Luka-luka-Mu Menarik Aku
Yesus, aku makin mengasihi Engkau apabila aku melihat Engkau terluka dan tertindih dengan penderitaan (…) daripada kalau aku melihat Engkau dalam keagungan-Mu. Yesus berkata,Mengapa? Aku menjawab: Keagungan membuat aku takut, aku yang sama sekali tidak ada artinya, dan luka-luka-Mu menarik aku masuk ke dalam Hati-Mu dan nenuturkan kepadaku kasih-Mu yang begitu besar kepadaku. Sesudah percakapan ini terjadilah keheningan. Aku menatap luka-luka-Nya yang kudus dan merasa bahagia menderita bersama-Nya. Aku menderita, tetapi alu tidak menderita sebab aku merasa bahagia mengetahui dalamnya kasih Yesus, dan saat itu terasa hanya seperti satu menit. (BHF 252)
Luka-luka-Mu menarik aku. Aku menatap luka-luka-Nya yang kudus dan merasa bahagia menderita bersama-Nya. Aku menderita, tetapi aku tidak menderita sebab aku merasa bahagia mengetahui dalamnya kasih Yesus, dan saat itu terasa hanya seperti satu menit.Berkali-kali membaca teks ini, aku kagum dengan Faustina yang di tengah penderitaannya merasa bahagia karena mengetahui, mengalami dalamnya kasih Yesus. Barangkali inilah makna terdalam dari penderitaan dalam bentuk apapun yang kalau dipandang dengan mata iman, disatukan dengan penderitaan Kristus menjadi begitu bermakna begitu manis, begitu indah. Dalam bahasa umum bisa dikatakan bahagia dalam derita.
Penderitaan apapun bentuknya, tidak enak.dan ingin dihindari. Wajar dan pantas. Tetapi jika berani menderita bersama Yesus, merasa bahagia. Model penghayatan derita seperti ini memang mengandaikan kedekatan dengan Tuhan, hidup dilandaskan pada Firman Tuhan, sekaligus anugerah. Dan umumnya, selalu ada maksud Tuhan di balik derita, baik bagi penderita, yang merawat maupun orang lain. Penderita dipakai Tuhan sebagai saksi derita Kristus yang di dalam derita kita menyaksikan tumbuh kembangnya keutamaan-keutamaan tertentu. Antara lain : kesabaran, ketekunan, kesetiaan, sukacita, dan keutamaan lainnya. Seperti yang dialami Faustina, aku menderita tetapi aku tidak menderita Mengapa?? Ada alasannya : aku menatap luka-luka-Nya yang kudus dan merasa bahagia menderita bersama-Nya. Bagiku, inilah jalan penderitaan orang kudus yang jadi contoh teladan bagi kita.
Merenung tema hari ini, saya mengingat berbagai penderitaanku di masa silam. Tampak, tidak semua dan serta – merta deritaku mampu membawa aku menyatukan dengan penderitaan Yesus. Selalu ada proses. Mulai dengan rasa cemas, kuatir, takut akhirnya menolak. Takut merepotkan orang lain. Cemas . takut sakit penyakit berkelanjutan. Kuatir merasa tidak berdaya. Penderitaan yang disebabkan sakit penyakit, bagiku sangat tidak nyaman. Berjuang sedemikian rupa untuk sembuh. Kadang- kadang atau bahkan lebih sering diam-diam menanggungnya atau menyembunyikannya supaya tidak merepotkan orang lain. Dalam proses antara menolak derita, tidak nyaman, dan tidak merepotkan orang lain inilah, satu-satunya harapan adalah Tuhan. Berdoa, berdoa dan berdoa. Namun, kadang merasa sudah berdoa banyak pun tak kunjung berakhir derita. Saat titik-titik nyaris menyerah, di situlah ada inspirasi untuk menyerahkan diri pada Tuhan, dan berani menyatukan dengan derita Kristus. Saat tak tahu bagaimana meminta dalam doa, memandang salib, merenung luka-luka Yesus adalah jalan kesembuhan. Sebab, entah kapan tepatnya atau bagaimana prosesnya, tahu-tahu sudah menjadi kuat, pulih dan sehat. Ini tentang derita fisik.
Demikian juga dengan bentuk derita lain. Semisal, beratnya tugas dan tanggung jawab dalam pekerjaan, merasa tidak mampu tapi harus paksa diri sedemikian rupa untuk menuntaskan semuanya. Tidak mudah, tapi harus. Ingin menghindar tapi tidak ada jalan lain selain belajar menerima, bergumul dan berjuang. Banyak berkorban, terutama korban perasaan. Ada ketidaknyamanan perasaan, kecemasan. Belum lagi harus menekan dan menyimpan banyak hal dalam hati karena kegagalan, kesalahan, tidak sesuai harapan, tidak mampu memenuhi tuntutan, tidak sesuau target. Kadang dipersalahkan, dianggap lamban, pokoknya beragam kata orang yang tidak enak didengar, yang jadi derita batin. Ditambah lagi perlakuan-perlakuan yang kurang adil, yang tidak layak kita terima, tetapi harus dialami. Orang lain yang buat salah, kita yang harus bertanggung jawab.Kalau mau dirincikan di sini, aku kira semua kita sepakat pernah alami dalam hidup ini, dengan porsi masing-masing, kemampuan untuk menanggung sesuai ukuran Kristus. Puji Tuhan, semua bisa dilewati satu persatu pada saatnya. Berat ringannya pun sudah dirasakan dan semua usai pada saatnya.
Pada saat dialami, tidak indah, yang dirasakan hanya menderita. Ketika berlalu selalu ada rasa syukur. Dan selalu ada pelajaran manis dari penderitaan yang telah dialami dan usai. Cara, proses terutama pertolongan sesama, dan teristimewa pertolongan Tuhan yang nyata yang selalu jadi sumber sukacita dan penyemangat pembaharuan hidup.
Ketika telah merasakan kasih dan pertolongan Tuhan saat menderita,memang aku menjadi lebih kuat dan tidak begitu cemas saat ada derita, karena sudah tahu apa yang harus kulakukan. Berdoa, merenungkan sengsara Kristus dan menyatukan diri dengan derita-Nya. Benar, derita jadi ringan, dapat ditanggung dengan lebih sabar, meski belum sampai sebahagia Faustina saat derita namun, setelah semua berlalu, ada sukacita, bahkan bisa berkata ‘untung pernah sakit atau alami seperti ini atau itu, jika tidak, mungkin hari ini saya tidak.seperti ini.
Indah, cara Tuhan membimbing aku pada jalan-Nya yang hanya Dia sendiri yang tahu. Proses yang unik dengan rahmat istimewa juga menyediakan orang-orang khusus yang menjadi alat kasih-Nya untuk menyalurkan berkat kasih-Nya. Akhirnya aku selalu merasa bahagia di ujung derita apa pun, saat mengetahui dalamnya kasih Yesus bagiku, melalui deritaku, banyak orang, banyak cara dan terutama cinta yang kualami. Membaca dan merenung tema hari ini juga merupakan sebuah jalan kasih yang mengingatkan aku kembali untuk segera menyatukan apa pun dengan derita Yesus dan berani menatap luka-luka kudus-Nya yang menyembuhkan dan memulihkan. Yesus, Kau andalanku.* hm
Recent Comments