Aku ingin menyembunyikan penderitaanku sendiri tidak hanya dari mereka (=orang), tetapi juga dari Engkau, ya Yesus. (57).
Aku ingin menyembunyikan diriku sedemikian sehingga tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahui hatiku. (201)
Aku ingin bersembunyi dari tatapan orang-orang supaya aku hidup, tetapi tampaknya tidak hidup…. Aku ingin hidup di bawah tatapan ilahi-Mu karena Engkau saja sudah cukup bagiku. (306).
Ya Yesus, Engkau mengetahui betapa berkobar-kobar keinginanku untuk bersembunyi sehingga tak seorang pun dapat mengenal aku selain Hati-Mu yang teramat manis. Aku ingin menjadi bunga violet yang mungil, yang tersembunyi di balik rerumputan yang tak dikenal di taman bunga yang indah… (591).
Ya Yesus, Engkau mengetahui betapa berkobar-kobar keinginanku untuk bersembunyi sehingga tak seorang pun dapat mengenal aku selain Hati-Mu yang teramat manis. Kalimat ini sangat indah dan menyentuh hatiku dari tema Aku ingin bersembunyi. Bagiku, Faustina sungguh-sungguh memiliki Yesus dan relasi yang intens ini dipertahankan, dipelihara dan dijaga. Sebagai sebuah relasi kasih yang dapat dirasakan dan dialami namun sulit diuraikan dengan kata-kata. Kebahagiaan karena intimitas cinta yang saling memiliki tanpa mau diganggu atau membiarkan terganggu.
Saya sangat kagum dengan Faustina yang memiliki cinta yang sangat murni terhadap Yesus. Menjaga kemurnian cintanya agar terhindar dari bahaya-bahaya dunia yang bisa memudarkan cintanya pada Yesus. Mengenal, mencintai, dan mengabdi Yesus, sudah cukup bagi Faustina.
Faustina tahu betul bahwa memiliki Tuhan berarti memiliki segalanya. Kehilangan Tuhan berarti kehilangan segalanya. Faustina tidak butuh dikenal dunia, tidak juga penghormatan dan penghargaan apalagi validasi seperti zaman ini, yang mau dikenal, dihargai, dipuji, atau di media sosial orang butuh “like, comment,share”. Tidak berlaku untuk Faustina, cukup dikenal, dicintai Yesus secara personal, mengalami kasih dan kehadiran-Nya, sudah cukup.
Aku memahami dari kisah Faustina ini, bahwa selain ingin bersembunyi agar hanya Yesus yang mengenal hati-Nya, Faustina juga tidak ingin dirinya lebih dikenal dari pada Yesus. Faustina mau seperti yang diungkapkan Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 3: 30 ” Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Tetap kecil dan tersembunyi, tidak dikenal dan tampak di mata dunia, tapi melakukan cinta yang agar dunia mengenal Allah yang dicintainya. Tidak mudah, karena dari segala penjuru dunia mengintai jiwa-jiwa murni ini. Maka Faustina memilih bersembunyi dalam Hati Yesus. S angat indah merenungkan ini. Tapi apalah dayaku? Ingin bersembunyi ini bertentangan dengan dunia yang ingin terkenal dan terhormat. Membutuhkan rahmat pengingkaran diri dan kerendahan hati yang besar untuk ‘jauh, tersingkir dari mata dan pandangan dunia agar cukup menjadi fokus tatapan Allah saja.
Pada awal masa hidup membiara, membaca banyak buku rohani dan kisah heroik iman orang kudus, ada kerinduan demikian seperti Faustina. Yach..pilihan hidup membiara sendiri, sejatinya memang melepaskan diri dari jangkauan dunia meski masih hidup dan berkarya di dunia.
Entah kapan, semua kerinduan itu sudah memudar, dengan berkembang pesatnya sarana komunikasi yang masuk sampai ruang privat di biara yang paling sunyi. Dunia dan keindahannya di depan mata tak perlu dicari di luar sana. Pergumulan dan perjuangan hebat laksana sebuah pertempuran dalam peperangan. Keinginan meronta, akal mengajak, tapi batin menahan “untuk apa semua itu”.
Saya sangat sadar akan bahaya besar ini. Maka aku mencoba mempersenjatai diri dengan lebih berpegang pada Firman Tuhan, dengan terlibat dalam wagroup Kitab Suci, yang rohani agar pikiran dan hati tetap terarah kepada Tuhan. Begitulah caraku yang sederhana untuk melindungi diri dari mangsa kejam dunia. Sebab tanpa saya kehendaki, naluri dunia kuat bercokol dalam diri. Jika tidak dilawan, dikuasai musuh jiwa.
Belajar dari Faustina, selalu berdialog dengan Yesus, kapan dan di mana pun sepanjang waktu, tidak begitu mudah juga. Berdoa yang tenang dan hening seperti di masa lalu menjadi langka. Yach..saya belajar untuk menemukan Tuhan dalam segalanya, dalam hiruk pikuk, kebisingan dunia dan tuntutan hidup dan karya. Barangkali tidak serupa dan semirip dengan situasi Faustina..Tapi aku ingin spirit Faustina yang teguh, bertekat kuat memegang tangan Tuhan dan mengandalkan Tuhan selalu menjadi spiritku juga.
Saya akhirnya mengerti, mengapa kerahiman ilahi ini memang harus disebarluaskan. Sebab tanpa andalkan Tuhan, semua hampa, tidak berguna.
Sungguh, dalam pergumulanku, aku mau tetap berpegang pada Tuhan yang andalanku satu-satunya. Saya yakin jika tatapan mata jiwaku pada-Nya dan andalan tambatan hatiku pada-Nya, Yesusku pasti akan menyembunyikan aku dalam hati-Nya.
Dari diriku, diperlukan cinta, kerendahan hati dan penyerahan diri. Aku tahu ini tidak mudah, tapi yakin segala sesuatu mungkin bagi Allah . Yesus, Kau andalanku.*hm
Recent Comments