JUMAT, PEKAN BIASA “Allah Membuka Jalan, Allah Membuka Telinga dan Lidah kita agar kita setia dan bersaksi”
1Raj. 11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37.
Bacaan hari ini berbicara tentang Allah yang bertindak dalam sejarah dan dalam hidup manusia. Dari kisah Yerobeam yang menerima nubuat tentang perpecahan kerajaan, Mazmur yang mengingatkan umat agar setia kepada Allah, hingga Injil Markus yang menampilkan Yesus membuka telinga dan lidah orang yang bisu-tuli. Pesan utamanya jelas: Allah membuka jalan bagi umat-Nya, dan Ia membuka telinga serta lidah kita agar kita setia dan bersaksi.
Akibat ketidaksetiaan Salomo, kerajaan yang dengan susah payah dibangun tercabik-cabik. Nabi Ahia menyatakan itu lewat tanda-tanda. Namun dalam situasi itu, Allah tetap menyatakan kesetiaan-Nya. Melalui sisa-sisa kecil, Allah tetap berkarya menumbuhkan mutu kasih ilahi-Nya. Sisa kecil inilah yang akan menjadi landasan pembangun kembali kehidupan yang terbuka pada kasih karunia Allah.
Kisah penyembuhan orang bisu tuli di daerah kafir menjadi sebuah tanda peringatan bagi setiap orang beriman, kaum terpilih. Sering kali orang beriman amat bangga atas imannya, namun kebanggaan iman tersebut tidak menjadi daya yang menggerakkan hidup dan kehidupan. Sebaliknya, menjadi jalan kesombongan yang membuatnya menjadi bisu dan tuli terhadap kasu karunia Allah.
Apakah imanku telah menjadi daya yang menggerakkan seluruh hidupku? Atau sebaliknya, aku telah menjadi bisu dan tuli terhadap daya kasih karunia Allah?
Allah membuka jalan bagi umat-Nya, seperti dalam sejarah Israel. Yesus membuka telinga dan lidah orang bisu-tuli, tanda bahwa Ia juga ingin membuka hati kita. Mari kita setia mendengarkan suara Allah dan berani bersaksi tentang kasih-Nya, sehingga dunia melihat bahwa Allah sungguh hadir dan bekerja.
“Effata! Terbukalah!” (Mrk. 7:34). Mari membuka diri pada kasih karunia Allah. Mari membiarkan Allah menjadi daya yang menggerakkan hidup dan kehidupan kita. Tuhan memberkati. *RD AMT
Recent Comments