HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN, HARI ANAK MISIONER SEDUNIA
Yes 60:1-6; Mzm 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef 3:2-3a, 5-6; Mat 2:1-12
Nabi Yesaya berhadapan dengan umat Israel yang hidup dalam kegelapan iman, karena mengalami kehancuran akibat pembuangan di Babel. Mereka juga mengalami kekecewaan setelah kembali dari pembuangan, di mana mereka mendapati kota Yerusalem hancur, tidak jaya seperti dahulu kala. Dalam kondisi seperti itu, Israel mengalami pergulatan iman di mana mereka harus berhadapan dengan konflik dan kekerasan yang merusak persaudaraan, ketimpangan dan kehancuran ekonomi. Umat Israel, terutama kaum muda kehilangan arah hidup. Dalam situasi seperti itu, Yesaya tampil dan berseru, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang!” (Yes. 60:1). Dalam seruan itu, sang nabi mengumandangkan sebuah transformasi yang mengagumkan, suatu visi universalisme bagi Yerusalem baru. Yerusalem akan menjadi titik atau pusat baru bagi bangsa-bangsa karena kehadiran yang Ilahi sebagai Terang Kehidupan. Bangsa- bangsa akan berduyun-duyun kepada terang , dan raja-raja akan menyongsong cahaya yang terbit atas Yerusalem.
Seperti bangsa Israel dahulu, saat ini kita juga sedang dilanda oleh kelesuan dan kegelapan hidup di tengah derap kemajuan dan kegemerlapan hidup yang tersaji. Ada berbagai konflik dan kekerasan yang merusak persaudaraan, ketimpangan dan kehancuran ekonomi, ketidakadilan sosial, krisis lingkungan dan bencana alam. Kita semua, dan terutama kaum muda kita sedang mengalami kelesuan rohani dan bahkan kehilangan arah hidup. Banyak orang terperangkap dan terpuruk di tengah arus zaman saat ini. Apa yang harus kita lakukan sebagai orang beriman?
Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuha (Epifani, yang secara harafiah berarti “penampakan yang mencolok”. Kristus yang lahir di Betlehem dinyatakan sebagai terang bagi semua bangsa. Perayaan ini juga bertepatan dengan Hari Anak Misioner Sedunia yang ditetapkan oleh Paus Pius XII pada tahun 1950. Kedua perayaan ini dirayakan bersamaan karena Epifani adalah pesta universalitas Injil sebagai Kabar Sukacita, dan anak-anak sebagaimana orang dewasa, juga dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi Gereja. Dengan demikian, sejak kecil mereka diajak menjadi “misionaris sukacita” yang membawa terang Kristus ke seluruh dunia. Kedua perayaan ini mengingatkan kita bahwa misi Gereja bukan hanya tugas orang dewasa, tetapi anak-anak juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dengan cara mereka, yaitu belajar berdoa, berbagi, dan bersaksi demi misi Gereja. Melalui cara itu, anak-anak dan setiap orang beriman diajak untuk meneladani orang majus: mencari Yesus, mempersembahkan yang terbaik, dan mewartakan sukacita Injil.
Para majus dari Timur menjadi teladan iman bagi kita semua dalam situsi saat ini: mereka mencari, menemukan, dan menyembah Yesus dengan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Persembahan itu bukan sekadar symbol basa-basi, melainkan pengakuan jujur dan tulus bahwa Yesus adalah Raja, Imam, dan Penebus.
Tetapi kita juga dingatkan oleh Injil yang menyingkapkan kontras pada diri Herodes yang menutup diri dalam ketakutan dan kelicikan. Ia tahu Kitab Suci, tetapi tidak mau menyembah. Di sinilah pesan aktual bagi kita: apakah kita seperti para majus yang terbuka pada terang Kristus, atau seperti Herodes yang menolak karena takut kehilangan kuasa?
Kepada jemaat di Efesus, Paulus menguraikan rencana penyelamatan Allah, yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi pewaris-Nya. Dengan demikian robohlah tembok yang memisahkan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Sebab, orang-orang bukan Yahudi pun turut menjadi alihwaris, menjadi anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dan diwujudkan dalam diri Yesus Kristus.
Sebagai orang beriman, kita semua – orang dewasa dan juga anak-anak – dipanggil untuk terlibat dalam rencana penyelamatan Allah itu! Sebab, terang Kristus harus nyata di tengah masyarakat yang sedang dilanda oleh kegelapan hidup. Kita semua diingatkan bahwa menjadi misionaris sukacita berarti menghadirkan kasih, kejujuran, dan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak kita perlu kita dukung agar berani bersaksi mewartakan Kristus Terang Kehidupan yang membawa sukacita melalui ha-hal sederhana: doa bersama keluarga, berbagi dengan teman yang membutuhkan, dan berkata jujur meski sulit.
Saudara-saudari, mari kita meneladani para majus: mencari Kristus dalam doa dan firman; menemukan Kristus dalam sesama, terutama yang kecil dan lemah; dan menyembah Kristus dengan hidup penuh kasih dan pelayanan.
Dengan cara itu, kita semua—anak-anak, remaja, dan orang dewasa—menjadi misionaris sukacita yang membawa terang Injil ke dunia.
Tuhan memberkati. * RD AMT
Recent Comments