Ketika membaca dan memikirkan Injil hari ini (Markus 6:34 – 44), saya merasa dikuatkan dengan cara yang sangat sederhana. Yesus melihat orang banyak dan hati-Nya tergerak oleh belas kasih. Mereka seperti domba tanpa gembala. Yesus tidak menghindar, tidak menghindar, tidak merasa terganggu. Ia hadir, menerima, dan menemani mereka.
Saya merenung, Yesus terlebih dahulu mengajar mereka banyak hal. Ia memberi makanan bagi hati dan pikiran mereka. Tetapi Yesus juga peka bahwa orang-orang ini lapar secara nyata. Hari sudah mulai malam, tubuh mereka lelah, dan kebutuhan mereka sangat manusiawi. Dan di situlah saya melihat betapa utuhnya kasih Tuhan. Yang menyentuh saya adalah kenyataan bahwa apa yang tersedia sangat sedikit. Hanya lima roti dan dua ikan. Secara manusiawi, itu jelas tidak cukup. Namun Yesus tidak menyoroti kekurangan itu. Ia tidak berkata, “Ini terlalu sedikit.” Ia menerima apa yang ada, mengangkatnya, dan menyerahkannya kepada Bapa.
Di sini saya merasa ditegur dengan lembut. Betapa seringnya saya melihat hidup dari apa yang kurang: kurang waktu, kurang tenaga, kurang kemampuan, bahkan kadang merasa kurang iman. Padahal Injil hari ini menegaskan bahwa kasih Tuhan tidak pernah kurang. Yang sering kurang tepat kepercayaan saya. Namun, di tangan Yesus, itu menjadi cukup bahkan berlimpah rua. Semua orang makan sampai kenyang, bahkan masih ada sisa. Mukjizat ini bukan hanya soal roti, tetapi tentang cara Tuhan mencukupkan hidup manusia dengan kasih-Nya yang setia. Sering tak terpikirkan manusia.
Renungan ini membuat saya belajar lebih tenang. Di tengah keterbatasan, di tengah hari-hari yang melelahkan, Tuhan tetap bekerja. Saya tahu apa yang kita butuhkan. Ia memberi tidak selalu berlimpah di awal, tetapi cukup pada waktunya. Hari ini saya diajak untuk percaya lebih dalam:
bahwa apa pun yang saya miliki—meski kecil—bila saya serahkan dengan tulus, kasih Tuhan akan bekerja. Dan saya tidak perlu takut kekurangan,
karena kasih Tuhan tidak pernah habis.*hm
Recent Comments