Malam Natal 1935
Sejak pagi buta, rohku tenggelam dalam Allah. Kehadiran-Nya merasuki seluruh diriku.
Pada petang hari, sebelum makan malam, aku pergi ke kapel selama beberapa menit untuk berbagi opłatek, pada kaki Yesus, dengan mereka yang jauh dan yang sangat dikasihi Yesus dan yang kepadanya aku berutang sangat banyak.
Tidak lama sesudah aku berbagi opłatek secara rohani dengan orang tertentu, aku mendengar kata-kata ini dalam diriku, Bagi-Ku, hatinya adalah suatu surga di atas bumi.
Ketika aku meninggalkan kapel, dalam sekejap kemahakuasaan Allah meliputi aku. Aku mengerti betapa besarnya kasih Allah kepada kita. Oh, seandainya manusia dapat menangkap sekurang-kurangnya sebagian dari kasih itu dan memahaminya! • BHF 574
“Bagi-Ku, hatinya adalah suatu surga di atas bumi.” Hati siapakah yang dimaksud? Apakah hati Faustina yang begitu dipenuhi kasih kepada Tuhan dan jiwa-jiwa? Ataukah hati seseorang yang kepadanya Faustina membagikan opłatek secara rohani? Aku tidak tahu. Mungkin memang tidak perlu tahu siapa orangnya. Tetapi kalimat ini mengundangku untuk merenungkan maknanya.
Umumnya orang mengatakan bahwa surga adalah tempat Allah bersemayam, tempat penuh damai, sukacita, dan kasih. Berdiam di dalam Hati Tuhan adalah surga bagi manusia. Namun hari ini Yesus justru melengkapi cara pandangku. Ternyata, hati manusia pun dapat menjadi surga di atas bumi bagi Allah.
Aku teringat akan Sabda Tuhan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus, tempat kediaman Allah. Jika Allah berkenan tinggal di dalam hati manusia, bukankah hati itu dapat menjadi surga di atas bumi? Aku bertanya kepada diriku sendiri, disposisi hati seperti apakah yang membuat Allah dapat berkata, “Bagi-Ku, hatinya adalah suatu surga di atas bumi”?
Barangkali bukan hati yang hebat menurut ukuran manusia, melainkan hati yang murni, rendah hati, sederhana, penuh kasih, dan terbuka kepada Allah. Hati yang memberi ruang bagi Allah untuk tinggal, berkarya, dan mengasihi. Hati yang tidak dipenuhi oleh ego, melainkan oleh kerinduan untuk menyenangkan Hati Tuhan.
Aku ingat renungan sebelumnya : “Allah Sang Terang selalu tinggal dalam hati yang murni dan rendah hati.” Mungkin ketika Allah tinggal begitu lama dalam sebuah hati, kiranya hati itu terus-menerus dimurnikan oleh kasih, kepercayaan, dan penyerahan diri. Sehingga akhirnya hati itu menjadi surga di atas bumi bagi Allah. Betapa indahnya bila Tuhan berkenan memandang hati manusia dengan sukacita dan berkata, “Di sinilah Aku betah tinggal. Akan sangat berbahagia. Hati ini menjadi surga-Ku di atas bumi.”
Barangkali ini juga merupakan panggilan setiap orang beriman yakni bukan hanya merindukan surga nanti, tetapi di sini, di bumi ini, menjadikan hati ini sebagai tempat yang layak bagi Allah untuk tinggal mulai sekarang. Sesudahnya, bisa jadi berkat rahmat kerahiman-Nya yang berlimpah-limpah, hatiku, hatimu, hati kita, dapat dipandang oleh Tuhan, sebagai surga di atas bumi. Yesus, Engkau andalanku
Recent Comments