Sesaat kemudian, aku melihat lagi Anak yang telah membangunkan aku. Keelokannya sungguh mengagumkan dan Ia mengulangi kata-kata ini kepadku, Keagungan sejati jiwa ada dalam kasih akan Allah dan dalam kerendahan hati. Aku bertanya kepada Anak itu, “Bagaimana kamu tahu bahwa keagungan sejati ada dalam kasih akan Allah dan dalam kerendahan hati? Hanya pakar teologi yang tahu mengenai hal-hal seperti ini dan kamu bahkan belum mempelajari katekismus. Jadi bagaimana kamu tahu?” Menanggapi pertanyaan ini, ia menjawab, Aku tahu; Aku mengetahui segala sesuatu. Sesudahnya, Ia menghilang. BHF 427
Kalimat ini menggema kuat di hatiku: “Aku tahu; Aku mengetahui segala sesuatu.” Bagi diriku, kata-kata Anak kecil ini dengan sangat jelas menyingkapkan siapa Dia sesungguhnya. Dialah Yang Maha Tahu. Dia yang mengetahui segala sesuatu,yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Dia mengetahui yang tampak maupun yang tersembunyi. Dia menyelami lubuk hati manusia yang terdalam, memahami pergumulan jiwa-jiwa, mengenal kerapuhan pendosa, dan tahu jalan keselamatan bagi setiap orang.
Dialah Yesus, Allah yang menjadi manusia. Sang Sabda yang berinkarnasi, yang mengalami hidup manusia sepenuhnya, kecuali dosa. Dia tahu mengapa Ia datang kepada Faustina. Dia tahu kapan, bagaimana, dan dengan cara apa Ia menghampiri jiwa. Karena Ia Maha Tahu, Ia hadir bukan sebagai Raja yang menggentarkan, melainkan sebagai Anak kecil—lembut, dekat, dan mengundang kepercayaan.
Aku tertegun membaca dialog Faustina dengan Anak itu. Justru dalam rupa Anaklah tersingkap keagungan kasih Allah dan kerendahan hati-Nya. Ia yang setara dengan Allah tidak mempertahankan ke-Allahan-Nya, tetapi mengosongkan diri dan mengambil rupa hamba (lih. Flp 2). Sungguh mengagumkan : Yang Maha Tahu memilih hadir dengan cara yang paling sederhana dan rendah hati.
Ungkapan “Aku tahu; Aku mengetahui segala sesuatu” bagiku menjadi jaminan iman, harapan dan kasihku pada-Nya. Mengapa aku perlu mengandalkan-Nya? Dia tahu segala sesuatu.Tentu tentang diriku, hidupku dan semuanya. Karena Dialah Pemilik masa lalu, masa kini, dan masa depan. Aku jadi teringat pengakuan Simon Petrus: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu; Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu.”
Jika tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, untuk apa aku malu datang kepada-Nya membawa dosaku? Ia sudah tahu sebelum aku sadar aku telah berdosa. Dan justru karena Ia tahu, Ia tahu pula bagaimana menyembuhkan dan menyelamatkanku. Memasuki hari ketiga masa Pra paska ini, sungguh saya merasa diajar, dituntun Tuhan melalui SKR untuk merenung tentang kasih dan keutamaan kerendahan hati, yang menjadi dasar mengapa Dia rela menderita sengsara, wafat untuk menyelamatkan aku.
Yang paling indah bagiku: keagungan kasih sejati dan kerendahan hati bukan hanya Dia ajarkan—itulah jati diri-Nya sendiri. Dan inilah yang akan terus kurenungkan dalam hari-hari istimewa selama masa ini yang kiranya membawa pertobatan, perubahan dan pembaharuan batinku, dari hari ke hari, sampai kepada kebangkitan dan hidup baru dalam Dia _tidak perlu tunggu dalam Perayaan paskah tapi bangkit hari demi hari.
Sungguh indah kasih Tuhan bagiku, bagi SKR. Dan aku sadar dibutuhkan rahmat kerendahan hati yang besar untuk berjalan bersama Sang Yang Maha Tahu. Tidak mudah, tapi aku mau berjuang. Aku yakin, Dia yang maha tahu pasti menopang aku dengan rahmat-Nya. Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments