Injil hari ini   dari Yohanes 1 : 29 – 34 mengisahkan perjalanan iman Yohanes Pembaptis yang diwujudkan secara nyata melalui perkataan dan tindakan hidupnya. Yohanes ditampilkan sebagai pribadi yang bertanggung jawab penuh atas imannya. Baginya, iman yang baik bukanlah iman yang berhenti pada kata-kata, melainkan iman yang tumbuh, berkembang, dan berbuah melalui tindakan nyata.

Iman yang berbuah tampak dalam keterlibatan seseorang untuk mewartakan siapa Allah yang diimani, kepada siapa manusia diajak berlutut dan menyembah. Pewartaan iman menuntut kesiapsediaan untuk memberi diri dan rela berkorban, agar semakin banyak orang mengenal Allah, percaya kepada-Nya, dan akhirnya bersandar sepenuhnya pada-Nya.

Dalam ayat 29 Yohanes Pembaptis berseru, “Lihatlah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Seruan ini menunjukkan dengan jelas bagaimana Yohanes menjalankan tanggung jawab imannya. Ia mempersiapkan orang-orang yang belum mengenal Kristus, menghantar mereka untuk bertemu dengan Kristus, hingga akhirnya mereka dibaptis dan menjadi murid-Nya.

Refleksi ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita cukup puas hanya dengan peran dan keterlibatan kita sebagai guru agama, pendamping katekumen, pendamping bina iman anak, atau fasilitator dalam berbagai kegiatan katekese? Bisa jadi secara lahiriah kita merasa sudah banyak terlibat dalam pewartaan iman. Bahkan, mungkin tanpa sadar muncul rasa bangga karena telah menghantar banyak orang untuk dibaptis dan mengenal Yesus.

Namun dalam keheningan refleksi, kita disadarkan bahwa semua keterlibatan itu belum tentu sepenuhnya mencerminkan pertanggungjawaban iman yang sejati. Sakramen Baptis yang kita terima bukan hanya sebuah status, melainkan panggilan dan perutusan. Kita dipilih, diutus, dan diminta untuk siap memberi diri serta berkorban demi tugas pewartaan Injil, sebagaimana Yesus sendiri mengamanatkan, “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil.”

Karena itu, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati. Iman yang hidup menuntut keberanian untuk diwujudkan dalam tindakan nyata, dalam kesediaan untuk diutus, dan dalam kerelaan untuk melayani melalui tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita—sebagai fasilitator, pendamping katekumen, pendamping bina iman anak, maupun dalam peran pelayanan lainnya. Selamat berjuang menghidupi iman yang hidup.
Tuhan Yesus memberkati. *Gemma