Ketika aku sendirian, aku mulai merenungkam semangat kemiskinan. Aku melihat dengan jelas bahwa Yesus, meskipun Ia itu Tuhan segala sesuatu , tidak memiliki apa-apa. Berawal dari palungan pinjaman, Ia meniti hidup-Nya sambil berbuat baik kepada semua orang, tetapi Ia sendiri tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.
Dan di kayu salib, aku melihat puncak kemiskinan-Nya karena Ia bahkan tidak mempunyai pakaian untuk Ia kenakan. Oh Yesus, lewat kaul kemiskinan, aku ingin menjadi seperti Engkau; kemiskinan akan menjadi ibuku.
Secara lahiriah kita hendaknya tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki apa-apa untuk diperlakukan sebagai milik kita sendiri. Demikian pula secara batiniah, kita harus tidak menginginkan apa-apa. Dan, dalam Sakramen Maha Kudus, betapa besarnya kemiskinan-Mu! Adakah suatu jiwa yang ditinggalkan seperti Engkau di salib, oh Yesus!?BHF 533
Dalam Sakramen Mahakudus, betapa agung kemiskinan-Mu! Engkau hadir begitu sederhana, tersembunyi, diam, bahkan sering ditinggalkan. Adakah jiwa yang lebih ditinggalkan daripada Engkau di salib, ya Yesus?* Merenungkan ini, aku hampir tak mampu menahan haru. Betapa dalam dan indahnya permenungan Faustina tentang kemiskinan Yesus. Sungguh menyentuh hati. Kesempatan indah bagiku merenung bersama Faustina di hadapan Sakramen Mahakudus.
Kemiskinan Yesus begitu nyata sejak palungan pinjaman hingga kayu salib yang hina. Bahkan kubur tempat meletakkan jenazah-Nya pun adalah kubur pinjaman. Dia yang Mahakuasa dan memiliki segalanya, dunia dan seisinya adalah milik-Nya, rela mengosongkan diri, melepaskan segalanya, dan tidak mempertahankan apa pun bagi diri-Nya sendiri.
Aku teringat akan sabda Rasul Paulus:
“Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9). Ternyata kemiskinan Yesus, ada maksud dan tujuannya, yang menurut Paulus rasul, untuk memperkaya jiwa-jiwa yang miskin merana ini. Mengapa Dia mau menjadi miskin? Untuk apa menjadi miskin. Tidak enak, hidup dalam kemiskinan, mengapa mau? Karena cinta-Nya kepadaku, kepadamu, kepada kita, kepada jiwa-jiwa, kepada dunia, kepada semua ciptaan-Nya.
Menjadi miskin merupakan pilihan hati dan kehendak bebas Yesus, yang dijalani dengan sangat amat iklas sebagai seorang manusia. Yang tidak menginginkan apa-apa, selain keselamatan jiwa-jiwa. Aku tertegun merenungkannya. Lalu, apa yang dapat dibanggakan oleh seorang anak manusia yang mengikuti Yesus, Tuhan yang penuh kuasa, penuh daya, kaya akan rahmat dan belas kasih?
Pada dasarnya manusia begitu miskin, sungguh – sungguh miskin, merana dan malang nasibnya, karena terlahir dalam dosa, jauh dari Allah bahkan tidak memiliki Allah meskipun Allah memilikinya. Lahir dalam keadaan telanjang tak punya apa-apa, tak membawa apa-apa, bergantung penuh pada Allah dan ibu/orang tuanya. Seberapa sering aku sungguh merenungkan kemiskinan dasariahku ini? Belum lagi Kemiskinan imani? Kemiskinan materi? Kemiskinan sosial? Bukankah segala bentuk kemiskinan itu telah dihayati secara sempurna oleh Yesus sendiri? Aku merenung, mengingat , terharu sekaligus malu, tapi juga penuh syukur.
Hari ini aku kembali diajak untuk menatap Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Aku teringat kembali akan BHF 525: “Hidup-Ku sejak lahir sampai mati di salib akan menjadi model bagimu. Tataplah Aku dan hiduplah menurut apa yang engkau lihat. Aku ingin agar engkau membenamkan diri dalam Roh-Ku dan memahami bahwa Aku lemah lembut dan rendah hati.”
Aku menatap-Nya dan sadar diriku begitu miskin, malang, merana. Aku benamkan hatiku, diriku, jiwa ragaku dalam Roh kasih-Nya yang kaya raya akan rahmat. Akhirnya aku memahami bahwa Ia begitu sederhana, begitu lemah lembut, dan begitu rendah hati, penuh cinta. Di hadapan-Nya aku merenung kaul kemiskinan yang kuikrarkan dan selalu kubaharui secara seremonial. Adakah aku memiliki roh kemiskinan? Adakah aku sungguh-sungguh miskin? Nyatanya, aku juga memiliki semua yang dimiliki orang lain. Apakah yang membedakan aku dari yang lain? Aku merasa Tuhan memandangku dengan penuh kasih, dan hatiku tahu jawabannya.
Adakah kemiskinan tanpa kerendahan hati? Adakah kemiskinan tanpa kelemahlembutan? Bukankah kemiskinan yang sejati lahir dari hati yang rendah dan lembut seperti hati Kristus? Tampaknya, jalan kemiskinan searah, sejalan, sejalur dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan.
Kemiskinan sejati tentang kesadaran akan siapa pemilik hidup ini. Tentang kasih yang tanpa batas. Tentang kerendahan hati yang sederhana..Tentang kelemahlembutan.Tentang cinta yang menyelamatkan. Tentang pengorbanan yang penuh cinta. Tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Tentang keberanian iman untuk berjalan sendiran dengan Allah. Itulah Yesus. Itulah miskin. Dan jalan itu juga pilihanku.
Faustina melihat dengan sangat jelas bahwa Yesus, meskipun Ia adalah Tuhan atas segala sesuatu, tidak memiliki apa-apa. Tetapi Ia berjalan bersama Allah, bersatu dengan Allah. Faustina yang miskin itu, juga selalu bersatu dengan Yesus, mengandalkan Yesus dan belas kasih-Nya. Faustina yang miskin itu begitu kaya akan rahmat Allah karena diperkaya oleh Yesus.
Lalu siapakah aku ini, yang masih merasa memiliki sesuatu? Yang merasa mempunyai kuasa? Yang merasa mempunyai hak? Yang masih ingin diakui dan dihargai? Yang belum rela melepas banyak hal. Aku mau seperti Faustina, yang miskin tapi kaya karena diperkaya Yesusku.
Tuhan, ampunilah aku, orang berdosa ini.
Ajarilah aku kemiskinan-Mu. Penuhi hatiku dengan Roh belas kasih-Mu.
Ajarilah aku dan pimpin aku dlaam kerendahan hati-Mu.
Ajarilah aku dan tuntun hatiku kepada jalan kelemahlembutan-Mu.
Aku percaya, hanya dengan menatap Engkau, yang miskin, rendah hati, dan lemah lembut, aku dapat belajar menjadi murid-Mu yang sejati. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments