SENIN, PEKAN ADVEN I PERINGATAN WAJIB BEATO DIONISIUS DAN REDEMPTUS, BIARAWAN, MARTIR DI INDONESIA “
Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mzm 122:1-2.3-4a.(Mzm 122: 4b-5.6-7.) Mzm 122:8-9; Mat 8:5-11

Hari ini kita memperingati dua martir di Indonesia yang luar biasa: Beato Dionisius dan Redemptus, dua biarawan yang menjadi saksi Kristus hingga titik darah penghabisan di tanah kita sendiri. Mereka bukan hanya simbol keberanian, tetapi juga teladan iman yang hidup dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan tiga hal penting: Visi damai dan terang dari Yesaya, Kerinduan akan kedamaian dari Mazmur, Iman yang menyentuh hati Yesus dalam Injil.

Gunung Sion yang di atasnya dibangun Bait Allah diakui sebagai Gunung Allah, gunung yang kudus. Gunung Sion dipandang sebagai pusat bumi dan penting bagi seluruh dunia (bdk. Mzm 46-48). Yesaya menubuatkan bahwa pada khir zaman Gunung Sion akan menjadi pusat, tujuan segala bangsa. Semua bangsa akan berduyun-duyun ke sana karena di sana Tuhan akan mengajarkan jalan-jalan-Nya kepada umat-Nya. Di sanalah Tuhan akan menjadi hakim menunjukkan jalan-jalan-Nya. Di sana dan dari sanalah para bangsa akan memperoleh dan melaksanakan kedamaian. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan. Beato Dionisius dan Redemptus hidup di masa penuh ketegangan dan konflik. Namun mereka tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan kesetiaan dan kasih. Mereka adalah contoh nyata dari orang yang “berjalan dalam terang Tuhan.”

Bukan hanya Israel yang menerima janji keselamatan. Semua orang, siapa saja yang menaruh kepercayaan kepada-Nya. Mereka akan masuk ke dalam Kerajaan-Nya dan ikut menikmati Perjamuan Keselamatan. Sembuhnya hamba perwira Romawi itu menandaskan kebenaran iman ini. Yesus memuji iman perwira asing itu. Ia bahkan menegaskan bahwa iman sebesar itu melampaui iman orang-orang Israel sebagai bangsa terpilih. Kata-kata perwira itu senantiasa kita ulangi lagi dan lagi dalam setiap perayaan Ekaristi: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepata kata, maka hambaku itu akan sembuh”. Beato Dionisius dan Redemptus adalah orang-orang yang memiliki iman seperti perwira itu—iman yang rendah hati, percaya, dan penuh kasih. Mereka tidak menuntut mukjizat, tetapi menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan.

Dionisius dan Redemptus bertemu di biara Karmel. Suatu ketika Raja Muda di Goa bermaksud mengirim utusan ke Aceh untuk menjalin persahabatan yang dulu pernah terjalin namun tidak berjalan secara baik. Sebagai seorang bekas pelaut yang sudah pernah datang ke Banten, Pastor Dionisius ditunjuk sebagai almosenir, juru bahasa dan pandu laut. Dalam rombongan itu ikut serta juga Bruder Redemptus. Kedatangan mereka disambut secara ramah oleh orang Aceh. Tetapi rupanya keramahan mereka hanya tipuan belaka. Orang-orang Belanda telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan menyebarkan isu bahwa bangsa Portugis datang hanya untuk meng-Katolik-an bangsa Aceh yang sudah memeluk agama Islam. Maka mereka ditangkap, dipenjarakan dan dibunuh pada tanggal 29 November 1638. Kemartiran mereka merepotkan orang-orang di sekitar itu. Jenazah mereka tidak hancur selama 7 bulan, tetap segar seperti sedang tidur. Tahun 1900 mereka digelari sebagai “beato”.

Sebagai orang beriman, apakah aku sungguh menyadari bahwa Tuhan adalah damai sejahtera dan terang hidupku? Bagaimana aku mempersiapkan diriku untuk menyambut kedatangan Tuhan itu selama masa Adven ini? Apa niat dan rencanaku untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan yang membawa harapan, damai sejahtera dan terang bagi kehidupan dan keselamatanku?

Martir bukan hanya mereka yang mati demi iman, tetapi mereka yang hidup sepenuhnya untuk Tuhan, bahkan dalam hal-hal kecil. Mari kita belajar dari Beato Dionisius dan Redemptus: kesetiaan, damai, dan iman yang hidup adalah jalan menuju Kerajaan Allah. Mari kita berjalan dalam terang Tuhan, memancarkan damai, dan menyentuh hati Yesus dengan iman kita.
Mari sungguh menyadari dan mengimani bahwa Allah kita adalah harapan, damai sejahtera, dan terang hidup kita. Mari mempersiapkan diri kita secara layak dan pantas untuk menyambut kedatangan-Nya.
“Tuhan, jadikan kami martir cinta dan damai di zaman ini.” Tuhan memberkati. *RD AMT