Penggunaan Kamar Tamu tidak seorang pun akan menggunakan kamar tamu tanpa izin khusus dari superior, dan superior hendaknya tidak mengizinkan kunjungan yang terlalu sering. Mereka yang sudah mati bagi dunia hendaknya tidak kembali lagi ke sana, juga tidak melalui percakapan-percakapan.

Tetapi, kalau superior menganggap baik untuk mengizinkan seorang suster pergi menerima kunjungan di kamar tamu, hendaknya ia mematuhi arahan-arahan berikut. Ia sendiri hendaknya menemani suster itu, dan kalau ia tidak dapat melakukannya, ia hendaknya mengatur agar ada seorang suster yang menggantikannya; suster pengganti ini akan terikat dengan kerahasiaan dan tidak boleh menceritakan apa yang ia dengar, tetapi ia harus memberitahukan segala sesuatu kepada superior.

Percakapan harus singkat kecuali kalau ada izin untuk menggunakan waktu yang lebih lama demi orang yang telah datang berkunjung. Tetapi, tirai hendaknya tidak dibuka kecuali untuk hal-hal yang sangat khusus, seperti kalau seorang ibu atau bapak dengan mendesak minta agar tirai dibuka.  BHF 555

“Mereka yang sudah mati bagi dunia hendaknya tidak kembali lagi ke sana, juga tidak melalui percakapan-percakapan.”

Dari kisah panjang tentang kamar tamu, syarat penggunaannya, aku sangat tertarik dengan kalimat ini yang bagiku menjadi inti dari yang mungkin dimaksudkan Faustina. Sepintas Faustina sedang berbicara tentang penggunaan kamar tamu dan aturan menerima kunjungan. Namun semakin direnungkan, ia sebenarnya sedang berbicara tentang menjaga hati. Seseorang dapat meninggalkan dunia secara lahiriah, tetapi tanpa disadari masih bisa kembali ke sana melalui pikiran, kenangan, keterikatan, atau percakapan-percakapannya. Aturan yang dibuat Faustina bukan sekedar untuk membatasi relasi, bahkan dengan keluarga sekali pun, melainkan untuk menjaga kebebasan dan sekaligus kemurnian hati. Hati yang telah dipersembahkan kepada Tuhan perlu dijaga agar tetap utuh bagi-Nya.

Aku teringat akan perkataan Faustina: “Mereka yang sudah mati bagi dunia…” Mati bagi dunia bukan berarti berhenti mengasihi dunia. Justru sebaliknya, seorang religius dipanggil untuk mengasihi semua orang di dunia ini dengan kasih Kristus, namun tanpa kembali terikat oleh cara berpikir dan cara hidup dunia. Dan ini tidak mudah.Kita manusia biasa, juga pendosa, kita tidak kebal terhadap semua hal duniawi. Kita juga masih hidup di dunia. Karenanya, menjaga hati, dengan mengambil jarak dari relasi – relasi manusiawi yang mungkin bisa menodai, mengotori pikiran, hati dan jiwa. Memang, aturan pada zaman dulu, sangat berbeda dengan sekarang.Aturan biara kontemplatif juga tidak begitu sama dengan biara yang aktif bermisi seperti kami. Namun, dasar pemaknaan aturan masih dipertahankan sampai kini adalah menjaga hati.

Sekarang ini, meski di biara-biara masih ada klausura, dengan pintu -pintu yang selalu tertutup, namun umumnya sudah tak terhindarkan. Masih ada kamar tamu. Tetapi tamu-tamu lebih memilih berkunjung secara online di dunia maya melalui gawai. Klausura telah kehilangan peran. Tembok, pintu-pintu dan tirai-tirai bisa jadi hanya sebagai simbol dan hiasan. Alasan klasik demi hospitalitas. Tentu masih ada banyak biara yang cukup ketat aturan pemakaian gawai, ada juga yang cukup longgar.

Semakin aku merenungkan hal ini, semakin aku sadar bahwa hidup bakti bukan hanya soal meninggalkan sesuatu, tetapi yang paling utama adalah menjaga apa yang telah dipersembahkan kepada Tuhan dengan niat yang begitu mulia pada awalnya. Selalu perlu untuk menjaga hati, menjaga kasih mula-mula yang penuh kobaran kasih yang menyala kepada Tuhan. Menjaga kebebasan batin. Menjaga kesetiaan kepada Kristus.

Aku bertanya kepada diriku sendiri: adakah “percakapan-percakapan” yang tanpa kusadari membawa hatiku kembali kepada keterikatan lama? Adakah relasi atau kenangan yang perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Kristus saja? Tidak mudah hidup sebagai religius di masa sekarang daripada 30-an tahun yang lalu saat aku baru mulai perjalanan ini. Pada titik inilah, aku makin sadar, makin mengerti, dan sangat bersyukur, betapa besar kuasa kasih kerahiman Allah itu. Betapa.besar kebaikan dan kasih Tuhan yang maha rahim. Meski hatiku penuh noda dosa, tetapi selalu saja aku diterima kembali dalam pelukan kasih yang menyucikan.

Betapa berharganya, betapa bahagianya , betapa bersyukurnya , mengenal , mencintai.dan menghidupi devosi Kerahiman Ilahi. Sebab, sungguh dari diriku sendiri hanyalah hampa dan ketiadaan belaka. Hanya Kerahiman Ilahi tempat aku bersandar dan mengandalkan-Nya untuk memurnikan hati, jiwa dan ragaku dari noda dosa. Hanya dalam Dialah, relasi kasih dan hatiku selalu dipulihkan. Berani tinggalkan dunia dan semangatnya, dibutuhkan usaha dan rahmat untuk menjaga hati untuk tidak kembali melekat kepada dunia. Yesus, Engkau andalanku