Y.M.Y. Bagi Kemuliaan Tritunggal yang Kudus
Aku mohon kepada Superior agar mengizinkan aku melaksanakan puasa 40 hari dengan hanya makan sepotong roti dan minum satu gelas air dalam sehari. Tetapi, mengikuti nasihat bapak pengakuanku, Muder Superior tidak memberi izin untuk 40 hari, tetapi hanya 7 hari, „Aku tidak dapat membebaskan engkau sama sekali dari tugas-tugasmu, Suster, demi suster-suster lain yang barangkali akan memperhatikan sesuatu. Aku memberimu izin untuk membaktikan dirimu dalam doa membuat sejumlah catatan mengenai hal ini tetapi sangat sulit bagiku untuk melindungi engkau dalam kaitan dengan puasa. Sungguh, aku tidak dapat memikirkan keputusan lain kecuali ini.” Lalu ia berkata, „Sekarang pergilah, Suster, dan barangkali suatu terang akan diberikan kepadaku.”
Pada Minggu pagi, Muder Superior menugaskan aku sebagai penjaga pintu selama jam makan. Ketika itu aku menjadi paham bahwa ia memberi tugas itu dengan pertimbangan untuk memberi aku kesempatan berpuasa.
Pada pagi hari, aku tidak pergi sarapan, tetapi tidak lama sesudah waktu sarapan, aku pergi kepada Muder Superior dan bertanya kepadanya apakah aku ditugaskan menjadi penjaga pintu dalam rangka membuat puasaku tidak diperhatikan orang.
Muder menjawab „Ketika aku menugaskan engkau, Suster, itulah yang ada dalam pikiranku.” Maka, aku melihat bahwa gagasan itu, sama dengan gagasan yang ada dalam batinku. • BHF 530
“Aku tidak dapat membebaskan engkau sama sekali dari tugas-tugasmu, Suster, demi suster-suster lain yang barangkali akan memperhatikan sesuatu. Aku memberimu izin untuk membaktikan dirimu dalam doa.” BHF 530 ini bagiku begitu menguatkan. Faustina berkisah tentang hal yang cukup biasa dalam tradisi hidup membiara, antara kerinduan pribadi dan peraturan, antara kebebasan mengungkapkan cinta kepada Tuhan dengan kaul ketaatan.
Saya sangat tertarik dengan ungkapan Muder Superior: “Demi suster-suster lain yang barangkali akan memperhatikan sesuatu.”Kita semua paham maksudnya. Saya menemukan bahwa sikap tegas namun bijaksana dari pimpinan ini sangat baik. Sebab ia memperhatikan keseluruhan, bukan hanya Faustina saja, tetapi juga para suster sekomunitas dan dirinya sendiri sebagai pemimpin yang harus mengambil keputusan penting.
Mau menolak atau tidak mengizinkan? Siapa tahu yang diminta Faustina sungguh kehendak Allah. Mau mengizinkan? Perlu sikap hati-hati karena tidak semua suster dalam komunitas mengerti. Mungkin ada yang lemah imannya atau kurang pengertian sehingga bisa menjadi batu sandungan. Untuk dirinya sendiri sebagai pemimpin, ia sadar bahwa dirinya hanyalah perpanjangan tangan Allah, yang membantu agar para suster dapat mencari dan melaksanakan kehendak Tuhan. Namun tidak semua yang tampak baik atau mulia otomatis berasal dari kehendak Allah. Sedikit dilema memang. Namun justru di sinilah kesempatan untuk berdoa, mempertimbangkan, berdiskresi, berdialog dengan Tuhan, lalu mengambil keputusan berdasarkan prinsip yang selalu sama:
“Demi kebaikan bersama, keselamatan jiwa-jiwa, dan kemuliaan Tuhan.”
Saya gembira karena kisah Faustina hari ini begitu nyata dan hidup dalam keseharian biara-biara sampai saat ini. Bagaimana peran para pemimpin yang sering disebut sebagai “wakil Tuhan” dalam komunitas. Pemimpin bisa keliru, bisa juga salah. Anggota pun demikian. Karena itu yang diperhatikan bukan sekadar niat baik yang mulia, tetapi apakah niat tersebut sungguh sesuai dengan kehendak Allah. Bagaimanapun juga keputusan tetap harus diambil. Saya percaya Roh Kudus dengan kebijaksanaan sejati-Nya, akan selalu memberikan terang untuk memilih yang terbaik.
Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Terlebih menjadi pemimpin rohani yang menggembalakan jiwa-jiwa.Renungan ini menjadi undangan bagiku untuk selalu mendoakan para pemimpin kita: pemimpin Gereja, Paus, para uskup, imam, dan para pimpinan biara. Semoga roh kasih, roh kelemahlembutan, dan roh kebijaksanaan selalu memimpin mereka agar jiwa-jiwa yang dipercayakan kepada mereka mengalami kasih Allah dan mampu melaksanakan kehendak-Nya.
Menarik bahwa pada akhirnya Faustina melihat gagasan Muder Superior ternyata sama dengan gagasan yang ada dalam batinnya. Aku belajar bahwa ketaatan yang sejati bukanlah mematikan karya Roh Kudus, melainkan membantu memurnikannya. Ketika Allah sungguh berkarya, Ia dapat meneguhkan kehendak-Nya melalui banyak jalan, termasuk melalui para pemimpin yang dipercayakan-Nya.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments