29 September. Pesta St,. Mikhael Malaikat Agung.

Secara batin, aku sudah dipersatukan dengan Allah. Kehadiran-Nya merasuki diriku sampai ke lubuk hatiku dan memenuhi aku dengan damai, sukacita, dan pesona. Sesudah berdoa sejenak, aku dipenuhi dengan kekuatan dan keberanian yang luar biasa untuk menderita dan bertempur. Tidak ada suatu pun yang menggentarkan aku, juga kalau seluruh dunia berbalik menyerang aku. Segala kendala hanya menyentuh permukaan, tetapi tidak mampu menemukan jalan masuk ke lubuk hatiku sebab Allah yang menguatkan aku, yang memenuhi diriku, bersemayam di sana. Semua jerat musuh dihancurkan pada tumpuan kaki-Nya. Dalam saat perpaduan ini, Allah menopang aku dengan kekuatan-Nya. Kekuatan-Nya tersalur kepadaku dan membuat aku mampu mengasihi Dia. Dengan kekuatan-Nya sendiri, jiwa tidak pernah mencapai keadaan ini. Pada awal rahmat batin ini aku dipenuhi dengan ketakutan dan aku mulai menyerah kepadanya; tetapi dengan amat cepat, Tuhan membuat aku sadar bahwa hal ini sangat tidak berkenan di Hati-Nya. Dan Dia jugalah, Dia sendiri, yang membuat ketakutan mereda.BHF 480

Membaca SKR nomor 480 ini, saya terinspirasi secara keseluruhan setiap ungkapan hati Faustina yang menggambarkan kedekatan hati dan persatuan jiwa dengan Allah. Saya menamai proses transformasi hidup beriman Faustina. Saya mencoba merenung proses itu. Saya tertarik pada transformasi jiwa Faustina yang begitu nyata melalui peran rahmat Allah dan keterbukaan hatinya. Faustina dengan jujur mengakui bahwa pada awalnya ia dipenuhi rasa takut. Namun, Allah dengan rengkuhan rahmat-Nya perlahan mengubah ketakutannya menjadi keberanian. Allah sendirilah yang memilih dan menuntun, serta melimpahinya dengan rahmat yang berlimpah. Tidak mengherankan jika Faustina mengalami kesatuan yang begitu mendalam dengan Allah. Secara batin ia menyadari dan merasakan kehadiran Tuhan yang meresapi seluruh dirinya, memenuhi jiwanya dengan damai dan sukacita. Ia tidak memintanya, tetapi Allah mencurahkannya. Dan dengan rendah hati Faustina menyediakan diri membuka hati selapang-lapangnya sebagai tempat kediaman Tuhan. Allah yang memulai, Faustina yang bergegas menerima rahmat Allah.

Dengan keterbukaan hati tersebut, Tuhan dengan leluasa berkarya di dalam dirinya. Segala kendala yang datang hanya menyentuh permukaan, demikian pengakuan Fasutina karena sungguh Allah sendirilah yang menjadi sumber kekuatannya. Dalam prosesnya, Faustina tetap mengalami pergulatan manusiawi yang papa yakni ketakutan, kecemasan, kesedihan, dan kelemahan. Namun, ia tidak memelihara semua itu. Seperti yang diungkapkan dalam renungan Bapak Stefan, Faustina tidak membiarkan rasa takut dan kecemasan menguasai dirinya. Faustina tidak memelihara ketakutan seperti kebanyakan orang. Ia memelihara kesadaran iman bahwa dirinya sungguh dikasihi oleh Allah. Keyakinan akan kasih Allah inilah yang menjadi sumber keberanian dan kekuatannya.

Pengalaman Faustina ini mengingatkan saya pada sebuah nasihat yang sering saya yakni Allah tidak memilih orang yang layak untuk menjadi saksi-Nya, tetapi Allah memilih orang yang dikehendaki-Nya. Kebenaran ini tampak jelas dalam Kitab Suci. Yesus memilih para rasul bukan karena kelayakan mereka, melainkan karena kehendak-Nya. Selanjutnya para rasul berproses dalam bimbingan Yesus. Ketika Allah memilih seseorang, Ia juga memperlengkapinya dengan segala rahmat dan anugerah yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tersebut. Saya sangat sadar bahwa proses pengalaman Faustina demikian juga. Faustina, murid dan rasul Sang Kerahiman, tidak menentukan sendiri apa yang harus ia alami atau lakukan. Tapi dia dipilih karena Allah menghendakinya, dan dia taat kepada-Nya penuh keberanian iman.
Merenungkan pengalaman Faustina, saya pun berkaca pada diri sendiri. Saya sadari bahwa rasa takut dan kecemasan yang sering hadir dalam hidup bukan semata-mata disebabkan oleh situasi yang sulit, tetapi juga karena kurangnya kepercayaan bahwa saya sungguh dikasihi oleh Allah. Saya sering kali lebih memelihara ketakutan daripada memelihara kesadaran akan kasih-Nya yang melingkupi hidupku, di luar diriku, di dalam diriku, di sekelilingku, dan dalam setiap peristiwa yang kualami. Benar adanya bahwa ketakutan merupakan tanda kurangnya iman dan pengandalan kepada Tuhan. Pengetahuan yang luas kadang justru membuat saya semakin cemas. Namun, melalui pembelajaran di SKR, saya semakin memahami bahwa sumber penyembuhan dari segala ketakutan adalah rahmat dan kasih Allah sendiri. Mengandalkan Allah bukan sekadar nasihat rohani, melainkan sebuah proses transformasi hidup yang nyata.

Saya merasa sedang berada di jalan transformasi itu dari kelemahan menuju kekuatan; dari ketakutan menuju keberanian; dari kurang iman menuju pengandalan penuh kepada Allah dalam setiap situasi. Dari hidup yang jauh dari Tuhan kepada kedekatan, dan persatuan dengan Tuhan. Ketakutan memang sangat manusiawi, tetapi memilih untuk mengandalkan Allah adalah tindakan iman yang membebaskan. Memang saat ini tampaknya keadaanku seperti ini, biasa-biasa saja. Tetapi siapa tahu rahmat Tuhan bekerja dengan sangat luar biasa, segala sesuatu bisa berubah, jika Allah menghendakinya asal aku pun bersedia menyambut dan taat pada-Nya dan bertekun. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Faustina, doakanlah aku dan kami semua. Aku rindu mengalami transformasi hidup beriman seperti yang engkau alami, agar tidak tinggal dalam kelemahan, tidak memelihara kecemasan, dan tidak membiarkan ketakutan menguasai hidupku. Semoga aku semakin berani karena menyadari, mengakui dan mengimani betapa besar kasih Allah bagi jiwaku yang lemah ini. Yesus, Engkau andalanku.