Sepanjang seluruh renungan, aku melihat Tuhan Yesus pada altar. Ia mengenakan pakaian putih, tangan-Nya memegang buku catatan tempat aku menulis semua hal ini. Sepanjang seluruh renungan Yesus terus membuka halaman-halaman buku catatan itu dan tinggal diam.

Tetapi, hatiku tidak mampu menahan api yang bernyala-nyala di dalam jiwaku. Aku berusaha sungguh-sungguh dengan sekuat kehendakku untuk mengendalikan diri dan tidak membiarkan orang lain mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam jiwaku. Tetapi, menjelang akhir renungan, aku merasa bahwa aku sama sekali tidak mampu mengendalikan diri.

Kemudian Yesus berkata kepadaku, Engkau belum menulis segala sesuatu di dalam buku catatan tentang kebaikan-Ku kepada umat manusia. Aku ingin supaya engkau tidak menghilangkan suatu pun; Aku ingin agar hatimu bertumpu kuat dalam kedamaian.

Engkau belum menulis segala sesuatu di dalam buku catatan tentang kebaikan-Ku kepada umat manusia.
Membaca dan merenungkan SKR hari ini, aku sedikit terkejut, sebab baru disadarkan kembali oleh pengalaman Faustina, di mana Yesus memegang dan membuka buku catatan Faustina. Aku bertanya sendiri, Yesus membaca tulisan Faustina? Pasti. Setiap huruf, kata, kalimat, bahkan maknanya jelas bagi Yesus. ( BHF 459)

Aku terpesona, merasakan betapa Yesus begitu penuh perhatian, detail. Aku merasa Yesus seperti seorang guru yang memeriksa catatan murid-murid-Nya, dalam diam tetapi bisa memberikan komentar.
Selama ini saya tahu, saya sadar Yesus adalah Guru sejak awal, namun hampir tak pernah sadar kalau sebegitu detailnya sampai memegang buku catatan dan memeriksanya. Serius dan sungguh-sungguh, tidak sekadar atau sambil lalu.
Saya jadi ingat, jangan-jangan sikap Faustina ketika Yesus bolak-balik halaman catatannya seperti kebanyakan anak sekolah yang agak grogi, penasaran, malu-malu ketika catatan atau hasil ujiannya diperiksa gurunya. Kalau yakin benar, tentu lebih percaya diri, tetapi jika ada sesuatu yang barangkali asal saja atau ada yang disembunyikan, memang malu-malu.
Saya jadi malu, mengenang kebiasaanku terhadap anak didik dan formandi. Jarang aku menaruh perhatian atau sedetail seperti Yesus. Rasanya hari ini tamparan keras untukku dalam merenung SKR ini.

Saya memaknai bahwa dengan sikap Yesus seperti itu, Dia begitu menghargai usaha dan perjuangan Faustina untuk menulis catatan renungannya. Dalam diam Yesus membaca, bahkan meskipun kurang, Yesus tidak mencela atau marah. Hanya menambahkan sedikit catatan yang sangat positif: “Engkau belum menulis segala sesuatu tentang kebaikan-Ku kepada umat manusia.” Dan Faustina tentu tahu apa yang seharusnya ditulis.
Saya juga merenung, selama ini selalu menulis, mulai dari jurnal harian, renungan, artikel rohani, sharing, bahkan berani berbagi renungan di SKR, apakah aku sudah menulis tentang kebaikan Allah, kasih, kemurahan, dan kerahiman Allah? Waduh! Saya mencoba mengingat-ingat, tetapi tak bisa mengingatnya, karena saya menulis saja sesuai dorongan hati, tanpa tujuan, tanpa berpikir lebih. Andai tak tertulis, bisa jadi dalam pikiranku kurang teringat, tersimpan, terakumulasi kasih dan kebaikan Allah. Sebab aku pasti menulis sesuai dengan pikiranku.
Ya, sudah! Apa pun terjadi, semua sudah terjadi. Ini menjadi refleksi serius bagiku. Aku jadi malu sendiri. Dan kini saat menulis ini, saya tiba-tiba merasakan Yesus seperti melihat dari belakangku apa saja yang aku tulis. Rasanya ingin menutup dengan tanganku apa yang kutulis, seperti pengalaman saat menjadi anak sekolah di masa lalu.

Tetapi, sudahlah. Yesus memang Guruku yang baik. Kalau guru-guruku di masa sekolah semuanya baik dan penyayang, apalagi Yesus, Tuhanku, sungguh Guru yang sangat baik, penuh kasih dan perhatian, cinta dan kasih sayang. Aku tahu, dalam benak guru hanya satu kerinduan: melihat anak muridnya bertumbuh, berkembang menjadi lebih bisa, pintar, cerdas, dan berkarakter.
Sungguh, renungan indah SKR hari ini menginspirasi aku. Aku menulis ini sedang duduk di ruang tunggu bandara, besok akan berjumpa dengan banyak guru dan karyawanku dalam supervisi dan visitasi. Sudah ada banyak rancangan dalam pikiranku apa yang akan kulakukan pada mereka. Membaca SKR hari ini, semua rancangan rontok, hilang. Aku harus ubah semuanya. Ya, harus mulai dengan mengisahkan tentang kebaikan Allah pada mereka, pada kami, pada karya-karya kami. Entah, saya yakin sekali jika sungguh kebaikan Allah pada mereka secara pribadi, bukankah akan lebih mudah terjadi transformasi hidup? Saya jadi sangat bersemangat dan bersukacita melakukan perjalanan hari ini, karena inspirasi dari Guruku yang maha baik, Yesus Kristus, dalam pengalaman-Nya bersama Faustina.
Yesus, Engkau andalanku.