Saat merenungkan peristiwa Pembaptisan Yesus, hati saya tertuju pada satu hal yang sangat mendasar: seluruh gerak laku kehidupan Yesus digerakkan oleh Roh Kudus. Injil mencatat bahwa Roh Kudus turun ke atas Yesus bukan setelah Ia melakukan mukjizat, melainkan di awal perjalanan hidup-Nya. Saya belajar bahwa Yesus tidak memulai karya-Nya dengan mengandalkan kemampuan diri. Ia melangkah dengan kesadaran penuh bahwa hidup-Nya berada dalam tuntunan Roh. Dari situlah segala tindakan-Nya mengalir—mengajar, menyembuhkan, berjalan bersama orang kecil, bahkan kelak memanggul salib. Semuanya lahir dari ketaatan pada Roh Kudus yang menuntun langkah demi langkah.

Yang semakin menyentuh hati saya adalah suara Bapa yang terdengar dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”
Kata-kata ini diucapkan sebelum Yesus melakukan apa pun. Sebelum karya besar dimulai, Yesus lebih dulu diteguhkan dalam identitas-Nya sebagai Anak yang dikasihi. Saya merasa diteguhkan. Betapa sering dalam hidup ini, ada keinginan untuk  membuktikan diri melalui apa yang dilakukan. Ada keinginan untuk diakui lewat karya, lewat keberhasilan, lewat pelayanan. Padahal Injil hari ini mengingatkan  bahwa karya sejati lahir bukan untuk mencari kasih, melainkan dari kasih yang sudah diterima.

Yesus tidak berkarya untuk mendapatkan pengakuan Bapa. Ia berkarya karena Ia tahu diri-Nya dikasihi. Dan kesadaran itulah yang membuat hidup-Nya utuh, bebas, dan setia sampai akhir. Pembaptisan Tuhan mengajak saya untuk menata kembali dasar hidup saya. Apakah saya sungguh membiarkan Roh Kudus menjadi daya utama dalam setiap keputusan dan langkah? Ataukah saya masih terlalu sering mengandalkan kekuatan sendiri?

Renungan ini juga mengajak saya untuk kembali pada identitas terdalam sebelum menjadi pelayan, pekerja, atau apa pun yang saya lakukan,
saya adalah pribadi yang dikasihi Allah. Dari kesadaran itulah hidup menemukan arah. Dari sanalah pelayanan menjadi ringan.
Dan dari sanalah langkah-langkah kecil sehari-hari menjadi bagian dari karya Allah yang besar. *hm