SELASA, PEKAN BIASA XVIII, PERINGATAN WAJIB ST. YOHANES MARIA VIANNEY, IMAM. “
Yer. 30:1-2.12-15.18-22; Mzm. 102:16-18.19-21.29.22-23; Mat. 15:1-2.10-14

Hari ini Gereja merayakan Peringatan Wajib St. Yohanes Maria Vianney, imam sederhana dari Ars, Prancis, yang dikenal sebagai pelindung para imam/pastor paroki. Hidupnya menunjukkan bahwa kesetiaan pada doa, pelayanan, dan firman Allah mampu mengubah hati umat. Bacaan hari ini meneguhkan panggilan itu: hanya firman Allah yang sejati membawa pemulihan, bukan tradisi kosong atau kata-kata manis yang menyesatkan.
Israel mengalami kehancuran. Kehancuran itu terjadi karena banyak kesalahan yang dilakukan dan besarlah jumlah dosa mereka. Dalam situasi seperti itu, nabi Yeremia tampil mewartakan bahwa masih ada harapan. Pada Allah ada kemerdekaan yang memungkinkan Israel membebaskan diri dari segala kejahatan dan dosa yang menghambat dan menghimpit mereka. Tetapi, untuk itu setiap orang harus membuka diri dan datang kepada Allah.

Orang farisi dan ahli Taurat datang kepada Yesus. Mereka memprotes sikap para murid-Nya yang dianggap tidak mematuhi adat-istiadat nenek moyang, yaitu tidak membasuh tangan sebelum makan. Hal ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengingatkan orang banyak bahwa bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan seseorang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. Dengan demikian Yesus menandaskan bahwa kejujuran dan ketulusan hati merupakan tuntutan yang paling dasariah. Sebab, kejahatan bisa saja bercokol dalam hati seseorang dan membuat seseorang menjadi buta secara imani. Jika demikian orang beriman itu tidak akan mampu menuntun orang lain!

Santo Yohanes Maria Vianney adalah contoh dan model kesetiaan dan keyakinan akan panggilan dan perutusan bagi setiap orang beriman. Ia yang dianggap lemah dan bodoh itu telah menyatakan daya Allah yang luar biasa dalam kesetiaan dan keyakinan. Hal ini terjadi karena ia memiliki kejujuran dan ketulusan hati dalam membangun sikap imannya. Ia akhirnya diangkat oleh Gereja menjadi pelindung surgawi bagi para Pastor Paroki.
Sejauh mana aku menyadari dan mengimani bahwa Allah itu kemerdekaanku? Bagaimana aku telah percaya dan mengandalkan Allah dalam setiap tantangan hidupku? Bagaimana kepekaan hati telah aku kembangkan dalam hidup imanku? Apakah aku telah mewujudkan kejujuran dan ketulusan hatiku?

Mari kita belajar dari St. Yohanes Maria Vianney untuk setia pada firman Allah, hidup sederhana, dan melayani dengan kasih. Hanya dengan firman Allah kita dipulihkan, dan hanya dengan Kristus kita dituntun menuju hidup kekal. Mari menyadari dan mengimani bahwa Allah itu kemerdekaan kita dan mari mengembangkan kepercayaan dan mengandalkan Allah dalam setiap tantangan hidup kita. Mari membangun kepekaan hati, untuk senantiasa bersikap jujur dan tulus dalam hidup beriman kita.
Tuhan memberkati. RD AMT