PESTA PEMBAPTISAN TUHAN
Yes. 42:1-4,6-7; Mzm. 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10; Kis. 10:34-38; Mat. 3:13-17

Pesta Pembaptisan Tuhan kita rayakan setelah Epifani sebagai penutup masa Natal dan menandai awal pelayanan publik Yesus. Letak perayaan ini sebelum Masa Biasa menunjukkan transisi dari perayaan kelahiran dan pewahyuan Kristus menuju kehidupan sehari-hari Gereja yang mengikuti teladan pelayananan-Nya. Itu berarti, Pesta Pembaptisan Tuhan ini bukan hanya sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, tetapi merayakan momen penting di mana Yesus menegaskan identitas diri dan misi-Nya. Ia memperlihatkan kerendahan hati, dan menyatakan diri sebagai Anak Allah. Bagi kita umat Kristiani, pesta ini juga mengingatkan kembali panggilan baptisan yang telah kita terima: hidup sebagai anak-anak Allah yang setia, penuh kasih, dan siap melayani.

Setelah kembali dari pembuangan di Babilonia, Umat Israel mengalami kelesuan rohani dan sosial yang sangat dalam. Hal ini terjadi karena kenyataan hidup yang mereka alami tidak seindah bayangan dan harapan mereka. Dalam situasi itu, nabi Yesaya tampil mewartakan nubuat yang menghadirkan sosok Hamba Tuhan yang dipilih Allah, penuh Roh Kudus. Hamba Tuhan yang dipilih Allah, penuh dengan Roh-Nya ini akan membawa keadilan dengan kelembutan, tidak mematahkan buluh yang terkulai, tidak memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Ia diutus sebagai terang bagi bangsa-bangsa, membuka mata yang buta, membebaskan yang tertawan, dan menghadirkan keselamatan. Gambaran ini menunjuk kepada Mesias yang akan datang dengan misi pelayanan, bukan kekerasan.Dalam tradisi Kristen, nubuat ini dipahami dan diimani penggenapan dalam diri Yesus Kristus, terutama saat pembaptisan-Nya, yang menandai awal perutusan-Nya sebagai Hamba Tuhan.

Hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Injil Matius menampilkan Yesus yang datang kepada Yohanes untuk dibaptis di Sungai Yordan. Yohanes sempat menolak, tetapi Yesus menegaskan: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Saat Yesus dibaptis, langit terbuka, Roh Kudus turun seperti merpati, dan suara Bapa terdengar: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Peristiwa ini menegaskan identitas Yesus sebagai Putra Allah dan awal karya publik-Nya di dunia. Baptisan Yesus bukan karena Ia berdosa, melainkan solidaritas dengan manusia dan penegasan misi-Nya sebagai Mesias.
Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:34-38 menegaskan bahwa Baptisan Yesus menjadi awal perutusan-Nya: Ia diurapi oleh Roh Kudus untuk karya pelayanan. Ia diutus Allah, diurapi dengan Roh Kudus dan kuasa, lalu berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis. Allah tidak membeda-bedakan orang. Siapa pun yang takut akan Dia dan berbuat baik, berkenan kepada-Nya. Pesan ini meneguhkan dan menegaskan bahwa keselamatan bersifat universal, tidak terbatas pada satu bangsa.

Apa makna semuanya ini bagi kita? Pembaptisan Yesus mengingatkan kita akan pembaptisan kita sendiri. Melalui baptisan, kita menerima identitas sebagai anak-anak Allah, dipanggil untuk hidup dalam terang dan damai. Namun dalam kenyataan, dunia kita sering diliputi kekerasan, intoleransi, dan ketidakadilan. Banyak orang merasa “buluh yang terkulai” atau “sumbu yang pudar nyalanya.” Di sinilah panggilan kita: menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan, pelayanan, dan solidaritas. Pada pesta pembaptisan Yesus ini, kita diajak untuk menghidupi identitas diri kita sebagai anak Allah: jangan hanya bangga sebagai orang yang dibaptis, tetapi mari hiduplah sesuai dengan iman. Membawa terang dan damai di tengah keluarga, sekolah, pekerjaan, dan masyarakat, jadilah pribadi yang meneguhkan, bukan yang mematahkan. Seperti Petrus, kita diajak membuka diri pada semua orang tanpa diskriminasi, sebab Allah berkenan kepada siapa pun yang berbuat baik.

Saudara-saudari, pembaptisan Yesus adalah awal perutusan-Nya. Pembaptisan kita adalah awal panggilan kita. Mari kita hidup sebagai anak-anak Allah yang membawa terang Kristus dan damai-Nya ke dunia. Dengan cara itu, suara Bapa pun bergema atas kita: “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Tuhan memberkati. * RD AMT