Pada suatu kesempatan, aku memahami bahwa Allah sangat tidak berkenan akan suatu tindakan yang tidak didasari dengan maksud yang tidak murni, betapa pun tindakan itu terpuji. Perbuatan-perbuatan seperti itu lebih membangkitkan hukuman daripada ganjaran dari Allah. Semoga perbuatan-perbuatan seperti itu sesedikit mungkin ada dalam hidup kita. Sungguh, dalam hidup membiara tindakan seperti itu hendaknya sama sekali tidak ada.BHF 484
Membaca dan merenungkan BHF 484, saya ingat suatu istilah yang sejak awal hidup membiara selalu disebut, yaitu intentio recta, yang artinya intensi murni, maksud yang lurus, tanpa unsur tersembunyi. Dalam arti, segala tindakan yang dilakukan haruslah berlandaskan maksud baik, dan tujuannya juga adalah untuk kebaikan bersama, keselamatan jiwa-jiwa, serta kemuliaan Allah. SKR hari ini.membawa aku untuk sungguh perikda batin.
Maksud baik, intensi murni dalam setiap perbuatan perlu dilatih. Maka dalam tradisi hidup membiara selalu ada pemeriksaan batin sekurang-kurangnya dua kali sehari, siang dan malam. Bukan jenis perbuatan baik yang lebih dilihat, tetapi terutama roh apa yang mendorong aku melakukan perbuatan baik itu: Roh Kudus atau roh jahat. Dengan pembiasaan demikian, kita akan semakin peka untuk melihat dan menyadari setiap perbuatan kita.
Inti utamanya adalah melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah, bukan untuk kehormatan dan kemuliaan diri sendiri. Kita tahu, sebagai pendosa, sangat mudah roh jahat turut memengaruhi pikiran dan tindakan kita. Pada akhirnya, dari buahnya akan dikenal dari mana sumbernya. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Cepat atau lambat akan terlihat suatu waktu jika perbuatan yang dilakukan tidak bermaksud murni. Hal ini akan tampak pada pribadi pelaku, bukan pada hasil perbuatannya. Orang lain yang peka dan murni hatinya akan mudah merasakan adanya “sinyal maksud tersembunyi” dari pelaku. Jika di hadapan manusia saja hal itu bisa terlihat, apalagi di hadapan Tuhan.
Maksud dari semua ini bukanlah supaya kita menjadi takut atau tidak berani berbuat sesuatu karena memikirkan pandangan orang terhadap kita. Bukan. Tujuan utamanya adalah agar seluruh hidup kita yang fana ini sungguh memuliakan Allah. Betapa mudahnya kita “mencuri kemuliaan Allah” dengan tindakan yang hanya berhenti pada kesenangan, kehormatan, kebanggaan, atau kesuksesan diri sendiri. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu seolah-olah untuk Allah dan bukan untuk manusia.
Saya sangat mengerti ketika membaca bagian ini. Dengan cukup tegas Faustina menuliskan bahwa perbuatan semacam itu tidak mendapatkan ganjaran, bahkan bisa mendatangkan hukuman. Mungkin dalam hidup manusiawi hal ini tampak biasa saja, tetapi tidak demikian dalam hidup membiara. Intentio recta adalah hal utama dan menjadi fondasi. Mengapa? Karena hakikat hidup membiara adalah mengejar kesempurnaan cinta kasih sebagaimana dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. Apakah ini sulit? Tidak mudah untuk dijawab. Namun dalam hidup membiara tersedia banyak sarana dan kesempatan untuk melatih olah rohani ini, sampai kita sungguh lepas dan bebas dari segala keterikatan yang tidak berkenan di hati Allah.
Untuk mencapai hal ini, memang perlu selalu memohon rahmat Roh Kudus, disertai latihan terus-menerus, pemeriksaan batin, dan pertobatan tanpa henti sampai akhir hayat. Sungguh bersyukur memiliki Tuhan yang maha rahim, yang misteri kasih dan kerahiman-Nya tak terbatas dan tak terselami. Sungguh beruntung kita yang masih selalu diberi waktu untuk bertobat dan berjuang lagi dan lagi. Sekaligus belajar merendahkan diri di hadapan Allah, sebab sesungguhnya tidak ada sesuatu yang baik yang berasal dari kita sendiri, semua berasal dari Allah dengan rahmat-Nya yang berlimpah. Maka apalah yang pantas kita banggakan? Tidak ada! Kalau pun karena kecenderungan kedosaan, pun kita masih memiliki sarana yakni memgaku dosa dan pertobatan serius dan sungguh-sungguh. Sungguh indah Kerahiman Ilahi. Yesus Engkau andalanku.
Recent Comments