiran sibuk dengan masalah.

Aku teringat masa kecilku, ketika masih bersama orang tua, terutama ketika masih bersama ayah. Kehadiran ayah selalu terasa berbeda dari kehadiran ibu. Kadang tanpa berbicara pun, hanya dengan mengetahui bahwa ayah ada, sudah cukup membuatku merasa aman. Tidak takut apa pun. Tidak memikirkan apa yang akan terjadi, karena ada seseorang yang memikirkan dan menjagaku. Setelah dewasa dan tidak lagi memiliki ayah, aku semakin merasakan betapa berbeda rasanya ketika sosok yang selama ini menjadi tempat bersandar itu tidak ada.

Maka aku membayangkan, kalau kehilangan atau tidak lagi merasakan kehadiran Allah dalam hidup, tentu jauh lebih berat. Bukan karena Allah tidak hadir tapi aku yang sibuk sendiri, sehingga tidak begitu sadar akan kehadiran, kasih, peneguhan, penyertaan-Nya. Mungkin aku masih dapat makan, minum, bekerja, beristirahat; mengalami sakit dan kesulitan, juga kegembiraan. Semua itu tetap berjalan. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendasar yang hilang yakni rasa aman dan arah hidup. ku sadari, kehilangan persekutuan dengan Allah berarti kehilangan akar dasariah hidupku sendiri. Sebab persatuan dengan Allah bukan sekadar salah satu bagian dari kehidupan rohani. Allah adalah dasar dan sumber hidupku. Dari Dia, aku memperoleh kekuatan untuk menjalani apa pun saat ini dan nanti.

Hidup tidak selalu mudah, tetapi karena aku tahu, yakin dan percaya kepada siapa hatiku tertambat dan di tangan siapa hidupku berada. Hidupku di tangan Tuhan, bukan sekedar tahu tetapi percaya dengan teguh dan sungguh-sungguh. Bagiku, tidak ada cara lain untuk selalu terikat dengan dasar dan sumber hidup selain menjalin relasi dalam dialog personal dan menghayati, menghidupi “karakter kasih-Nya” dalam hidupku. Agar persatuan itu, bukan hanya dirasakan dalam doa-doa saja tetapi dalam seluruh hidup. Sebab siapa yang mendengar dan melaksanakan Sabda-Nya, Allah tinggal dalam hatinya. Yesus, Engkau andalanku.