RABU, PEKAN BIASA XV, PERINGATAN WAJIB ST. BONAVENTURA, USKUP DAN PUJANGGA GEREJA
Yes 10:5-7.13-16; Mzm 94:5-6.7-8.9-10.14-15; Mat 11:25-27

Hari ini Gereja merayakan St. Bonaventura, seorang uskup dan pujangga Gereja yang dikenal sebagai Doctor Seraphicus, yang menekankan bahwa hikmat sejati lahir dari kasih dan kerendahan hati. Bacaan liturgi menyingkapkan Allah yang berkuasa atas bangsa-bangsa, dan Yesus yang menegaskan bahwa rahasia Kerajaan Allah diwartakan kepada orang kecil dan sederhana.

Peristiwa kekalahan Israel terhadap Asyur dilihat oleh Nabi Yesaya sebagai tanda nyata Allah sudah menghukum Israel. Melalui tangan Asyur Allah menghukum Israel yang tidak setia. Namun, Nabi Yesaya juga menegaskan bahwa kekuatan Asyur itu berasal dari Allah. Maka Asyur tidak bisa membanggakan dirinya dan melihat bahwa semua itu terjadi karena kehebatannya. Melalui perbandingan tentang kapak, gergaji, gada, dan tongkat yang hanyalah alat, Yesaya mengingatkan bahwa Asyur hanya berguna jika ia berada di tangan Allah.

Dalam doa syukur yang sangat singkat, Yesus menyatakan secara amat jelas bahwa segala sesuatu bisa terjadi karena dan dalam kekuatan, maksud, dan rencana Allah. Tanpa Allah segala sesuatu tidak akan terjadi secara baik dan benar. Oleh karena itu, setiap orang dituntut untuk bersikap rendah hati dan terbuka sepenuhnya pada kekuatan, maksud, dan rencana Allah. Hanya orang yang berhati sederhana dan terbuka dalam sikap penuh syukur yang mampu memahami kekuatan, maksud, dan rencana Allah.

Sewaktu kecil, Bonaventura jatuh sakit. Ibunya menggendongnya untuk menemui St. Fransiskus Asisi. Fransiskus memberikan berkat dan berseru: “O Bonaventura”, artinya “betapa baik kejadian ini”. Seruan itu kemudian diabadikan sebagai nama Bonaventura. Bonaventura kemudian bergabung dengan ordo Saudara-saudara Dina Fransiskan. Ia kemudian diutus untuk belajar ke Paris. Ia termasuk orang yang cemerlang dalam belajar. Kalau orang bertanya dari mana ia mendapatkan kepandaian demikian hebat, ia hanya menunjuk salib Kristus. Baginya belajar berarti berdoa. Ia kemudian ditahbiskan menjadi imam. Karena kebijaksanaannya, ia dipilih sampai sembilan kali menjadi pimpinan ordo. Pada usia 52 tahun, ia diangkat menjadi kardinal. Ia menulis banyak karya yang sangat mendalam isinya.

Apakah hatiku telah terbuka untuk memahami kekuatan, maksud, dan rencana Allah dalam setiap peristiwa hidupku? Apakah salib Kristus telah menjadi kekuatan dan inspirasi hidup kita?
Hari ini kita diteguhkan oleh teladan St. Bonaventura yang mengajarkan bahwa hikmat sejati lahir dari kasih dan kerendahan hati. Mari kita hidup sebagai umat yang rendah hati, percaya pada kuasa Allah, dan setia dalam kasih Kristus. Mari membuka hati kita sepenuhnya, belajar dari St. Bonaventura untuk memahami kekuatan, maksud, dan rencana Allah yang terjadi dalam setiap peristiwa hidup kita.
Tuhan memberkati. RD AMT