SABTU, PEKAN BIASA XXIV
1Kor 15:35-37.42-49; Mzm 56:10.11-12.13-14; Luk 8:4-15.
Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan dua hal penting: kebangkitan tubuh yang baru dalam Kristus, dan Sabda Allah sebagai benih yang harus ditanam dalam hati. Hidup beriman bukan sekadar kata-kata, melainkan transformasi nyata oleh kuasa Sabda dan kebangkitan Kristus.
Melalui perumpamaan tentang penabur benih dan tanah tempat benih itu ditaburkan, Yesus mau menegaskan bagaimana sikap mendengarkan Sabda Allah. Benih ialah Sabda Allah. Sabda itu ditaburkan ke dalam hati setiap orang. Namun benih Sabda itu tidak bisa tumbuh dan berbuah karena terhalang oleh hambatan-hambatan yaitu: burung-burung = iblis; berbatu-batu = pencobaan/ penderitaan; semak duri = kekayaan, kekuatiran dan kenikmatan. Hanya benih yang jatuh di tanah subur yang mampu menghasilkan buah berlimpah.
Terhadap orang-orang yang skeptis tentang kebangkitan, yang tidak bisa dibayangkan, Paulus menegaskan dasar iman Kristen. Melalui perbandingan dengan biji yang ditaburkan, Paulus menegaskan bahwa manusia memiliki tubuh alamiah dan tubuh rohaniah, manusia duniawi dan manusia surgawi. Paulus menyadari bahwa karya Allah tidak bisa dibandingkan dengan segala apapun yang ada. Karena, Allah mampu melakukan hal-hal yang melampaui pikiran manusia.
Apakah aku menyadari dan mengakui karya Allah yang melampaui perhitunganku di dalam diri dan hidupku? Bagaimana aku telah menyediakan lahan hatiku bagi tumbuhnya benih Sabda Allah?
Mari kita hidup sebagai tanah yang baik, menampung Sabda Allah dan menghasilkan buah berlimpah. Dengan harapan akan kebangkitan tubuh baru dalam Kristus, kita diteguhkan untuk hidup setia, sabar, dan berbuah dalam kasih. Mari menyadari dan mengakui karya Allah di dalam diri dan kehidupan kita, menyediakan lahan hati kita bagi tumbuhnya benih Sabda Allah dalam diri dan hidup kita.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments