MINGGU BIASA XV
Yes. 55:10-11; Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23 (panjang) atau Mat. 13:1-9 (singkat).
Liturgi Minggu ini menyingkapkan kekuatan Firman Allah yang tidak pernah kembali sia-sia, melainkan menghasilkan buah. Paulus menegaskan bahwa penderitaan sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang, dan Injil menampilkan perumpamaan penabur yang menegaskan perlunya hati yang terbuka agar Firman bertumbuh.
Sebagaimana hujan dan salju turun dari langit dan akan tidak kembali ke langit melainkan mengairi bumi dan memberikan kesuburan, demikian juga Firman Allah. Firman itu tidak akan kembali tanpa apa-apa. Ia akan melaksanakan kehendak Allah dan menjalankan perintah-Nya. Allah dengan daya kasih dan kesetiaan-Nya yang tanpa batas akan senatiasa melaksanakan janji penyelamatan dalam Sabda-Nya. Kebenaran iman inilah yang harus tetap dipegang teguh oleh setiap orang beriman. Sebab, Firman Allah itulah yang menjadi daya, sarana, dan patokan bagi setiap orang untuk membangun jati dirinya sesuai dengan rencana dan kehendak penyelamatan oleh Allah.
Searah dengan nabi Yesaya, Yesus menyatakan ajaran-Nya tentang Sabda Allah, Warta Kerajaan Allah dalam bentuk perumpamaan tentang benih yang ditaburkan. Kontras antara benih yang berbuah melimpah dengan benih yang sia-sia menandaskan secara amat jelas kepada setiap orang kemungkinan dan pilihan berhadapan dengan Sabda atau Warta Kerajaan Allah. Tanah yang subur adalah kondisi yang sesuai, sebaliknya tanah yang buruk adalah kondisi yang tidak layak. Benih yang berbuah adalah mereka yang menerima, benih yang sia-sia adalah mereka yang tidak menerima atau tidak percaya. Tanah yang buruk melambangkan kurangnya pemahaman (ayat 19), kedangkalan (ayat 21), keterpecahan dalam diri (ayat 22). Halangan untuk percaya adalah si jahat (ayat 19), penganiayaan dan pengejaran (ayat 21). Tanah yang subur melukiskan pesan Yesus yang diterima secara terbuka dan menghasilkan buah yang melimpah (ayat 23).
Paulus mengingatkan bahwa keselamatan tidak hanya ditujukan kepada manusia saja, melainkan kepada segala makhluk. Namun keselamatan itu secara serta merta tidak dapat diwujudkan, sebab ada berbagai macam penderitaan. Pertentangan antara roh dan daging diperkenalkan oleh Paulus. Daging mengungkapkan manusia yang terikat pada dunia yang jika dibiarkan dengan kemampuannya sendiri tidak dapa t tertolong. Sedangkan roh menggambarkan manusia yang ada di dunia, namun membuka diri pada pimpinan dan kekuatan Roh Yesus. Dengan sangat rindu semua makhluk menantikan pimpinan dan kekuatan Roh Yesus itu.
Sejauh mana aku telah membuka diriku seutuhnya bagi Sabda Allah? Apakah Sabda Allah telah menjadi daya, sarana, dan patokan untuk membangun jati diriku sesuai dengan rencana dan kehendak penyelamatan oleh Allah? Bagaimana sikap hatiku berhadapan dengan benih Sabda Allah yang telah ditaburkan ke dalam hatiku? Apakah aku telah membuka diri pada pimpinan dan kekuatan Roh Yesus atau lebih mengikuti kecenderungan dagingku?
Hari ini kita diteguhkan bahwa Firman Allah selalu bekerja, Roh Kudus membaharui ciptaan, dan kita dipanggil untuk menjadi tanah yang baik bagi Firman. Mari kita hidup sebagai umat yang berbuah dalam kasih dan pengharapan. Mari membuka diri kita seutuhnya bagi Sabda Allah. Mari menjadikan Sabda Allah sebagai daya, sarana, dan patokan untuk membangun jati diri kita sesuai dengan rencana dan kehendak penyelamatan oleh Allah. Mari membuka diri pada pimpinan dan kekuatan Roh Yesus!
Tuhan memberkati. RD AMT
Recent Comments