MINGGU PRAPASKAH III “
Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42 (panjang) atau Yoh. 4:5-15,19b-26,39a,40-42 (singkat).
Bacaan pada Minggu Prapaskah III ini mengajak kita merenungkan pengalaman manusia yang haus: haus akan air, akan pengharapan, akan kasih, dan akan keselamatan. Bacaan hari ini menampilkan umat Israel yang haus di padang gurun, Mazmur yang mengingatkan agar tidak mengeraskan hati, Paulus yang menegaskan kasih Allah yang dicurahkan melalui Roh Kudus, dan Injil Yohanes tentang perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur. Semua ini berbicara tentang Allah yang memberi air hidup untuk memulihkan dahaga terdalam manusia.
Kisah pengembaraan Israel di padang gurun bukan hanya sekadar pengembaraan sebuah bangsa yang berkenaan dengan peristiwa sosial-lahiriah belaka. Israel adalah bangsa beriman, bangsa pilihan Allah. Maka pengembaraan mereka di padang gurun adalah juga dan bahkan terutama adalah peristiwa iman. Di mana sebagai bangsa pilihan Allah, Israel mengalami kemurahan hati yang sangat istimewa. Sebagai bangsa pilihan Allah, Israel telah dibebaskan oleh Allah dengan kekuatan dan kekusaan yang amat agung dari perbudakan Mesir. Namun di hadapan kemurahan hati Allah yang demikian Umat Israel justru bersungut-sungut hanya karena kehausan. Mereka meragukan kehadiran Allah. Namun Allah tetap setia, memberi air dari batu. Kita pun sering meragukan Allah ketika menghadapi kesulitan: ekonomi, kesehatan, relasi. Bacaan ini mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia sanggup memberi “air” yang memulihkan di tengah padang gurun hidup kita.
Menanggapi peristiwa belas kasih Allah yang melimpah di hadapan ketegaran hati Israel di Masa dan di Meriba pemazmur mengajak kita untuk bernyanyi dan bersorak sorai bagi Allah Gunung Batu, pangkal keselamatan kita. Pemazmur mengajak kita untuk sujud menyembah-Nya, sebab Dia-lah Allah kita. Kepada kita pemazmur mengingatkan kita supaya kalau mendengarkan suara Allah, janganlah kita bertegar hati!
Kisah perjumpaan dan dialog antara Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub merupakan pementasan drama pertumbuhan iman yang sangat menarik dalam sajian Yohanes.
Dialog Yesus dengan perempuan Samaria bermula dari kehausan Yesus akan air untuk diminum. Dialog ini mengantar pemahaman baru perempuan Samaria itu bahwa air dari sumur Yakub yang telah memberi jaminan kehidupan mereka selama ini dikalahkan oleh air yang diberikan oleh Yesus sang Mesias, sumber air yang memancar sampai kepada kehidupan kekal (ayat 14). Yesus menawarkan “air hidup” kepada perempuan Samaria, yang haus akan kasih dan penerimaan. Perjumpaan itu mengubah hidupnya, sehingga ia menjadi saksi bagi banyak orang. Kita pun sering mencari “air” di tempat yang salah: kesenangan dunia, kekuasaan, popularitas. Namun hanya Kristus yang memberi air hidup—pengampunan, kasih, dan keselamatan. Prapaskah adalah saat untuk kembali kepada Kristus, Sang Air Hidup, yang memuaskan dahaga terdalam kita.
Kepada Jemaat di Roma Paulus menandaskan betapa besar dan dahsyatnya daya kasih Allah. Daya kasih Allah itu akan membawa setiap orang kapada pembebasan dan kelegaan besar. Daya kasih itu hanya dialami oleh orang yang mempunyai hubungan yang benar dengan Allah berupa: kedamaian, rasa percaya, dan ambil bagian dalam kehidupan Kristus yang bangkit.
Sejauh mana aku telah menghayati Baptisan yang telah aku terima? Apakah aku telah membina hubungan yang benar dengan Allah? Bagaimana aku telah menumbuh-kembangkan iman yang telah dianugerahkan secara istimewa oleh Tuhan bagiku? Apakah iman yang aku miliki telah menjadi daya kasih Allah yang sangat dahsyat bagi pembebasan hidupku?
Bacaan pada Minggu Prapaskah III ini mengingatkan kita bahwa: Allah setia memberi air di tengah padang gurun hidup. Kita diajak untuk tidak mengeraskan hati, melainkan membuka diri pada kasih-Nya. Kristus adalah Air Hidup yang memulihkan dahaga iman kita.
Mari kita gunakan masa Prapaskah ini untuk sungguh mencari dan menerima Air Hidup dari Kristus, lalu membagikannya kepada sesama yang haus akan kasih dan pengharapan.
Mari menghayati baptisan yang telah kita terima, membina hubungan yang benar dengan Allah untuk menumbuhkembangkan iman kita dalam kedamaian, rasa percaya yang teguh kepada Allah dan mengambil bagian dalam kehidupan Kristus yang bangkit.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments