Ya Yesus, jantungku serasa berhenti berdenyut ketika aku memikirkan semua yang Kaulakukan bagiku! Aku heran akan Dikau, Tuhan, mengapa Engkau membungkuk begitu rendah kepada jiwaku yang jahat! Sungguh tak terselami sarana-sarana yang kaupakai untuk meyakinkan aku. (BHF 460)
Aku heran akan Dikau, Tuhan, mengapa Engkau membungkuk begitu rendah kepada jiwaku yang jahat.
Bagiku, hari ini sharing pernyataan Faustina begitu spesial, reflektif, dan kontemplatif. Tidak sekadar sebuah ungkapan rasa, tetapi sebuah kesadaran iman yang mendalam akan kasih dan kebaikan Allah sekaligus kenyataan akan kepapan diri.
Bagiku ini indah, dan aku pun sering merasakan demikian. Kapan rasa itu hadir? Saat tenang, hening, sedang mawas diri, atau bahkan sedang melihat atau menyaksikan sesuatu, mengalami sesuatu yang tak pernah dipikirkan, direncanakan, yang tak terduga. Saya kira yang dinyatakan Faustina itu sebuah kepekaan iman, suatu intuisi batin, sesuatu yang bukan berasal dari olahan akal budi atau pengetahuan, tetapi yang tumbuh karena sebuah kedekatan relasi yang luar biasa.
Ya, Faustina selalu hanya memikirkan Allah dan jiwa-jiwa. Sudah pasti jiwanya sendiri. Faustina selalu menatap Allah dalam segala hal, maka dia mampu melihat segala yang dilakukan, dikerjakan Allah baginya dan bagi jiwa-jiwa. Jiwanya selalu melek, berjaga, dan terarah kepada Allah. Barangkali inilah yang namanya sebuah jalan kesempurnaan: selalu dalam keterhubungan, dalam relasi dengan Allah. Kesadaran yang tak pernah putus oleh karena sesuatu penghalang lain, entah kesibukan atau bahkan dosa sekalipun. Saya kagum dengan Faustina. Dari sekian kisah orang kudus yang pernah aku baca, aku sungguh sangat jatuh hati dengan Faustina. Tentu saja Faustina tidak ingin dirinya menjadi labuhan ketertarikan, tetapi kepada kasih dan kebaikan Allah yang telah mengerjakan semuanya bagi dunia melalui dirinya.
Sungguh besar kasih dan kebaikan Allah. Syukur kepada Allah. Dan mengingat semua kisah Faustina ini, saya boleh mengutip kalimat terakhir: Sungguh tak terselami sarana-sarana yang Kaupakai untuk meyakinkan aku.
Bagiku, Faustina sendiri dan BHF merupakan sarana yang dipakai Allah untuk meyakinkan aku akan kemurahan, kebaikan, dan kasih karunia-Nya yang tak terbatas. Sebab tak terbataslah rahmat dan anugerah yang aku terima melalui BHF dan sekolah ini.
Merenung ini, aku mengingat sebuah syair lagu rohani yang indah sejak masa mudaku:
Ku heran Allah mau memberi rahmat-Nya bagiku,
dan Kristus sudi menebus yang hina bagiku.
Ku heran oleh rahmat-Nya hatiku beriman,
dan oleh kuasa Sabda-Nya hatiku pun tentram.
Ku heran oleh Roh Kudus, kusadar dosaku,
dan dalam Firman kukenal siapa Penebus.
Reff: Namun kutahu yang kupercaya, dan aku yakin akan kuasa-Nya,
Dia menjaga yang kutaruhkan hingga hari-Nya kelak.
Sedikit sharing. Seorang sahabat pernah bertanya kepadaku, bagaimana membuat supaya hati kita mudah tersentuh akan sesuatu, dan bisa langsung terpikir atau menghubungkan dengan Tuhan? Aku rasa ini pertanyaan tersulit, dan aku tidak tahu jawabannya, sebab aku sendiri juga tidak mengerti mengapa ada orang yang juga begitu banyak mengalami kasih Tuhan tetapi kok biasa-biasa saja, tidak terharu, tidak kagum, tercengang, atau mungkin mati rasa.
Entah pagi ini aku merasa menemukan jawabannya setelah membaca SKR dan renungan Bapak Stefan yang indah yang memperdalam sharing suci Faustina. Aku jadi sadar, jawabannya adalah semua tergantung dari kedalaman relasi kasih dengan Tuhan, rahmat, dan bagaimana menghayati serta menghidupi keutamaan selalu bersyukur.
Iman bukan tentang tahu banyak tentang Tuhan dan mengerti, tetapi bagaimana membuat makin dekat dan merasakan Tuhan yang begitu baik, amat sangat baik. Sepertinya kalau sudah begini, pastinya tidak akan pernah berhenti terheran-heran, kagum, dan terpesona dengan karya agung Tuhan untuk jiwaku, hidupku, dan semua.
Ya Tuhanku dan Allahku, semua karena kasih dan kebaikan-Mu. Kupersembahkan syukurku untuk kemuliaan-Mu atas segala maha kasih-Mu untukku dan semua. Segala pujian, hormat, kemuliaan, dan syukur bagi-Mu kini dan selamanya. Amin.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments