Pujilah Tuhan, hai jiwaku, karena segala sesuatu, dan muliakanlah kerahiman-Nya karena kebaikan-Nya tak berkesudahan. Segala sesuatu akan berlalu, tetapi kerahiman-Nya tanpa batas dan tanpa akhir. Sungguh, kejahatan akan berakhir, tetapi kerahiman-Nya tidak mengenal akhir.

Ya Allahku, bahkan dalam hukuman-hukuman yang Engkau turunkan atas bumi, aku melihat lubuk kerahiman-Mu sebab dengan menghukum kami di bumi ini Engkau membebaskan kami dari hukuman abadi. Bersukacitalah, hai semua makhluk, karena kamu lebih dekat dengan Allah yang maha rahim daripada seorang bayi dengan hati ibunya.

Ya Allah, bagi para pendosa berat yang menyesal dengan tulus hati, Engkau adalah Sang Kerahiman sendiri. Semakin berat kejahatan pendosa, semakin besar haknya untuk mendapatkan kerahiman Allah. BHF 423 

Membaca dan merenung doa Faustina hari ini, aku merasa sedang diajar cara berdoa. Doa Faustina bukan sekadar rangkaian kata, tetapi memiliki alur batin yang sangat dalam. Faustina memulai dengan pujian: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku…” Dan ini mengingatkan saya akan mazmur 103, Pujilah Tuhan, hai jiwaku. Pujilah nama-Nya yang Kudus hai segenap batinku, Pujilah Tuhan hai jiwaku, jangan lupa segala kebaikan-Nya.Faustina tidak mulai dari laporan keluh kesah keadaannya di hadapan Tuhan dengan berbagai permohonan, atau pergumulan, tetapi mulai dengan memuliakan Allah dan meninggikan kerahiman-Nya. Faustina menata hatinya terlebih dahulu dengan mengingat siapa Allah baginya : Allah yang baik, yang setia, dan kerahiman-Nya tak berkesudahan.

Sesudahnya ia mengakui imannya. Segala sesuatu akan berlalu, kejahatan akan berakhir, tetapi kerahiman Allah tidak pernah berakhir. Kalimat ini bagiku seperti jangkar iman. Dalam dunia yang berubah-ubah, dalam hidup yang naik turun, hanya satu yang pasti yakni kerahiman-Nya tetap selamanya. Dan Faustina percaya semua itu. Yang sangat menyentuh hatiku adalah keberanian Faustina melihat kerahiman bahkan dalam hukuman. Ia berani berkata bahwa hukuman di bumi justru dilihatnya sebagai wujud kasih Allah. Karena Allah tidak menghendaki kebinasaan kekal anak-anak-Nya. Ini cara pandang iman yang sangat matang yakni, tidak menyangkal penderitaan, tetapi menemukan kasih Allah di dalamnya.

Kemudian Faustina mengajak seluruh ciptaan bersukacita. Sukacita karena Allah menempatkan manusia, bahkan pendosa, sangat dekat dengan Allah bahkan lebih dekat daripada bayi dengan ibunya. Gambaran ini begitu lembut dan menenangkan hati. Allah tidak menjaga jarak; Dia merengkuh, merangkul dan memeluk semua anak-anak-Nya.

Doa ini kiranya mencapai puncak saat Faustina menyebut para pendosa berat. Ia tidak menghakimi, tidak menjauh. Justru di sanalah ia mengakui inti Injil: semakin besar dosa, semakin besar ruang bagi kerahiman Allah. Aku jadi ingat ungkapan Rassl Paulus, “Di mana dosa bertambah, di situ rahmat Allah semakin berlimpah. Tentu bukan karena dosa itu baik, tetapi karena yang paling nyata dan utama bahwa kasih Allah jauh melampaui dosa.

Merenungkan doa ini dengan alurnya yang teratur dan indah, aku belajar: sebelum aku meminta apa pun dalam doa dengan berbagai permohonan, aku perlu selalu memuliakan Allah,
mengingat kembali siapa Dia, dan menaruh seluruh hidupku dalam terang kerahiman-Nya. Doa Faustina hari ini menuntunku untuk berdoa dengan iman, pengharapan, dan penyerahan diri tanpa takut pada kerapuhan diriku sendiri. Sebab Allah mengasihiku, apa pun keadaanku. Aku belajar dari Faustina, berdoa dengan kasih yang besar kepada Allah.
Yesus, Engkau andalanku.