KAMIS, PEKAN BIASA VIII
1Ptr 2:2-5.9-12; Mzm 100:2.3.4.5; Mrk 10:46-52.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk merenungkan identitas kita sebagai umat yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Kristus. Rasul Petrus menegaskan bahwa kita adalah “bangsa terpilih, imamat rajawi, umat kepunyaan Allah sendiri.” Injil menampilkan kisah Bartimeus, seorang buta yang disembuhkan karena imannya. Semua ini menegaskan bahwa kita dipanggil untuk hidup sebagai saksi terang Kristus, dengan mata iman yang terbuka dan hati yang siap melayani.

Drama penyembuhan Bartimeus yang buta menarik untuk disimak. Berbeda dengan penyembuhan orang buta yang lain (8:22), Bartimeus berteriak memohon kesembuhan atas inisiatifnya sendiri. Sapaannya: “Anak Daud” terhadap Yesus menunjukkan bahwa ia lebih mengenali dan melihat secara jelas siapakah Yesus itu dari pada para murid Yesus dan orang banyak lainnya yang selalu bersama-sama dengan Yesus. Ia juga menjadi satu-satunya orang dalam Injil Markus yang menyapa Yesus: “Rabuni” (Guru). Yesus juga tidak memerlukan menyentuh Bartimeus untuk menyembuhkannya. Ia juga juga tidak mengatakan kepada Bartimeus: “Imanmu telah menyelamatkamn engkau”. Sebab, seruan dan tindakan Bartimeus telah mengungkapkan bahwa imannya sungguh mendalam.

Rasul Petrus mengingatkan kita akan status kita sebagai “yang terpilih” dan “kudus”. Gambaran mengenai batu dan umat berbicara mengenai pilihan kita oleh Allah dan kekudusan setiap orang pilihan Allah di hadapan-Nya. Yesus adalah batu yang dibuang oleh umat pilihan Allah telah menjadi batu hidup. Yesus batu hidup ini menjadi pola teladan bagi setiap umat pilihan. Oleh karena itu setiap umat pilihan harus menjadi batu hidup bagi tubuh yang kudus umat beriman. Gambaran ini memiliki dua makna: pertama-tama menjelaskan keadaan kita di dunia yaitu mengambil bagian dalam pola hidup Kristus (dalam penderitaan dan pilihan). Kedua, bagaimana kita bersatu dengan Kristus menjadi tempat tinggal yang baru dan kudus bagi Allah yang kudus.
Mazmur mengajak kita untuk bersyukur dan bersukacita karena Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Sukacita adalah tanda orang yang hidup dalam terang Kristus.

Apakah aku selalu terpesona dan mengagumi pilihan Allah atas diriku? Sebagai batu hidup, umat pilihan, apakah aku telah memiliki mata batin yang terbuka untuk mengenali karya dan belas kasih Allah di dalam hidupku? Seberapa dalam imanku akan Allah dalam diri Yesus yang aku imani itu? Apa wujudnyata kedalaman imanku itu?
Bacaan hari ini meneguhkan kita bahwa kita adalah umat Allah, bangsa terpilih, imamat rajawi. Seperti Bartimeus, kita dipanggil untuk melihat dengan iman, dan seperti Mazmur, kita diajak untuk bersyukur atas kasih setia Tuhan. Semoga Roh Kudus menuntun kita untuk hidup sebagai umat terang, sehingga hidup kita sungguh menjadi kesaksian yang memuliakan Allah dan membawa damai bagi sesama.
Mari meneladani Bartimeus membuka mata hati kita untuk melihat dan menyelami pilihan dan karya belas kasih Allah bagi diri kita dan di dalam setiap peristiwa hidup kita.
Tuhan memberkati.*RD AMT