Pada suatu petang, dari kamarku aku menengadah ke langit dan melihat bulan serta bintang-bintang indah yang bertaburan di cakrawala.

Ketika itu suatu api kasih yang tak terselami, yakni api kasih akan Penciptaku, meletup di dalam jiwaku dan karena tak mampu menahan kerinduan akan Dia yang muncul di dalam jiwaku, aku jatuh tertelungkup sambil merendahkan diriku ke tanah. Aku memuliakan Allah karena segala karya-Nya dan ketika hatiku tidak lagi mampu menahan apa yang terjadi di dalamnya, aku menangis keras. Kemudian, Malaikat Pelindungku menyentuh aku dan berkata kepadaku sebagai berikut, „Tuhan memerintahkan aku untuk memberitahukan kepadamu supaya engkau bangkit dari lantai.” Aku langsung bangkit, tetapi tidak merasakan penghiburan di dalam jiwaku. Kerinduan akan Allah bahkan menjadi semakin kuat di dalam diriku.  BHF 470

Aku memuliakan Allah karena segala karya-Nya dan ketika hatiku tidak lagi mampu menahan apa yang terjadi di dalamnya, aku menangis keras.
Merenungkan pengalaman Faustina, aku tersentuh oleh ungkapannya: ia memuliakan Allah karena segala karya-Nya sampai hatinya tidak mampu lagi menahan apa yang terjadi di dalam jiwanya, dan ia menangis keras.

Ungkapan ini begitu hidup bagiku. Aku merasakan hal yang sama, terutama setelah melewati Tri Hari Suci: sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Semua itu bukan sekadar perayaan, tetapi sungguh menjadi pengalaman batin yang menyentuh dan menggugah hatiku.
Dalam kesederhanaan tempat aku merayakan Paskah, bersama umat yang sederhana di Pulau, jauh dari kemewahan, aku melihat sesuatu yang sangat indah. Ketulusan, iman yang sederhana, dan cinta yang apa adanya, menjadi tanda nyata karya Allah yang besar. Aku menangkap bahwa Allah bekerja dengan cara-Nya sendiri di dalam setiap jiwa, dan semuanya indah pada waktunya.

Hatiku terharu. Di satu sisi aku bersukacita, atas karya kebaikan dna kasih Tuhan yang selalu kualami, tetapi di sisi lain aku juga melihat diriku sendiri. Betapa sering aku kurang bersyukur. Betapa kecil dan lemahnya kasihku dibandingkan dengan kasih Allah yang begitu besar. Aku semakin heran dan kagum: Allah tetap mencurahkan rahmat-Nya tanpa henti, tanpa perhitungan, tanpa syarat. Kasih-Nya tidak bergantung pada keadaan diriku. Kasih-Nya tetap mengalir, bahkan ketika aku lemah, bahkan ketika syukurku tidak penuh. Sungguh ajaib kebaikan Tuhan. Sungguh tak terselami cara-cara-Nya mengasihi aku dan mengasihi jiwa-jiwa.

Dari pengalaman ini, aku disadarkan akan satu hal penting: aku tidak boleh berhenti hanya pada rasa haru dan syukur. Air mata, betapapun tulusnya, tidak cukup. Aku dipanggil untuk bangkit. Bangkit, berjalan bersama Tuhan.yamh bangkit menjadi saksi kebaikanNya. Seperti Faustina yang disentuh dan diminta untuk bangkit, aku pun dipanggil untuk tidak tinggal dalam perasaan, tetapi melangkah menjadi saksi. Memuliakan Allah bukan hanya dengan doa dan renungan, tetapi lebih dari itu.

Aku ingin bangkit bersama Kristus. Bangkit dari ketakutan, dari keraguan, dari keterbatasanku. Aku ingin pergi dan mewartakan kebaikan Tuhan, sekecil apa pun caraku. Sebab itulah cara paling nyata untuk memuliakan Allah ketika hidupku sendiri menjadi tanda kasih-Nya bagi orang lain. Aku bersyukur. Aku memuji dan memuliakan segala karya-Mu, ya Tuhan. Dalam sukacita Paskah ini, dalam hari-hari novena KI, aku ingin hidup sebagai saksi kebangkitan-Mu. Yesus, Engkau andalanku. Selamat Paskah!