Ketika membaca dan merenungkan Injil Yohanes 1 : 35 – 42, saya semakin tersentuh oleh satu momen sederhana: para murid memilih tinggal bersama Yesus. Bukan melakukan sesuatu yang besar terlebih dahulu, melainkan tinggal. Dan justru di sanalah semuanya bermula.Saat saya merenungkan kisah ini, saya menyadari bahwa memilih tinggal bukan keputusan yang netral. Ketika saya memilih tinggal bersama Tuhan, pada saat yang sama saya tahu ada sesuatu yang harus saya tinggalkan. Ada cara lama berjalan, ada kelekatan, ada keinginan untuk tetap mengendalikan segalanya, yang perlahan harus dilepaskan. Tinggal bersama Tuhan selalu mengandaikan keberanian untuk pergi dan mengikuti.
Saya juga merasakan bahwa memilih tinggal berarti bersedia berjalan di belakang Tuhan, bukan di depan-Nya. Ada rasa penasaran yang hening: siapa Dia sebenarnya? Ke mana Ia akan membawa saya? Dalam kebersamaan itu, saya belajar tidak banyak bicara, tetapi lebih banyak mendengarkan. Sebab hanya dengan mendengarkan, hati saya dibentuk. Ketika saya sungguh membayangkan diri tinggal bersama Tuhan, ada keyakinan yang tumbuh di dalam hati saya: tidak ada satu detik pun yang sia-sia. Waktu yang dihabiskan bersama Tuhan bukan waktu yang hilang. Semuanya terangkum di dalam Tuhan sendiri. Bahkan hal-hal kecil, diam yang panjang, dan kebersamaan yang tampak sederhana, justru menjadi ruang perjumpaan yang paling dalam.
Pengalaman Andreas sangat menyentuh saya. Ia tinggal bersama Yesus—barangkali hanya sejenak—tetapi perjumpaan itu cukup untuk mengubahnya. Andreas tidak mampu menyimpan pengalaman itu untuk dirinya sendiri. Ia segera mencari Simon, saudaranya, dan mengajaknya datang kepada Yesus. Saya merenung bahwa pewartaan yang sejati selalu lahir dari pengalaman tinggal bersama Tuhan, bukan dari kewajiban atau pengetahuan semata.
Semakin saya merenungkan Injil ini, semakin saya percaya bahwa sukacita sejati tidak lahir dari banyak aktivitas rohani, melainkan dari kebersamaan dengan Tuhan. Siapa yang sungguh pernah tinggal bersama Tuhan, tidak akan tinggal sama seperti sebelumnya. Ada dorongan batin untuk berbagi, untuk mengajak, untuk bersaksi—bukan karena harus, tetapi karena hati dipenuhi sukacita. Renungan ini meneguhkan saya untuk bertanya pada diri sendiri: apakah saya sungguh memilih tinggal bersama Tuhan, atau hanya singgah sebentar?
Sebab ketika saya berani memilih tinggal, saya percaya Tuhan akan melakukan sesuatu yang baru—perlahan, diam-diam, tetapi nyata.*hm
Recent Comments