Dalam renungan tentang kerendahan hati, keragu-raguan lama muncul kembali, yakni bahwa suatu jiwa yang papa seperti jiwaku tidak akan mampu melaksanakan tugas yang telah dituntut Tuhan. Sementara aku menganalisis keragu-raguan ini, imam yang memimpin retret menyela alur perenungannya dan berbicara mengenai satu hal persis yang sedang aku ragukan, yakni bahwa Allah biasanya memilih jiwa yang paling lemah dan paling sederhana sebagai alat untuk karya-karya-Nya yang paling besar. Kita dapat melihat bahwa ini merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal kalau kita memperhatikan orang-orang yang dipilih Allah menjadi rasul-rasul-Nya, atau lagi kalau kita menyimak sejarah Gereja dan menyaksikan betapa karya-karya besar dilakukan oleh jiwa-jiwa yang paling tidak mampu melaksanakannya. Sebab hanya dengan cara inilah karya-karya Allah dinyatakan sebagaimana adanya, yakni sebagai karya Allah. Ketika keragu-raguanku sama sekali menghilang, imam itu kembali ke tema konferensinya tentang kerendahan hati. Yesus berdiri di altar, seperti biasa Ia lakukan dalam setiap konferensi, dan tidak berkata apa-apa kpdku, tetapi tatapan mata-Nya yang ramah menembus jiwaku yang papa yang kini tidak lagi memiliki satu dalih apa pun. BHF 464 

Dalam renungan tentang kerendahan hati, keragu-raguan lama muncul kembali… bahwa suatu jiwa yang papa seperti jiwaku tidak akan mampu melaksanakan tugas yang telah dituntut Tuhan. Merenungkan ini, aku melihat sesuatu yang sangat indah bukan pertama-tama tentang keraguan Faustina, tetapi tentang bagaimana Tuhan Yesus bersikap terhadap keraguan itu. Bagaimana Yesus mendampingi Faustina dalam pergumulan keraguanya. Yesus tidak tergesa-gesa. Ia sabar…dan kesabaran-Nya itu nyata, berproses, bahkan melalui orang lain melalui mulut imam. Aku membayangkan memang tidak mudah bagi Faustina untuk langsung yakin hanya dari suara batin. Suara Ilahi yang bergema dalam hati… memang benar, tetapi sebagai manusia, sering kali masih membutuhkan peneguhan yang kelihatan, yang terdengar nyata.Dan di sinilah aku melihat kebaikan Tuhan yang begitu halus. Ia mengerti kebutuhan itu. Ia tahu kerapuhan jiwa.Ia tahu kapan harus berbicara dalam hati… dan kapan harus meneguhkan melalui orang lain.

Bagiku, SKR hari ini sungguh menampakkan kasih dan kebaikan Tuhan yang luar biasa besar bagi Faustina. Tuhan yang rela menunggu dengan sabar. Tuhan yang tidak pernah memaksa. Tuhan menghormati kebebasan manusia. Tidak mendesak Faustina untuk segera yakin. Ia justru mendampingi proses pergumulan Faustina. Aku merasakan Tuhan sungguh peduli pada keadaan diri, suasana batin, bahkan kesadaran akan kepapaan. Aku jadi semakin mengerti karya Tuhan tidak seperti cara kerja dunia. Tidak terburu-buru tidak kejar target. Tidak dipaksakan harus segera selesai sesuai rencana manusia.

Karya Tuhan sungguh dalam tangan-Nya. Dialah yang memegang kendali. Aku hanyalah hamba yang diikutsertakan dalam karya-Nya. Tuhan tidak “bekerja sendiri”. Ia melibatkan banyak orang. Ia menyusun segalanya dengan cara-Nya sendiri.Sungguh…ada semacam “seni ilahi” dalam menunggu.
Menunggu jawaban, menemani proses, menanti saat yang tepat untuk melangkah.Dan dari pihak Faustina, aku melihat bahwa keraguannya bukan karena menunda atau menolak. Tidak. Keraguannya sungguh lahir dari kepapaan, dari kesadaran diri, dari kerendahan hati, dari kewaspadaan dan kehati-hatian. Bahkan di dalamnya, aku melihat ketergantungan yang mendalam pada Tuhan. Ini bukan soal kurang percaya diri yang harus dilatih atau diperbaiki secara manusiawi. Ini tentang proses iman, proses rahmat, di mana Tuhan sendiri yang bekerja, dan melibatkan banyak orang dalam rencana-Nya.

Merenungkan semua ini, aku sungguh terpesona betapa luar biasa Tuhan kita. Ia selalu memiliki cara yang tidak terpikirkan, yang lembut namun pasti untuk mewujudkan rencana keselamatan dan karya kasih-Nya. Aku merasa diteguhkan, untuk boleh tetap setia meski lemah dsn sering ragu.Sebab aku percaya…apa pun yang Tuhan kehendaki, pasti akan disediakan-Nya segala yang diperlukan. Yesus, Engkau andalanku.