Pernah, ketika bapak pengakuanku menyuruh aku mengucapkan “Kemuliaan kepada Bapa” sebagai penitensi, aku membutuhkan waktu yang amat panjang untuk melakukannya; berulang kali aku memulainya, tetapi tidak dapat menyelesaikannya sebab rohku menjadi satu dengan Allah, dan aku tidak dapat berkonsentrasi pada doa itu.

Berulang kali, di luar kehendakku, aku diliputi kemahakuasaan Allah dan sama sekali tenggelam di dalam Dia lewat kasih dan kemudian aku tidak tahu apa yang terjadi di sekitarku.

Ketika aku memberi tahu bapak pengakuanku bahwa doa singkat ini sering menyita amat banyak waktuku dan bahwa kadang-kadang aku bahkan tidak dapat menyelesaikannya, ia menyuruh aku mengucapkannya pada saat itu juga di kamar pengakuan.

Tetapi, rohku tenggelam dalam Allah, dan meskipun aku berusaha, aku tidak dapat berpikir seperti yang aku inginkan. 

Maka, bapak pengakuan berkata, “Mari, ulangilah sesudah aku.” Aku mengulangi setiap kata, tetapi ketika aku mengucapkan setiap kata, rohku membenamkan diri dalam Pribadi yang sedang kusebut. BHF 577

Kemuliaan kepada Bapa… Aku tertegun menyelami kisah Faustina yang, saat mengucapkan doa “Kemuliaan kepada Bapa…”, tidak sanggup menyelesaikannya karena hati dan rohnya terbenam dalam Allah.

Doa ini sudah begitu sering kuucapkan dan kudaraskan. Bahkan, karena sudah hafal sejak kecil, sering kali aku mengucapkannya tanpa sadar, sekadar menjadi rangkaian kata yang berlalu begitu saja. Hari ini aku mencoba mengucapkannya perlahan-lahan, berulang-ulang. Saat menyebut Bapa, aku membayangkan Dia yang Mahabesar namun penuh kasih sayang. Saat menyebut Putra, aku memandang Yesus yang datang menyelamatkan manusia. Saat menyebut Roh Kudus, aku membuka hati pada Roh yang tinggal dan berkarya dalam diriku. Ternyata, doa yang singkat itu menjadi begitu lama dan terasa berbeda, karena setiap kata mulai meresap ke dalam hati.

Faustina tentu mengalami lebih dari itu. Seluruh jiwa dan raganya terbenam dalam Allah. Ia masuk ke dalam misteri Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dalam kesatuan kasih yang begitu mesra.
Faustina tidak sekadar mengucapkan doa seperti yang sering kulakukan, bahkan kadang dengan tergesa-gesa dan tanpa penghayatan. Baginya, doa adalah masuk ke dalam misteri Allah, berada bersama-Nya, dan bersatu dengan Pribadi yang disapa dalam doa. Sungguh indah.

Renungan ini menyapaku untuk menata kembali doa-doa vokal yang setiap hari kuucapkan. Aku belajar dari Faustina bahwa berdoa berarti menyapa, hadir, dan membangun perjumpaan yang sungguh dengan Allah; bukan sekadar mengucapkan kata-kata sementara pikiran dan hati mengembara ke mana-mana.

Hari ini aku ingin belajar mengucapkan doa Kemuliaan kepada Bapa dengan lebih sadar. Belajar membenamkan diri dalam Allah. Belajar menyatukan setiap kata yang kuucapkan dengan Pribadi Allah yang sungguh hadir. Berdoa dengan seluruh jiwa, hati, harapan, dan cinta, karena sesungguhnya Tuhan tinggal di dalam hati dan selalu menyapa dengan kasih-Nya.
Yesus, ajarilah aku berdoa. Yesus, Engkau andalanku.