MINGGU BIASA XXIX, HARI MINGGU MISI SEDUNIA KE-100
Yes. 45:1,4-6; Mzm. 96:1,3,4-5,7-8,9-10ac; 1Tes. 1:1-5b; Mat. 22:15-21.

Hari Minggu Biasa XXIX bertepatan dengan Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-100. Bapa Suci Paus Leo XIV mengajak kita merenungkan tema “Satu dalam Kristus, bersatu dalam misi.” Beliau mengajak seluruh Gereja melangkah dengan sukacita dalam Roh Kudus. Misi bukan sekadar tugas tambahan, melainkan jantung kehidupan Gereja: menghadirkan Allah yang meraja di tengah dunia.

Bacaan pertama menampilkan Koresh, raja Persia yang sedang berkuasa. Dalam kemenangannya ia membebaskan para tawanan, dan tanpa sadar masuk dalam rencana Allah untuk membebaskan umat Allah, yaitu Israel. Allah bekerja dengan cara yang melampaui perhitungan manusia, sehingga setiap orang beriman diajak menyelami kebijaksanaan-Nya bagi hidupnya. Artinya, tak seorang pun terlalu kecil untuk dipakai Allah.
Dalam Injil, Yesus dijebak dengan pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Yesus tidak mau tinggal pada level permainan itu. Ia menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Jawaban ini menuntut integritas batin setiap orang beriman untuk bertanya diri: sungguhkah aku percaya, atau aku memperalat iman demi kepentingan diri sendiri? Namun Yesus juga tidak mengajak kita menutup diri dari dunia. Peduli pada urusan duniawi justru membuat hidup rohani lebih bermakna. Menjadi warga yang jujur, taat pada kewajiban, dan peduli pada sesama adalah bagian dari kesaksian iman kita.

Pesan Paus menolong kita melihat sumber integritas itu. Menjadi Kristen bukan pertama-tama menjalankan praktik tertentu, melainkan hidup bersatu dengan Kristus, seperti ranting yang melekat pada pokok anggur. Dari persatuan itu lahir persekutuan, dan dari persekutuan tumbuh buah misi. Karena itu, tanggung jawab misioner pertama kita adalah menjaga persaudaraan. Paus mengakui adanya konflik, polarisasi, dan saling tidak percaya; bila hal itu terjadi juga di tengah umat beriman, kesaksian kita melemah.

Paus menegaskan bahwa persatuan bukanlah keseragaman, melainkan pertemuan beragam karunia demi satu tujuan: menampakkan kasih Kristus dan mengajak semua orang berjumpa dengan-Nya. Tidak seorang pun yang dibaptis boleh merasa asing terhadap misi, sebab kita semua berasal dari satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan. Jika persatuan adalah syarat misi, maka kasih adalah isinya: Injil tentang kasih setia Allah yang nyata dalam diri Yesus.

Paus juga berterima kasih kepada para misionaris yang meninggalkan tanah air dan rasa aman demi mewartakan Injil. Tetapi Paus juga menyadarkan serta mengajak kita untuk ikut ambil bagian lewat kesaksian hidup, doa, dan dukungan nyata. Persembahan yang dikumpulkan hari ini disalurkan atas nama Paus bagi berbagai kebutuhan misi Gereja di seluruh dunia.

Rasul Paulus bersyukur atas jemaat Tesalonika yang menjadi peniru dirinya dan peniru Tuhan. Berkat daya Roh Kudus, mereka hidup dalam iman, harapan, dan kasih, sehingga menjadi teladan bagi jemaat lain. Mereka berpengaruh bukan karena pidato yang hebat, melainkan karena hidup yang selaras dengan iman.
Misi berjalan lewat teladan hidup yang dapat dilihat dan ditiru. Maka misi kita bisa dimulai dari lingkungan terdekat: keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat. Misi hadir ketika kita berdamai dengan saudara yang berselisih, menyapa lebih dahulu, bekerja dengan jujur, dan menolong sesama tanpa memandang perbedaan. Kasih, keadilan, dan kesaksian hidup menjadi cara kita menghadirkan Allah yang meraja. Kita juga diajak saling menanggung beban dan menerima perbedaan sebagai kekayaan.

Marilah kita bertanya dalam hati kita: Siapakah Allah bagiku sebagai orang beriman? Dengan siapa aku perlu berdamai agar kesaksianku tidak lemah? Sejauh mana imanku telah menjadi dasar, arah, dan tujuan hidupku?
Mari membangun iman dengan membuka hati, pikiran, perasaan, dan kehendak kita untuk menimba kebijaksanaan Allah dalam hidup sehari-hari. Semakin kita bersatu dalam Kristus, semakin kita mampu menjalankan bersama misi yang Tuhan percayakan kepada kita. Marilah kita menjadi orang beriman bukan hanya sekadar status, melainkan sebagai utusan, sebagai misioner cinta kasih Allah.
Tuhan memberkati.*RD AMT