Ya Yesus, ketika Engkau datang kepadaku dalam komuni kudus, Engkau berkenan tinggal dalam surga hatiku yang kecil ini bersama dengan Bapa dan Roh Kudus. Aku akan berusaha tetap menemani Engkau sepanjang hari dan tidak sesaat pun aku akan meninggalkan Engkau sendirian! Meskipun aku sedang bersama dengan orang lain, atau dengan siswi-siswi kami, hatiku selalu bersatu dengan Dia.

Ketika aku siap tidur, aku menyerahkan kepada-Nya setiap detak jantungku; ketika aku terjaga, aku membenamkan diriku di dalam Dia tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ketika aku bangun, aku menyembah Tritunggal yang Maha Kudus untuk waktu yang singkat dan bersyukur kepada Allah karena telah berkenan memberiku satu hari lagi sehingga misteri Inkarnasi Putra-Nya dapat sekali lagi diulangi dalam diriku dan sengsara-Nya yang pedih dapat diungkapkan sekali lagi di hadapan mataku. Kemudian aku berusaha agar lewat diriku, Yesus lebih mudah melintas kepada jiwa-jiwa yang lain. Aku pergi ke mana-mana bersama Yesus. Kehadiran-Nya menyertai aku ke mana pun aku pergi.
 BHF 486

Aku berusaha agar lewat diriku Yesus lebih mudah melintas kepada jiwa-jiwa. Rasanya indah sekali, seperti baru mendengarnya. Betapa Faustina memiliki keputusan hati yang begitu manis. Bersatu dengan Kristus, pergi ke mana-mana bersama Kristus, menyerahkan segalanya kepada-Nya, dan dengan rela menyediakan diri agar melalui dirinya Yesus dapat lebih mudah menjangkau jiwa-jiwa.

Faustina mengalami suatu persatuan yang begitu mendalam dengan Yesus. Dalam setiap detik hidupnya, ia berusaha tinggal bersama Dia. Bahkan dalam hal-hal sederhana: saat tidur, saat bangun, saat bersama orang lain, hatinya tetap terarah kepada Tuhan. Ia hidup dalam kesadaran terus-menerus akan kehadiran Allah..

Sungguh indah merenungkan ini. Untuk Allah dan jiwa-jiwa. Faustina tidak hanya berhenti pada pengalaman pribadi dengan Tuhan, tetapi ia membuka dirinya menjadi jalan, menjadi perantara, agar kasih Tuhan dapat mengalir kepada banyak jiwa. Ia sadar bahwa persatuan dengan Kristus selalu mengarah pada misi bagi sesama. Faustina sungguh siap sedia. Hidupnya terbuka di hadapan Allah, tanpa syarat, tanpa batas. Ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi jalan bagi kasih Tuhan menuju sesama..

Merenungkan ini, aku pun bertanya dalam hatiku: apakah aku sungguh membawa Yesus ke mana pun aku pergi? Aku rindu belajar seperti Faustina yakni hidup bersama Yesus dalam setiap detik dalam kesadara akan kehadiran-Nya, dan dengan sederhana membuka diri agar melalui hidupku, sekecil apa pun, Yesus boleh melintas dan menjamah jiwa-jiwa yang lain.

Aku yakin sekali, saat ini pun melalui SKR terutama melalui BHF, Faustina telah membuat Yesus lebih mudah melintas menuju jiwa – jiwa. Jiwaku pun termasuk di dalamnya berkat BHF dsn SKR ini. Tidaklah berlebihan sekiranya SKR ini menjadi sarana yang juga dipakai Yesus untuk lebih mudah melintas kelada jiwa-jiwa.
Yesus, Engkau andalanku.