Tuhan Allah memberikan rahmat-rahmat-Nya dengan dua cara: lewat ilham dan lewat penerangan. Kalau kita minta suatu rahmat kepada Allah, Ia akan memberikannya kepada kita, tetapi hendaklah kita ikhlas menerimanya. Dan untuk menerimanya, diperlukan penyangkalan diri. Kasih tidak terungkap dalam kata-kata atau perasaan, tetapi dalam perbuatan. Kasih adalah tindakan dari kehendak. Kasih adalah suatu pemberian. Maksudnya: rela memberikan diri. Budi, kehendak, hati – ketiga kemampuan ini harus dilatih pada waktu berdoa.
Dalam Yesus, aku akan bangkit dari antara orang mati, tetapi pertama-tama aku harus hidup di dalam Dia. Kalau aku tidak memisahkan diri dari salib, maka Injil akan dinyatakan dalam diriku. Yesus yang ada dalam diriku melengkapi semua kekuranganku. Rahmat-Nya bekerja tanpa henti. Tritunggal kudus menganugerahkan hidup-Nya secara melimpah kepadaku, lewat anugerah Roh Kudus. Ketiga Pribadi ilahi hidup di dalam diriku. Apabila Allah mengasihi, maka Ia mengasihi dengan seluruh keberadaan-Nya. Kalau Allah telah mengasihi aku dengan cara ini, betapa aku harus menanggapi-Nya -aku, mempelai-nya? BHF 392
Ada satu kalimat yang sangat tinggal di hatiku dari renungan Faustina hari ini: “Rahmat-Nya bekerja tanpa henti.” Lalu Faustina menuliskan sesuatu yang begitu indah dan menggetarkan hatiku: Tritunggal Kudus menganugerahkan hidup-Nya secara melimpah kepadaku lewat anugerah Roh Kudus. Ketiga Pribadi Ilahi hidup di dalam diriku. Bagiku, seluruh renungan hari ini sangat kaya. Semuanya berbicara tentang kekayaan kasih karunia Allah yang melimpah ruah anugerah demi anugerah yang mengalir dari keberadaan-Nya sendiri, sebab Allah adalah kasih.
Dan karena rahmat-Nya bekerja tanpa henti, hatiku sungguh terhibur di tengah kepapaan diri dan kesukaran hidup sehari-hari.
Inilah jaminan sekaligus alasan mengapa aku tidak pernah boleh menyerah, berhenti, apalagi putus asa. Bahkan ketika aku mendapati diriku kurang iman, sedikit cinta, kurang berharap—tidak! Tidak ada alasan untuk menyerah, sebab kasih-Nya tetap, kekal, dan abadi. Meski aku sering kurang tanggap, lemah semangat, bahkan jatuh berkali-kali, kasih-Nya tidak berhenti mengangkat dan memulihkan.
Betapa indahnya bila aku selalu sadar akan kasih Allah dan selalu bersyukur, sebab hidupku telah dilingkupi oleh rahmat dan karunia Roh Kudus. Betapa aku dicintai, bahkan lebih dari yang dapat kusadari.
Faustina menyadari semua itu. Ia menuliskannya dengan indah dan membagikannya dengan penuh kasih. Ia mewartakan karunia Allah Tritunggal yang maharahim dan murah hati. Tidak heran bila seluruh hidupnya dibaktikan untuk mewartakan kasih Allah. Dan aku pun rindu demikian, dalam setiap musim hidupku.
Merenungkan semuanya ini, aku hanya bisa tertegun, hening, dan bersyukur. Apa lagi yang dapat kukatakan? Selain diam di hadapan kelimpahan kasih-Nya… dan mohon ampun. Sudah seberapa dalam kasihku pada Tuhanku? Benarkah aku mengasihi-Nya dengan segenap keberadaanku? Aku mengenal diriku, dan Allahku tahu segala sesuatu. Kerinduan demi kerinduan untuk mengasihi dengan lebih sungguh, melayani dengan lebih total, mengabdi dengan lebih radikal, kiranya selalu terjelma dalam doa, perkataan dan pewartaan, perbuatan dan tindakan kasih. Namun dalam perjalanan hidup ini, aku pun bertarung dengan diriku sendiri: dengan ikatan-ikatan, kecenderungan, dan kesenangan yang bisa menghalangi kasihku kepada-Nya.
Aku belajar untuk sadar bahwa waktu terus berlalu. Aku belajar menyerahkan diri, dan belajar berujar dengan rendah hati: sesungguhnya aku ini hamba yang tak berguna; aku hanya melakukan apa yang dapat kulakukan. Sebab siapakah aku yang berani berdiam diri di hadapan kelimpahan kasih? Pada akhirnya aku hanya bisa bersyukur: Allah Tritunggal mengasihiku dengan segenap keberadaan-Nya, bahkan ketika aku tidak mampu mengasihi: mengasihi Tuhan, mengasihi sesamaku, bahkan mengasihi diriku sendiri secara tepat dan benar. Sungguh mulia dan agung kasih Tuhanku.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments