MINGGU BIASA XVIII
Yes. 55:1-3; Mzm. 145:8-9,15-16,17-18; Rm. 8:35,37-39; Mat. 14:13-21.

Bacaan hari ini menyingkapkan wajah Allah yang penuh kasih, yang mengundang kita untuk datang kepada-Nya tanpa syarat. Ia memberi bukan hanya makanan jasmani, tetapi juga santapan rohani yang menghidupkan. Kasih-Nya tidak terbatas dan tidak pernah meninggalkan kita.

Ketika berada di pembuangan, Israel mengalami situasi yang amat sulit. Segala-galanya serba kurang. Sehebat apa pun itu, mereka tidak bisa lagi mengandalkan diri mereka sendiri. Situasi demikian menjadi titik tolak pewartaan nabi Yesaya untuk menyadarkan umat pilihan Allah, di mana letak kebutuhan mereka yang sebenarnya dan kepada siapa mereka harus berharap. Sebab, bila kekuatan dan kehebatan manusia sudah terbatas, ia tidak sanggup lagi berbuat apa pun. Tidak ada pilihan lain, kecuali manusia itu harus berpaling dan berharap kepada Allah sumber dan jaminan kehidupan. Allah senantiasa berkenan memberi, bahkan secara berkelimpahan. Jika demikian, mengapa manusia tidak datang senantiasa kepada Allah?

Ketika melihat orang banyak datang kepada-Nya, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan. Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Namun, menjelang malam para murid-Nya mulai cemas tentang bagaimana orang banyak itu harus makan. Maka mereka datang kepada Yesus supaya menyuruh orang banyak itu pergi ke desa-desa sekitar membeli makanan. Reaksi Yesus sangat berbeda. Ia justru menyuruh para murid-Nyalah yang harus memberi orang banyak itu makan. Para murid merasa bahwa hal itu mustahil, sebab pada mereka hanya ada lima roti dan dua ikan. Namun, Yesus justru mengambil roti dan ikan itu. Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat. Lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada para murid-Nya. Para murid-Nya membagikannya kepada orang banyak. Mereka semua makan sampai kenyang, bahkan potongan-potongan roti yang tersisa dua belas bakul penuh. Melalui tindakan itu Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa hanya Dia-lah yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, bahkan berkelimpahan!
Dalam rangakaian lima pertanyaan dan tujuh deretan bahaya atau kesukaran yang mengancam, Paulus menandaskan keterjaminan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Melalui lukisan itu, Paulus mengingatkan bahwa kesulitan dan penderitaan sebesar apa pun tidak akan dapat memisahkan setiap orang beriman dari cinta kasih Kristus. Maka tuntutan bagi setiap orang beriman adalah membangun sikap positif, keteguhan dan kepastian akan jaminan Allah bagi setiap orang.

Sejauh mana aku telah mengandalkan Allah bagi hidupku? Apakah aku sungguh percaya akan jaminan penyelenggaraan Allah bagi hidupku? Apa dan bagaiman sikapku berhadapan dengan kelemahan, keterbatasan dan kekurangan yang aku miliki? Beranikah aku membawanya kepada Allah untuk dijadikan berkat bagi sesamaku? Apa saja bahaya yang mengancam keteguhan imanku kepada Allah?
Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita bahwa kasih Allah tidak terbatas dan selalu mencukupi. Mari kita belajar mempercayakan hidup kita kepada-Nya, menyerahkan apa yang kita miliki, sekecil apa pun, agar Tuhan menggunakannya menjadi berkat bagi sesama. Mari senantiasa mengandalkan Allah yang menjadi jaminan kepastian hidup kita. Mari berani berbagi terhadap sesama dari kekurangan dan kelemahan diri kita. Mari membangun sikap positif, keteguhan dan kepastian akan jaminan Allah bagi setiap orang.
Tuhan memberkati. RD AMT