JUMAT, PEKAN BIASA XIV
Hos 14:2-10; Mzm 51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat 10:16-23.
Liturgi hari ini menyingkapkan dua hal penting: panggilan Allah untuk bertobat dengan hati yang tulus, dan Yesus yang meneguhkan murid-murid-Nya agar tetap setia meski menghadapi penganiayaan. Bacaan ini mengajak kita untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih, serta berani menjadi saksi Kristus di tengah tantangan dunia.
Pengalaman hidup yang telah berlalu membentangkan kenyataan yang terpatri jelas tentang kasih dan kesetiaan Allah dalam kerahiman-Nya. Kasih dan kesetiaan dalam kerahiman inilah yang mendorong setiap orang untuk bertobat dan membangun kembali kehidupan dari kegagalan bahkan kehancurannya. Nabi Hosea tampil mengajak umat Israel untuk mengakui kekurangan dan kesalahan, lalu membuka diri, menerima tawaran pengampunan dalam kasih dan kesetiaan, untuk membangun hidup yang baru.
Perutusan yang harus diwujudkan oleh para murid bukan hal yang gampang dan enak. Bagaikan domba diutus ke tengah serigala, itulah perutusan para murid. Oleh karena itu, para murid tidak boleh mengandalkan kekuatan sendiri. Mereka juga tidak boleh gegabah. Mereka harus cerdik tetapi juga tulus dan jujur. Namun mereka tak perlu kuatir. Mereka harus mengandalkan Allah dalam kekuatan Roh-Nya. Maka para murid harus terbuka pada tuntunan Roh Kudus dalam kasih dan kesetiaan Allah.
Sejauh mana aku telah membuka diri pada tuntunan Roh Kudus untuk membangun kehidupanku? Apakah aku selalu membina sikap pertobatan dan membangun kembali kehidupan dari kegagalan bahkan kehancuran yang aku alami?
Hari ini kita diteguhkan untuk bertobat dengan hati tulus, memohon hati yang bersih, dan setia dalam perutusan Kristus. Mari kita hidup sebagai murid yang berani bersaksi, penuh kasih, dan teguh dalam iman. Mari membuka diri bagi tuntunan Roh Kudus untuk membangun diri dan kehidupan kita, mengandalkan Allah dalam kekuatan Roh-Nya.
Tuhan memberkati. RD AMT
Recent Comments